Transit di Bandara Dubai? Manfaatkan "Stopover" dan Jelajahi Dubai

Kompas.com - 11/12/2016, 21:26 WIB
KOMPAS.com/NI LUH MADE PERTIWI F Marina di Dubai, Uni Emirat Arab.

DUBAI, KOMPAS.com - "Eh, gue pernah ke Dubai, tapi cuma di bandaranya," sahut Rifki, sambil tertawa. Rifki bukan satu-satunya orang Indonesia yang ke kota Dubai, Uni Emirat Arab, hanya di bandara saja.

Dari lima orang teman dan rekan kerja penulis yang pernah ke Dubai, kelimanya mengaku hanya berada di Bandara Dubai untuk transit dan menunggu pesawat berikutnya. Tak heran, Dubai merupakan kota transit bagi wisatawan Indonesia.

Bandara Dubai adalah hub yang menghubungkan Indonesia ke negara-negara di Eropa, Afrika, hingga Amerika. Salah satu maskapai penerbangan yang kerap digunakan orang Indonesia yaitu Emirates, memiliki penerbangan dari Jakarta dan Bali menuju berbagai negara di dunia dengan transit di Bandara Dubai.

(BACA: Jalan-jalan ke Dubai, Mampiri 3 Tempat Ini)

Emirates sendiri merupakan penerbangan asal Uni Emirat Arab. Tentu saja Dubai pun menjadi homebase maskapai ini. Wisatawan Indonesia kerap harus menghabiskan waktu berjam-jam di Bandara Dubai menunggu penerbangan koneksi berikutnya.

KOMPAS.com/NI LUH MADE PERTIWI F Palm Jumeirah Monorail di Dubai. Dari sini turis menikmati pemandangan kawasan Palm Jumeirah.
Namun sebenarnya wisatawan bisa saja memanfaatkan stopover yang ditawarkan Emirates. Jika menggunakan stopover ini, wisatawan bisa keluar dari Bandara Dubai dan menjelajahi kota Dubai. Nah, kira-kira perlu berapa hari untuk menjelajahi kota Dubai?

"Saya rasa tiga hari cukup untuk mengenal Dubai pertama kali," kata Kevin Cole, Public Relations Manager Emirates, kepada KompasTravel, saat ditemui di markas Emirates di Dubai, Uni Emirat Arab, akhir November lalu.

Ia mengakui bahwa Dubai lebih dikenal sebagai destinasi transit dibanding sebagai destinasi utama yang dituju. Namun ia melihat belakangan mulai banyak penumpang Emirates memanfaatkan fasilitas stopover untuk menjelajahi kota Dubai.

Fasilitas stopover biasa ditawarkan maskapai penerbangan untuk singgah sejenak di negara transit yang menjadi homebase maskapai tersebut. Waktu singgah tersebut bisa dimanfaatkan untuk menjelajahi destinasi transit tersebut. Lamanya bisa dari 24 jam hingga beberapa hari, biasanya tidak lebih dari tiga hari.

Kompas.com/Ni Luh Made Pertiwi F. Cincin terbesar di dunia
Dengan fasilitas stopover, wisatawan bisa menjelajahi tempat-tempat wisata di kota transit sebelum melanjutkan ke negara tujuan utama. Misalnya dari Jakarta ke Amsterdam, Anda transit di Dubai dan manfaatkan stopover selama tiga hari untuk keluar dari Bandara Dubai dan menjelajahi kota ini.

Tentu ada harganya untuk memanfaatkan fasilitas ini. Namun, terbilang murah karena ini ibaratnya tepok dua negara dalam satu perjalanan. Untuk wisatawan Indonesia, pastikan Anda memiliki visa transit 96 jam.

Khusus penumpang Emirates, Anda bisa melakukan pengajuan visa transit bisa melalui situs resmi Emirates. Emirates akan bertindak sebagai semacam "sponsor" untuk kemudahan mendapatkan visa.

Sebenarnya, Emirates juga menyediakan fasilitas Dubai Connect. Jika penumpang harus menunggu di atas 8 jam, pihak Emirates akan menyediakan hotel, makan, antar jemput, termasuk visa secara gratis. Tentu, sebelumnya penumpang perlu memesannya terlebih dahulu.

KOMPAS.com/NI LUH MADE PERTIWI F Burj Al Arab adalah sebuah hotel mewah di Dubai, Uni Emirat Arab.
Seperti saran Kevin, Anda bisa stopover selama tiga hari. Lalu ke mana saja selama tiga hari? Hari pertama cobalah berkeliling kota dengan menggabungkan unsur old city dan new city.

New city artinya melihat sisi modern Dubai. Kunjungan bisa ke Dubai Marina, Palm Jumeirah,  Burj Al Arab, hingga ke Dubai Mall dan Burj Khalifa. Sebaliknya, unsur Dubai dengan wajah tradisional alias old city bisa Gold Shouk, Spices Shouk, Dubai Creek, hingga ke kawasan Bastakiya.



Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorI Made Asdhiana

Close Ads X