Kompas.com - 26/10/2016, 22:55 WIB
Sejumlah wisatawan asal Darwin, Australia yang menggunakan pesawat carteran, disambut dengan tarian adat di Bandara El Tari Kupang, Nusa Tenggara Timur, Minggu (2/10/2016).  ARSIP HUMAS PT ANGKASA PURA I BANDARA EL TARI KUPANG Sejumlah wisatawan asal Darwin, Australia yang menggunakan pesawat carteran, disambut dengan tarian adat di Bandara El Tari Kupang, Nusa Tenggara Timur, Minggu (2/10/2016).
|
EditorI Made Asdhiana

KUPANG, KOMPAS.com - Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) NTT, Abed Frans mengaku kecewa dengan sejumlah pihak di Pelabuhan Tenau Kupang, yang dinilainya menghambat perjalanan wisata 54 turis asal Australia yang mengunjungi beberapa destinasi wisata di Kota Kupang.

"Ada 150 wisatawan asal Australia ini datang dengan menggunakan kapal pesiar dan bersandar di Pelabuhan Tenau sekitar pukul 06.00 Wita. Kemudian 54 turis, turun ke darat dan sesuai jadwal, akan mengunjungi empat tempat yakni di Oebelo, Pantai Lasiana, Museum NTT dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah NTT," kata Frans kepada sejumlah wartawan, Rabu (26/10/2016).

(BACA: Garuda Indonesia Didesak Buka Rute Kupang-Darwin)

Namun, lanjut Frans, para turis itu hanya berkunjung ke dua tempat wisata, karena saat berada di Pelabuhan Tenau, proses pemeriksaan kesehatan dan sejumlah pemeriksaan lainnya yang dilakukan oleh Karantina, Imigrasi dan Pelindo belangsung lebih dari dua jam sehingga waktu pun menjadi molor.

“Semua akhirnya terganggu dari awal, karena mereka dihambat selama dua jam di pelabuhan, kemudian kita tidak bisa masuk dan merapat ke kapal untuk menjemput para wisatawan, sehingga akhirnya mereka harus jalan kaki keluar sekitar 300 meter dan para wisatawan itu kebanyakan adalah lanjut usia. Mereka pun hanya mengunjungi dua lokasi saja,” ungkap Frans kecewa.

(BACA: Carter Pesawat, 40 Turis Australia Kunjungi NTT)

Padahal, menurut Frans, pihaknya sudah menyiapkan penyambutan para turis dengan tarian dan musik di gedung Dewan Kerajinan Nasional Daerah NTT.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selain itu, di tempat ini sangat representatif untuk dikunjungi, karena milik pemerintah dan hasil kerajinan tangan lokal sudah ada dan siap dijual. Akibat molornya waktu, berdampak pada hilangnya kepercayaan dan pihaknya dikomplain terus.

Para wisatawan ini masuk melalui Dili (Timor Leste), selanjutnya masuk Kupang dan rencananya akan melanjutkan perjalanan ke Pulau Komodo.

“Mereka mengeluh karena ini pelayanan di pelabuhan terhadap turis asing ini adalah terburuk. Tour leader yang ada di dalam kapal bersama para wisatawan terus melakukan komplain soal keterlambatan waktu ini. Kalau Kupang jadi pelayanan terburuk seperti ini, maka mereka besok tidak akan datang lagi. Kita sudah sudah susah cari mitra di luar negeri untuk bawa banyak wisatawan ke sini tapi mereka malah seenaknya membuat para turis menjadi tidak nyaman,” kata Frans.

Ia pun berharap, kalau bisa pelayanan di Pelabuhan Tenau bisa lebih baik lagi untuk menunjang arus kunjungan wisatawan ke ke NTT. “Bagaimana kita mau melayani 3.000 wisatawan yang akan datang beberapa bulan lagi, jika 54 orang saja pelayanan buruk seperti ini,” tegasnya.

“Memang tidak ada kerugian material, tetapi kerugian imaterial atau kepercayaan ini yang mahal, karena saya tidak tahu ke depannya akan seperti apa. Saya harus membuka komunikasi kembali dan itu adalah sesuatu yang mahal. Bisa bayangkan kita membawa mereka ke Kupang dengan segala negosiasi dan janji-janji kita tentang pelayanan yang terbaik nyatanya seperti ini tentu ini sangat mengecewakan,” sambungnya.

Terhadap hal itu, Frans berencana akan bertemu dengan Gubernur NTT Frans Lebu Raya  untuk menyampaikan langsung persoalan ini.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Geser Paris, Tel Aviv Kini Jadi Kota Termahal di Dunia

Geser Paris, Tel Aviv Kini Jadi Kota Termahal di Dunia

Travel Update
NTB Kembangkan Wisata Olahraga, Bisa Contek Kunci Kesuksesan Perancis

NTB Kembangkan Wisata Olahraga, Bisa Contek Kunci Kesuksesan Perancis

Travel Update
Nglanggeran Sukses Wakili Indonesia dalam Daftar Desa Wisata Terbaik UNWTO 2021

Nglanggeran Sukses Wakili Indonesia dalam Daftar Desa Wisata Terbaik UNWTO 2021

Travel Update
Libur Nataru, Kapasitas Tempat Wisata DIY 25 Persen dan Tak ada Perayaan Tahun Baru

Libur Nataru, Kapasitas Tempat Wisata DIY 25 Persen dan Tak ada Perayaan Tahun Baru

Travel Update
Rute The Beach Love Bali dari Bandara Ngurah Rai

Rute The Beach Love Bali dari Bandara Ngurah Rai

Travel Tips
Malaysia Batasi Pelaku Perjalanan dari Negara Berisiko Tinggi Omicron

Malaysia Batasi Pelaku Perjalanan dari Negara Berisiko Tinggi Omicron

Travel Update
Kawasan Heritage Depok Lama Akan Dikembangkan Jadi Tempat Wisata Sejarah

Kawasan Heritage Depok Lama Akan Dikembangkan Jadi Tempat Wisata Sejarah

Travel Update
Korea Selatan Terapkan Karantina 10 Hari untuk Seluruh Kedatangan Internasional

Korea Selatan Terapkan Karantina 10 Hari untuk Seluruh Kedatangan Internasional

Travel Update
Borobudur Marathon Bisa Jadi Contoh Pengembangan Sport Tourism di NTB

Borobudur Marathon Bisa Jadi Contoh Pengembangan Sport Tourism di NTB

Travel Update
Thailand Tetap Wajibkan Tes PCR untuk Turis Asing

Thailand Tetap Wajibkan Tes PCR untuk Turis Asing

Travel Update
Budayawan Sebut Lombok NTB Berpotensi Jadi Destinasi Wisata Budaya

Budayawan Sebut Lombok NTB Berpotensi Jadi Destinasi Wisata Budaya

Travel Update
Akademisi Sebut Kemajuan Pariwisata Mandalika Jangan Bikin Daerah Lain Dilupakan

Akademisi Sebut Kemajuan Pariwisata Mandalika Jangan Bikin Daerah Lain Dilupakan

Travel Update
Swiss Larang Penerbangan dari 7 Negara akibat Omicron

Swiss Larang Penerbangan dari 7 Negara akibat Omicron

Travel Update
Cara Perancis Manfaatkan Acara Olahraga untuk Promosi Produk Lokal

Cara Perancis Manfaatkan Acara Olahraga untuk Promosi Produk Lokal

Travel Update
Berpotensi Gelar Sport Tourism, Pemprov NTB Bisa Tiru Perancis

Berpotensi Gelar Sport Tourism, Pemprov NTB Bisa Tiru Perancis

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.