Kompas.com - 08/11/2016, 16:15 WIB
Lokomotif uap mendorong gerbong kereta wisata saat menanjak dari Stasiun Jambu menuju Stasiun Bedono, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Kamis (27/10/2016). Jalur kereta api Ambarawa-Bedono kembali dioperasikan setelah hampir dua tahun diperbaiki. KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASALokomotif uap mendorong gerbong kereta wisata saat menanjak dari Stasiun Jambu menuju Stasiun Bedono, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Kamis (27/10/2016). Jalur kereta api Ambarawa-Bedono kembali dioperasikan setelah hampir dua tahun diperbaiki.
EditorI Made Asdhiana

JALUR kereta api berpenampang gerigi, antara Stasiun Jambu dan Stasiun Bedono, di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, bukan cuma langka karena hanya dimiliki tiga negara di dunia. Rel itu juga jadi saksi jejak sejarah perdagangan hasil bumi di perbukitan Kedu utara. Kini, jalur itu dihidupkan lagi guna memantik wisata sekaligus romansa.

"Tuuuut...tuuuut...tuuuut." Suara klakson Si Boni, lokomotif uap buatan 1902, membelah sunyi perbukitan kopi, berpayung mendung bulan Oktober.

Belasan bocah berlarian di tepi rel mengiringi lokomotif yang mendorong dua gerbong kayu mendekati stasiun kuno Bedono itu. Pekerja kebun dan warga desa berhenti sejenak, melambaikan tangan, memekik girang. Suara klakson itu lama dirindukan.

”Tadi dengar suara kereta uap dari jauh. Saya langsung lari, kepengin lihat. Sudah lama enggak lewat sini lagi,” kata Wasriyanto (68), warga Desa Bedono, Kecamatan Jambu. Ia adalah pekerja kebun kopi Banaran, PT Perkebunan Nusantara IX.

Dua lokomotif uap seri B2502 dan B2503 itu sejak 1990-an diberi nama Si Boni dan Si Bobo oleh Kepala Stasiun Ambarawa saat itu.

Namun, bagi penduduk sekitar lereng Gunung Telomoyo, di perbatasan Kabupaten Semarang dan Magelang, kereta uap itu tak sekadar kereta wisata. Kereta ini puluhan tahun menopang urat nadi perekonomian warga yang sebagian bertani kopi dan cokelat.

Wasriyanto bercerita, sekitar 1960, kereta uap masih mengangkut hasil kopi dari perkebunan Banaran menuju Ambarawa, terus ke Semarang. Saat itu, jalan Magelang-Semarang belum sebagus sekarang. Anak seusianya acap kali menumpang kereta hingga Ambarawa lalu balik lagi ke Bedono.

Saat mengikuti perjalanan Si Boni dari Stasiun Ambarawa menuju Bedono, Kamis (27/10/2016), tersaji kekayaan alam lereng Telomoyo. Selepas Stasiun Ambarawa, setelah menyusuri permukiman di Desa Ngampin, tersaji hamparan sawah hijau. Di kejauhan tampak puncak Gunung Ungaran dan Gunung Merbabu menjulang.

Memasuki Stasiun Jambu, kereta sempat berhenti untuk langsir lokomotif. Lokomotif yang sebelumnya di depan menarik dua kereta kayu bermuatan 100 orang dipindah ke belakang. Posisinya mendorong gerbong karena akan memasuki jalur menanjak. Lokomotif akan kembali dipindah ke depan rangkaian saat turun ke arah Ambarawa.

Dari Stasiun Jambu, kereta berjalan melambat. Bunyi derit roda kereta beradu dengan rel besi, riuh memecah sunyi kebun kopi dan coklat.

Udara beranjak sejuk memasuki lereng Gunung Telomoyo setinggi 1.894 meter di atas permukaan laut (mdpl). Rumpun biji merah kopi menjadi teman perjalanan hingga memasuki Stasiun Bedono, yang dibangun 1873.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sandiaga Uno: TMII Sedang Ditata Ulang untuk Hadirkan Wajah Baru

Sandiaga Uno: TMII Sedang Ditata Ulang untuk Hadirkan Wajah Baru

Travel Update
5 Penginapan di Sentul dengan Pemandangan Alam, Cocok untuk Keluarga

5 Penginapan di Sentul dengan Pemandangan Alam, Cocok untuk Keluarga

Jalan Jalan
Aturan Terbaru Aktivitas di Mal dan Bioskop untuk Wilayah Jabodetabek

Aturan Terbaru Aktivitas di Mal dan Bioskop untuk Wilayah Jabodetabek

Travel Update
 5 Hotel Instagramable di Jakarta, Asyik buat Staycation

5 Hotel Instagramable di Jakarta, Asyik buat Staycation

Jalan Jalan
10 Restoran Termahal di Dunia, Harga Menunya Rp 24,9 Juta per Orang

10 Restoran Termahal di Dunia, Harga Menunya Rp 24,9 Juta per Orang

Jalan Jalan
52 Kantor Imigrasi Ini Sudah Bisa Terbitkan Paspor Elektronik

52 Kantor Imigrasi Ini Sudah Bisa Terbitkan Paspor Elektronik

Travel Update
Rute ke Wisata Siti Sundari Lumajang, Tempat Makan Romantis di Tengah Hutan

Rute ke Wisata Siti Sundari Lumajang, Tempat Makan Romantis di Tengah Hutan

Travel Tips
Sandiaga Minta Garuda Indonesia Buka Penerbangan Langsung ke Jepang

Sandiaga Minta Garuda Indonesia Buka Penerbangan Langsung ke Jepang

Travel Update
Indonesia Buka Peluang Kerja Sama Travel Bubble dengan Jepang

Indonesia Buka Peluang Kerja Sama Travel Bubble dengan Jepang

Travel Update
Harga Tiket dan Jam Buka Wana Wisata Siti Sundari Lumajang, Sangat Terjangkau

Harga Tiket dan Jam Buka Wana Wisata Siti Sundari Lumajang, Sangat Terjangkau

Travel Tips
Kritik Sandiaga Uno soal Tarif Parkir Bus Rp 350.000 di Malioboro

Kritik Sandiaga Uno soal Tarif Parkir Bus Rp 350.000 di Malioboro

Travel Promo
13 Syarat Travel Bubble Singapura ke Indonesia yang Dimulai 24 Januari 2022

13 Syarat Travel Bubble Singapura ke Indonesia yang Dimulai 24 Januari 2022

Travel Update
Harga Tiket KA Murah Jurusan Yogyakarta-Purwokerto, Mulai Rp 70.000

Harga Tiket KA Murah Jurusan Yogyakarta-Purwokerto, Mulai Rp 70.000

Travel Update
Harga Tiket Malang Night Paradise, Wisata Malam yang Instagramable

Harga Tiket Malang Night Paradise, Wisata Malam yang Instagramable

Jalan Jalan
5 Air Terjun Yogyakarta yang Hanya Ada Saat Musim Hujan

5 Air Terjun Yogyakarta yang Hanya Ada Saat Musim Hujan

Travel Promo
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.