Asyiknya Menjelajah Medan di Antara Pesta Durian dan "Musim Kawin"…

Kompas.com - 29/09/2016, 23:03 WIB
Zainal Abidin (baju merah) alias Ucok pemilik usaha Durian Ucok di Kota Medan, Sumatera Utara, sedang memilihkan durian pesanan pelanggan, Kamis (25/8/2016) KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN MOZESZainal Abidin (baju merah) alias Ucok pemilik usaha Durian Ucok di Kota Medan, Sumatera Utara, sedang memilihkan durian pesanan pelanggan, Kamis (25/8/2016)
|
EditorPalupi Annisa Auliani

MEDAN, KOMPAS.com- 
Di Sumatera Utara, Medan memegang dua peranan penting. Selain dikenal sebagai tujuan wisata, kota ini juga dikenal sebagai kota transit.

Medan memang menjadi pintu gerbang utama menuju sejumlah daerah lainnya di provinsi tersebut, seperti ke Pulau Nias, Samosir, dan Tanah Karo. Wajar saja jika kota ini tak pernah sepi.

Sebagai kota metropolitan terbesar ketiga di Indonesia—setelah Jakarta dan Surabaya, Medan juga kerap didatangi tamu untuk kunjungan bisnis.  Beberapa tahun belakangan, Dinas Pariwisata Medan mulai fokus mengembangkan pasar 
Meeting, Incentive, Convention, dan Exhibition (MICE).

Sejak itulah, kota yang terkenal multietnis tersebut menjadi laiknya etalase Sumatera Utara. Di hotel-hotelnya budaya lokal mulai kain tenun ulos hingga irama musik khas daerah begitu mendominasi.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN MOZES Suasana di pelataran Masjid Raya Agung Medan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, wisatawan mancanegara pada Juni 2016 yang datang ke kota ini mencapai 15.084 orang. Sementara itu, wisatawan nusantara pada 2015 tercatat berjumlah 1.268.445 orang
.

Biasanya, jumlah kunjungan semakin meningkat saat musim libur tiba, terutama pada akhir tahun. Beruntung, daya hidup dan kreativitas warga Medan juga sudah menjadi unsur penggerak kota.

Sebagai informasi, obyek wisata kota saat ini lebih banyak dikelola perorangan atau yayasan. Salah satu contohnya adalah Istana Maimoon yang dikelola Yayasan Al Mahsum.

Kunjungan wisatawan ke tempat itu bisa mencapai 500 orang per hari. Bahkan, jumlahnya bisa berlipat hingga 1.000 orang pada akhir pekan.


Upaya pengelola untuk membuat museum itu menjadi magnet wisata ternyata memang cukup menarik. Di dalam istana seluas 2.772 meter persegi itu pengunjung bisa bersolek ala bangsawan Melayu.

Tersedia baju dan aksesori untuk disewa.  Para pengunjung dapat berfoto diri mengenakan pakaian para bangsawan itu.

KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN MOZES Gedung London Sumatera.

Lalu, ada juga Gedung London Sumatera, Tjong A Fie Mansion—kediaman saudagar besar di Medandan Rahmat International Wildlife Museum and Gallery yang menyimpan ribuan hewan telah diawetkan. Dua tempat ini dibuka untuk umum sekalipun milik pribadi.

Kreativitas seperti itu yang akhirnya membuat roda ekonomi di Medan pun berputar dan terus meningkat.

Pesta durian dan "musim kawin"

Saat bertandang ke Medan pada medio Agustus 2016, Kompas.com mendapati ada "musim" yang lain di kota ini dibandingkan tempat lain. Di tiap sudut terlihat penjual durian.

Pesta durian sedang puncak-puncaknya. Pada kurun Juni sampai November, buah eksotis berkulit duri dan berbau harum itu sedang panen di kawasan ini.

Bila tak ingin ketinggalan “musim” durian, pengunjung bisa menyempatkan mampir di salah satu warung durian terpopuler kota itu, “Ucok Durian”. Kedai yang buka 24 jam ini bukan main ramainya.

Kompas Video Manis Pahit Durian Ucok Medan
Zainal Abidin atau karib dipanggil Ucok, sang pemilik kedai, akan ramah melayani pengunjung.  
 
“Kalau di sini, makan durian boleh pilih. Lalu, boleh ditukar kalau tidak sesuai selera,” ujar Ucok saat disambangi, Kamis (25/8/2016).

Pilihan durian di Medan, lanjut Ucok, ada dua macam. Manis legit dan pahit.

Tapi, rasa pahit yang dimaksud Ucok bukan karena buah itu belum matang. Ini justeru khasnya, yaitu ada sedikit cita rasa getir dan bau menyengat yang mewarnai manis durian asli Medan.

Rupanya, pahit rasa durian berarti kandungan alkoholnya lebih terasa.

Sambil menyusuri seluk beluk kota Medan, wistawan bisa melihat gairah yang baru di setiap sudut kota ini. Apa lagi kalau bukan kedai kopi dan restoran?


Selain itu, wisatawan akan tercengang pula dengan iklan-iklan pada banyak baliho yang menghiasi sisi jalan. Beberapa yang tertempel di sekitar gerbang-gerbang hotel berisi informasi mengenai paket pernikahan.

Rupanya, akhir tahun merupakan musim kawin di sini. Di antara hotel-hotel yang kerap menjadi lokasi pernikahan adalah Santika Premiere Dyandra & Conventon Center (SDCC) adalah salah satunya.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X