Kompas.com - 22/08/2016, 14:23 WIB
|
EditorNi Luh Made Pertiwi F

BANGLI, KOMPAS.com - Pemakaman Trunyan yang berusia ratusan tahun, semakin menjadi daya tarik wisatawan. Keunikannya adalah di Pemakaman Trunyan tidak ada penguburan jenazah. Jenazah dibiarkan dalam posisi terbuka yang hanya dibalut dengan kain saja. Lokasinya berada di Desa Trunyan, Kintamani, Bangli, Bali.

Bagaimana transportasi dan suasana di pemakaman Trunyan? Untuk menuju Pemakaman Trunyan harus melewati Danau Batur menggunakan perahu motor dengan waktu 10-15 menit. Biaya penyeberangan, satu perahu motor bertarif sekitar Rp 1.250.000 (pulang pergi) yang bisa ditumpangi hanya 7 penumpang ditambah 2 awak perahu motor.

Penyewaan bisa didapatkan di beberapa dermaga di Danau Batur yang sudah dilengkapi dengan arah atau petunjuk di beberapa titik jalan. Ketika perahu motor sampai di lokasi Pemakaman Trunyan, kemudian naik ke daratan langsung di pintu gerbang kuburan.

Di pintu gerbang sudah disambut oleh pengurus kuburan dari desa adat Trunyan yang setiap harinya mengurus kedatangan dan panduan bagi wisatawan yang datang. Seperti yang dilakukan oleh Wayan Kedip, dengan ramah memberikan keterangan terkait Pemakaman Trunyan.

Seperti yang diceritakan Wayan Kedip bahwa hanya ada 11 kuburan. Jumlah ini memang sudah menjadi ketentuan secara turun temurun yang diwariskan oleh leluhurnya.

"Kuburannya hanya 11 kuburan saja. Bisa dilihat wajahnya tidak ditutupi. Silahkan, tidak apa-apa," kata Wayan Kedip, Truyan, Kintamani, Bangli, Bali, Minggu (21/8/2016).

Bagaimana jika ada warga sudah tua, sakit kemudian meninggal wajar dan harus diletakkan di pemakaman tanpa dikubur? Ternyata, tetap tidak akan menambah jumlah kuburan karena sudah ketentuan leluhur, tetapi dengan cara menggusur tempat jenazah orang lain yang lebih dulu diletakkan.

Siapa yang paling awal diletakkan di antara 11 jenazah tersebut, jenazah itulah yang akan dikeluarkan dari pekarangan kuburan. Tulang-tulangnya kemudian diletakkan di sekitar kuburan, begitu pun barang-barang bawaan seperti perabot dan busana pemberian keluarganya.

KOMPAS.com/SRI LESTARI Wayan Kedip saat memandu wisatawan yang berkunjung.
"Kalau ada yang meninggal wajar, ya kuburan yang lebih lama itu yang digeser. Tulang-tukangnya ya ditaruh di situ saja. Sekali pun jenazahnya masih ada dagingnya, ya harus bergilir," tambah Kedip.

Di sekitar kuburan berserakan tulang-tulangnya yang dikeluarkan dari pekarangan pemakaman karena ada jenazah lain yang secara bergiliran menempati. Selain tulang-tulangnya, ada puluhan tengkorak jenazah yang usianya sudah tua.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.