Kompas.com - 09/12/2016, 10:42 WIB
Bangunan bekas Stasiun Takalar yang kini difungsikan sebagai rumah tinggal di Kelurahan Takalar, Kecamatan Mappakasunggu, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, seperti terlihat, Kamis (17/11/2016). Stasiun itu merupakan satu dari dua bangunan yang masih tersisa dari jalur kereta api Makassar-Takalar yang beroperasi tahun 1922-1930.
KOMPAS/MOHAMAD FINAL DAENGBangunan bekas Stasiun Takalar yang kini difungsikan sebagai rumah tinggal di Kelurahan Takalar, Kecamatan Mappakasunggu, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, seperti terlihat, Kamis (17/11/2016). Stasiun itu merupakan satu dari dua bangunan yang masih tersisa dari jalur kereta api Makassar-Takalar yang beroperasi tahun 1922-1930.
EditorI Made Asdhiana

SORE hendak beranjak. Dalam keheningan dan temaram di Desa Takalar, Kecamatan Mappakasunggu, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Halifah (35) bertutur tentang rumahnya.

Ternyata rumahnya adalah bekas Stasiun Kereta Api Takalar, yang dibuat tahun 1922, pada masa kolonial Hindia Belanda, dan kini masih kokoh berdiri.

”Saya tahu dari cerita orang-orang di sini bahwa rumah ini dulunya stasiun kereta api. Sebelum menjadi rumah tinggal kami, bangunan ini sempat menjadi rumah sakit bersalin, kira-kira 10 tahun lalu,” ujar Halifah, Kamis (17/11/2016).

Selama 10 tahun terakhir, Halifah menghuni bekas stasiun tersebut. Halifah adalah bidan dan pegawai honorer puskesmas di Desa Takalar.

Tidak sulit untuk mengenali bangunan rumah Halifah yang adalah bekas stasiun kereta api. Bentuknya mirip dengan Stasiun Jongaya di Kota Makassar.

Stasiun akhir

Stasiun Takalar merupakan stasiun akhir jalur kereta api Makassar-Takalar sepanjang 47 kilometer. Perusahaan milik pemerintah Hindia Belanda, Staatstramweg op Celebes, mengoperasikan kereta api di jalur ini selama delapan tahun, 1922 hingga 1930.

Pada masa Hindia Belanda, jalur kereta Makassar-Takalar memiliki delapan halte (sekarang dikenal sebagai stasiun) dan 12 stopplats (perhentian, sekarang dikenal sebagai halte). Sebagian besar stasiun dan halte ini sudah runtuh.

Stasiun Jongaya serta Stasiun Takalar merupakan dua bangunan stasiun lama yang masih terawat. Keduanya menjadi jejak sejarah peradaban di Sulawesi Selatan yang pernah dirambah jasa transportasi massal kereta api.

Kini, pemerintah berusaha menghidupkan kembali perkeretaapian di Sulawesi, yang dimulai dengan proyek Trans-Sulawesi dari Makassar sampai Parepare.

Stasiun Takalar berada di kawasan pesisir Cilalang, Desa Takalar. Pada masanya, stasiun ujung, seperti Stasiun Takalar, dilengkapi meja putar lokomotif dan sarana lainnya, seperti dipo untuk perawatan lokomotif ataupun gerbong serta sarana bak penampungan air untuk ketel uap lokomotif.

Nurdin (71), warga yang tinggal tak jauh dari bekas Stasiun Takalar, menunjukkan beberapa bekas sarana perkeretaapian tersebut. Lokasinya terletak di sebelah selatan stasiun, mendekat ke arah pantai. Hampir semua bangunannya sudah rata dengan tanah.

Ada sisa bangunan beton berbentuk kotak yang cukup besar. Menurut Nurdin, benda itu adalah bekas bak penampungan air untuk ketel uap lokomotif. Tak jauh dari situ, terdapat bekas bangunan yang menyisakan potongan dinding dan lantai berkeramik yang dahulu sebagai kamar mandi.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X