Arsitektur "Homestay", Satu Lagi Modal untuk 10 Destinasi Prioritas

Kompas.com - 29/10/2016, 10:26 WIB
Kriss Iba Homestay di Batanta, Raja Ampat. Kriss Iba Homestay di Batanta, Raja Ampat.
|
EditorSri Noviyanti


KOMPAS.com
- Homestay alias rumah wisata menjadi konsep terkini yang melekat pada pengembangan destinasi wisata Indonesia. Tak asal ada, konsep ini pun mengedepankan estetika sekaligus kesesuaian dengan lokasi wisatanya, sampai digelar sayembara untuk arsitekturnya.

"Saya ingin nanti karya-karya mereka (para pemenang sayembara) diabadikan dalam desain arsitektur nusantara di 10 top destinasi yang akan dibangun homestay,” kata ungkap Menteri Pariwisata Arief Yahya, Selasa (25/10/2016), tentang hasil sayembara itu.

Kementerian Pariwisata bersama Badan Ekonomi Kreatif menggelar Sayembara Arsitektur Nusantara dengan total hadiah senilai Rp 1 miliar, yang hasilnya diumumkan pada Selasa malam itu.

"(Penggunaan hasil rancangan) ini akan membuat mereka (para pemenang) semakin bangga dengan karyanya yang menjadi daya tarik atau atraksi wisata tersendiri,” lanjut Arief.

Sebelumnya, saat peluncuran sayembara di Jakarta Convention Centre (JCC), Jumat (22/7/2016), Arief menyatakan, arsitektur nusantara dipilih sebagai tema sayembara ini karena seni dan budaya membangun rumah adat di Indonesia itu sangat beragam.

Ratusan jumlah suku memiliki ratusan model arsitektur pula. Namun, lanjut Arief, heritage design itu makin tergusur oleh model-model minimalis yang menyerbu di hampir semua kota di tanah air, termasuk daerah-daerah yang diproyeksikan menjadi kawasan pariwisata.

Arief mencontohkan atap rumah begonjong di Minang Kabau sudah mulai susah dicari, bahkan di Bukittinggi, Sumatera Barat.

Begitu pula arsitektur di daerah lain, seperti Rumah Adat Bolon Toba, rumah Bolon Simalungun, rumah Bolon Karo, rumah Bolon Mandailing, rumah Bolon Pakpak, dan rumah Bolon Angkola, yang bahkan namanya pun sudah tak banyak dikenali orang.

arsitekturnusantara.propanraya.com Sayembara Arsitektur Nusantara 2016

Langkah melestarikan dan mengembangkan desain arsitektur nusantara untuk pariwisata prioritas, ungkap Arief, juga bertujuan melahirkan ikon-ikon desain bangunan dan infrastruktur lingkungan yang menjadi daya tarik bagi para wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia.

”Desain yang mampu mengikuti tuntutan modern, tetapi tidak meninggalkan keunikan dan kearifan lokal budaya setempat,” harap Arief.

Tidak kuno lagi

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X