Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 01/12/2016, 06:05 WIB
|
EditorSri Anindiati Nursastri

KompasTravel sendiri sempat menemukan seorang pendaki yang urung mendaki Gunung Kinabalu selepas Timpohon Gate. Rooney menyebut pendaki tersebut terkena gejala AMS berupa pusing dan mual.

Beberapa cerita pendaki terkena AMS di Gunung Kinabalu juga sempat KompasTravel ketahui dari rekan yang pernah mendaki gunung itu. Pada 2013, seorang pendaki Indonesia, Ivy dipaksa turun ke tempat yang lebih rendah karena pusing dan muntah-muntah.

Rooney mencatat, biasanya pendaki mengalami gejala AMS sebelum mencapai pos dua yakni Pondok Ubah di ketinggian 2.095 mdpl. Biasanya pendaki-pendaki tersebut, lanjut Rooney, terlalu bersemangat mendaki Gunung Kinabalu selepas Timpohon Gate.

Memang diakui Rooney jalur pendakian Gunung Kinabalu terbilang landai. Hal itu membuat pendaki sering kali memacu langkah terlalu cepat.

KompasTravel sendiri mengalami perpindahan ketinggian yang terlalu cepat bahkan sejak mulai berada di Kinabalu Park Headquarter di ketinggian 1.564 mdpl menuju Timpohon Gate. KompasTravel bersama pendaki lain diantar menggunakan mobil menuju ketinggian 1.866 mdpl.

BACA JUGA: Ini Perbedaan Jalur Pendakian Gunung Kinabalu Pasca-gempa 2015

Perpindahan ketinggian sekitar 300 meter secara vertikal tersebut ditempuh lebih kurang perjalanan 15 menit. Dalam waktu singkat tersebut, kemampuan tubuh untuk aklimatisasi harus dioptimalkan.

AMS sendiri biasanya terjadi karena semakin tinggi suatu dataran, tekanan atmosfer akan semakin menurun. Hal itu mengakibatkan ketersediaan oksigen di udara menipis.

Dengan demikian, paru-paru dan jantung harus bekerja sangat keras untuk mengkompensasi tipisnya oksigen. Jika pendaki terlalu cepat naik ke ketinggian tertentu tanpa adanya proses adaptasi tubuh atau aklimatisasi, di situlah AMS bisa menyerang.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+