Kompas.com - 03/10/2016, 16:35 WIB
|
EditorI Made Asdhiana

Sambil membawa sisa rambutan, kami menuju Pasar Kaget di Jalan Bangkatan atau Jalan Jenderal Ahmad Yani Binjai. Ini pasar isinya jejeran tenda-tenda pedagang makanan dan minuman segala jenis rupa yang buka hanya pada malam hari hingga menjelang dini hari saja.

Pedagangnya mulai etnis Tionghoa, Tamil dan pribumi. Kalau pagi, kawasan ini adalah deretan toko-toko yang didominasi pedagang etnis Tionghoa dan Tamil. Mereka berdagang kelontong dan alat-alat olah raga.

Teman saya mencoba seporsi sate padang seharga Rp 15.000, saya mencicipi sepiring mi rebus yang pedagangnya orang Tamil seharga Rp 8.000. Teman yang lain mencoba seporsi kodok hijau goreng. Koki yang memasaknya begitu piawai dan cekatan memasak kodok goreng.

Aroma bawang putih dan racikan bumbu lain terbang menusuk hidung, menggoda dan memastikan kelezatan, dan memang betul. Rasanya enak, dagingnya empuk, seperti makan burung goreng, harganya Rp 35.000.

Peminat makanan ini saya lihat kebanyakan anak-anak muda Tionghoa. Mereka menyakini kodok bisa menyembuhkan banyak penyakit.

Di balik Pasar Kaget ini adalah Jalan Jenderal Sudirman. Ini bisa dibilang pusat kotanya Binjai. Di sini sepanjang jalan berjejer toko-toko mulai toko obat, kain, elektronik, makanan sampai super market. Juga terdapat pasar tradisional, Pasar Tavip namanya. Tapi aktivitas hanya berlangsung hingga pukul lima sore, walau beberapa toko buka lebih lama.

Malam harinya, trotoar di depan toko-toko yang tutup itu diisi para pedagang kaki lima yang menjaja dagangan mulai kaus, sepatu hingga pernak-pernik. Layaknya Malioboro di Yogyakarta.

Kenyang, kami sepakat untuk mencari tempat santai atau nongkrong. Pilihannya adalah Lapangan Merdeka Binjai. Meski tak seluas Lapangan Merdeka Medan, lapangan ini cukup terawat dengan berbagai fasilitas olah raga yang lumayan lengkap. Sayang, kamar mandinya buruk.

KOMPAS.com/MEI LEANDHA Kalau jalan ini, malam hari berubah menjadi Malioboronya Kota Binjai.
Di sekitar lapangan, berdirilah kantor wali kota beserta rumah dinasnya. Kembali, lampu hias membuat apik suasana. Di salah satu sudut, menjadi pusat permainan anak-anak. Mulai delman, odong-odong, sampai mobil-mobilan ada. Delman dan odong-odong dihias lampu-lampu yang cantik.

Sekali keliling kota dikenai biaya Rp 25.000. Tidak hanya anak-anak peminatnya, hiburan rakyat murah meriah ini juga disukai kaum ibu. Alunan dangdut dan house musik yang hingar bingar tak membuat para penumpang terganggu, mereka malah asyik berjoget mengikuti alunan.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.