Kompas.com - 10/10/2016, 12:04 WIB
Gorengan tuli-tuli merupakan ciri khas salah satu gorengan yang ada di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Gorengan ini sangat nikmat bila disantap bersama keluarga dan keluarga. KOMPAS.com/DEFRIATNO NEKEGorengan tuli-tuli merupakan ciri khas salah satu gorengan yang ada di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Gorengan ini sangat nikmat bila disantap bersama keluarga dan keluarga.
|
EditorI Made Asdhiana

BUTON, KOMPAS.com - Tuli-tuli, bukanlah suatu sebutan kepada seseorang akibat gangguan pendengaran, melainkan salah satu gorengan yang rasanya sangat nikmat. Gorengan ini sangat mudah dijumpai di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara.

Gorengan yang berbentuk angka delapan ini merupakan makanan favorit bagi penduduk Pulau Buton karena rasanya yang gurih dan tidak asam. Apalagi gorengan tuli-tuli dinikmati dengan sambal goreng, rasanya maknyus.

Di Kota Baubau, gorengan tuli-tuli hampir dijumpai di setiap sudut kota dan dijual dengan harga yang sangat terjangkau yakni Rp 1.000 per gorengan.

Menurut seorang penjual gorengan di Kelurahan Bure, Kecamatan Kokalukuna, Imawati (43), tuli-tuli sangat banyak peminatnya. “Banyak yang suka makan tuli-tuli di sini. Apalagi rasanya juga gurih dan tidak asam. Membuat tuli-tuli ini tidaklah terlalu susah,” kata Imawati.

Untuk membuat gorengan tuli-tuli ini pertama-tama ambilah beberapa batang ubi kayu secukupnya. Ubi kayu tersebut kemudian dihaluskan dengan cara diparut. Setelah itu, ubi kayu yang sudah halus dimasukkan dalam kain bersih kemudian ditekan kuat agar airnya keluar hingga mengering.

Ubi kayu yang sudah dikeringkan kemudian dibelah menjadi dua bagian. Bagian pertama dicampurkan dengan air secukupnya, irisan bawang merah, dan garam, terus dipanasi hingga menjadi adonan yang kental. Setelah itu dicampurkan dengan sebelah parutan ubi kayu yang sudah mengering.

“Keduanya dicampur dengan menggunakan tangan. Kalau adonan sudah tercampur seperti adonan roti, baru diambil satu bulatan kecil dan dibuat bulatan panjang mengecil. Kemudian kita bentuk seperti angka delapan,” ujar Imawati.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kemudian bulatan berbentuk angka delapan itu digoreng dengan minyak secukupnya. Sambil digoreng, sebaiknya juga meracik sambal goreng. Nah bila sudah matang, maka tuli-tuli sudah bisa disantap.

Wahyuni, seorang penggemar tuli-tuli mengatakan, gorengan tuli-tuli sangat nikmat saat disantap sore hari bersama teman-teman.

“Banyak pendatang ke sini pasti ingin mencoba gorengan tuli-tuli ini. Ini sangat mantap bila dimakan bersama teman-teman ataupun keluarga di sore hari,” ucapnya.

Nah bagi Anda yang melakukan perjalanan ke Pulau Buton, rasanya tak lengkap bila tak mencoba gorengan khas Pulau Buton ini. 



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X