Kompas.com - 23/12/2016, 13:26 WIB
Wisatawan berpose dengan latar belakang kereta api listrik bergerigi (cogwheel) rute Jungfraujoch-Kleine Scheidegg yang tengah melaju di dinding Pegunungan Alpen, Swiss, pertengahan September lalu. Kereta api yang dikelola Jungfrau Railway ini merupakan satu-satunya transportasi menuju tempat wisata Jungfraujoch yang disebut juga top of Europe.
KOMPAS/YOVITA ARIKAWisatawan berpose dengan latar belakang kereta api listrik bergerigi (cogwheel) rute Jungfraujoch-Kleine Scheidegg yang tengah melaju di dinding Pegunungan Alpen, Swiss, pertengahan September lalu. Kereta api yang dikelola Jungfrau Railway ini merupakan satu-satunya transportasi menuju tempat wisata Jungfraujoch yang disebut juga top of Europe.
EditorI Made Asdhiana

SETELAH selesai makan pagi di hotel, kami berjalan menuju Interlaken Ost, salah satu stasiun kereta api di kota Interlaken, Swiss. Udara pagi itu sekitar 16 derajat celsius, terasa sejuk ditingkahi sepoi angin dingin dan hangatnya sinar matahari. Sekitar 5 menit kemudian, pukul 08.30 setempat, kami tiba di stasiun.

”Sudah siap ke puncak Eropa? Pakai baju berapa lapis? Saya pakai dua lapis, ditambah jaket dan sarung tangan ini, karena udara di atas sangat dingin,” kata Pen Tiyawarakul, Perwakilan Jungfrau Railway di Thailand, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Vietnam pertengahan September lalu, sambil menunjukkan jaket dan sarung tangan musim dingin yang dibawanya.

Ya, hari itu, kami rombongan wartawan dari sejumlah negara hendak ke Jungfraujoch, tempat wisata dan stasiun riset ilmiah di Pegunungan Alpen yang berada di ketinggian 3.454 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Kami diundang untuk menonton pertandingan bola basket dengan bintang utama Tony Parker. Sebagai orang yang tinggal di negara tropis, saya dan beberapa wartawan dari Asia Tenggara mengenakan pakaian berlapis dua plus membawa jaket musim dingin.

Pukul 08.35 waktu setempat, kereta api listrik yang akan membawa kami ke Stasiun Lauterbrunnen pun tiba. Pendakian kami dari Interlaken yang berada di ketinggian 570 mdpl menuju Jungfraujoch menggunakan kereta api harus melewati dua stasiun, yaitu Lauterbrunnen (795 mdpl) dan Kleine Scheidegg (2.061 mdpl).

Sepanjang perjalanan selama sekitar 1 jam tersebut, kami dimanjakan dengan pemandangan hamparan rumput hijau di Pegunungan Alpen dan juga rumah-rumah tradisional penduduk setempat.

Mark Rufibach dari Jungfrau Tourism menjelaskan mengenai pariwisata di Pegunungan Alpen yang menjadi andalan Swiss, termasuk kawasan pedesaan dengan rumah-rumah tradisionalnya tersebut.

Awalnya, kata Mark, andalan utama pariwisata di Pegunungan Alpen adalah tawaran untuk bermain ski di sejumlah puncak pegunungan yang memiliki salju abadi, seperti Jungfraujoch, juga di lereng pegunungan yang di saat musim dingin tertutup salju tebal.

Namun, kini akibat dampak perubahan iklim yang menyebabkan musim dingin lebih pendek, pariwisata musim panas semakin banyak diminati.

”Musim salju sekarang lebih pendek dan saljunya juga lebih sedikit. Sering kali kami harus mengerahkan mesin pembuat salju karena salju untuk ski berkurang. Wisatawan pun mulai banyak bergeser ke musim panas seperti saat ini,” katanya.

Dan, memang, dari jendela kereta api kami beberapa kali menjumpai beberapa wisatawan tengah hiking atau berjalan kaki di kawasan pedesaan di kanan-kiri rel kereta api.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ada Toilet Umum yang Unik di Tokyo, Terlihat Seperti Mengambang

Ada Toilet Umum yang Unik di Tokyo, Terlihat Seperti Mengambang

Jalan Jalan
Tahun 2021 Ini, Turis Bisa Piknik di Taman Istana Buckingham

Tahun 2021 Ini, Turis Bisa Piknik di Taman Istana Buckingham

Jalan Jalan
Pascagempa, Seluruh Wisata Kelolaan Jatim Park Group Tetap Buka

Pascagempa, Seluruh Wisata Kelolaan Jatim Park Group Tetap Buka

Travel Update
Harga Rapid Test Antigen di Stasiun Turun Jadi Rp 85.000

Harga Rapid Test Antigen di Stasiun Turun Jadi Rp 85.000

Travel Update
5 Kafe Rooftop Instagramable di Jakarta, Cocok untuk Santai Sore Hari

5 Kafe Rooftop Instagramable di Jakarta, Cocok untuk Santai Sore Hari

Jalan Jalan
Resmi! Ada Gondola Baru untuk Wisatawan di Dusun Girpasang Klaten

Resmi! Ada Gondola Baru untuk Wisatawan di Dusun Girpasang Klaten

Travel Update
Larangan Mudik, Hotel Diharapkan Beri Paket Staycation Bonus Hampers Isi Produk Lokal

Larangan Mudik, Hotel Diharapkan Beri Paket Staycation Bonus Hampers Isi Produk Lokal

Travel Update
Pertama di Asia: Travel Bubble Taiwan-Palau Dimulai, Ini Aturannya

Pertama di Asia: Travel Bubble Taiwan-Palau Dimulai, Ini Aturannya

Travel Update
Accor Luncurkan Paket Staycation Unik untuk Berwisata Lokal, Tertarik?

Accor Luncurkan Paket Staycation Unik untuk Berwisata Lokal, Tertarik?

Travel Promo
Pemkab Boyolali Larang Tradisi Padusan Tahun Ini untuk Cegah Kerumunan

Pemkab Boyolali Larang Tradisi Padusan Tahun Ini untuk Cegah Kerumunan

Travel Update
Aturan Perjalanan Udara Periode Ramadhan dan Larangan Mudik 2021

Aturan Perjalanan Udara Periode Ramadhan dan Larangan Mudik 2021

Travel Update
Mereka yang Boleh Lakukan Perjalanan Selama Larangan Mudik 2021

Mereka yang Boleh Lakukan Perjalanan Selama Larangan Mudik 2021

Travel Update
Sambut Ramadhan, Parador Beri Promo Menginap Mulai dari Rp 240.000-an

Sambut Ramadhan, Parador Beri Promo Menginap Mulai dari Rp 240.000-an

Travel Promo
Wisata Air di Klaten Tetap Buka meski Padusan Dilarang, Ini Aturannya

Wisata Air di Klaten Tetap Buka meski Padusan Dilarang, Ini Aturannya

Travel Update
Gayo Coffee Trail Akan Kembangkan Wisata Dataran Tinggi Gayo

Gayo Coffee Trail Akan Kembangkan Wisata Dataran Tinggi Gayo

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads X