Kompas.com - 05/10/2016, 09:24 WIB
Sebagian besar warga Tarempa di Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau, membangun permukiman dan aneka fasilitas di atas laut. Permukiman itu, seperti tampak Agustus lalu, menyesuaikan dengan mata pencarian warga Anambas yang mayoritas terkait dengan laut. KOMPAS/KRIS RAZIANTO MADASebagian besar warga Tarempa di Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau, membangun permukiman dan aneka fasilitas di atas laut. Permukiman itu, seperti tampak Agustus lalu, menyesuaikan dengan mata pencarian warga Anambas yang mayoritas terkait dengan laut.
EditorI Made Asdhiana

LANGIT jingga dan kapal mengangguk-angguk diayun gelombang dapat dilihat dari kedai di tepi laut. Sambil menghirup kopi dalam cangkir porselen yang sudah kehilangan warna aslinya, suasana itu bisa dinikmati setiap pagi dan petang di Tarempa, kecamatan yang menjadi ibu kota Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau.

Apa pun pilihan waktunya, ketenangan hadir saat duduk di kedai-kedai tepi laut di ibu kota kabupaten terdepan Indonesia di Laut Tiongkok Selatan itu. Kedai-kedai terpusat di sekitar pelabuhan, titik penghubung utama Tarempa ke berbagai tempat lain sekaligus pusat keramaian kecamatan yang berada di salah satu teluk Pulau Siantan.

Sampai sekarang, hanya ada 21 mobil di seluruh Anambas. Semua sudah termasuk bus multifungsi, ambulans, dan truk pengangkut sampah. Transportasi utama di Anambas memang perahu dan kapal.

Tidak hanya untuk bergerak antarpulau, pergerakan dari satu sisi ke sisi lain pulau juga lebih banyak dengan perahu.

”Jalan di Tarempa terbatas. Lewat dua motor saja sudah penuh,” ujar Faisal Rangkuti, pria asal Sumatera Utara, yang sudah lama menetap di Siantan, satu dari tiga pulau besar Anambas.

Untuk mengangkut barang dan orang dalam jumlah banyak, lebih mudah menggunakan perahu. Hampir setiap rumah dan bangunan lain di kampung-kampung Anambas bisa dijangkau dengan perahu.

Rumah dan aneka bangunan dibangun di atas air. Tiang penyangga dibuat tinggi sehingga tersedia ruang cukup untuk lalu-lalang perahu. Di antara kelompok rumah dan aneka bangunan, juga masih tersedia ruangan untuk menambatkan perahu.

Selain menjadi penyangga pelantar, demikian orang Anambas menyebut hamparan dari papan atau beton di atas laut yang bisa difungsikan jadi lantai, teras, hingga dermaga, tiang-tiang juga menjadi tempat mengikat perahu selama berlabuh.

Kondisi geografis membuat Anambas lebih mungkin dijelajahi dengan perahu. Kabupaten itu punya 255 pulau dengan luas total 59.214 hektar. Sementara wilayah laut mencapai 4,6 juta hektar.

Pelesir di Anambas adalah tentang menikmati laut dan pesisir. Bermalam di kapal, tenda di tepi pantai, atau penginapan murah adalah pilihan tempat tidur bagi yang berminat keliling Anambas.

Bagi mereka yang lebih suka duduk melihat laut dan sesekali berenang, ada resor yang siap menampung. Seperti mayoritas bangunan di Anambas, resor-resor itu dibangun di atas laut.

Godaan Laut

Di Tarempa, bisa berenang atau tidak, orang akan tergoda untuk terjun ke laut dan berenang. Di tempat yang paling ramai kapal dan perahu sekalipun air laut tetap jernih. Apalagi, jika pelancong menuju tempat lebih sepi atau pulau belum dihuni.

 

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.