Muhammad Sufyan
Dosen

Dosen Digital Public Relations Telkom University, Mahasiswa Doktoral Agama dan Media UIN SGD Bandung. Salah seorang pemenang call for paper Konferensi Nasional Tata Kelola Pemilu Indonesia KPU RI 2019.

Story Telling, Taktik Agar Kedai Kopi Lokal Tak Semenjana

Kompas.com - 17/02/2017, 06:20 WIB
Kisah yang diceritakan Pepeng mengenai proses pengolahan kopi dimulai sejak pemilihan biji kopi hingga penyajian kepada konsumen. KOMPAS.COM/ADHIKA PERTIWIKisah yang diceritakan Pepeng mengenai proses pengolahan kopi dimulai sejak pemilihan biji kopi hingga penyajian kepada konsumen.
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorWisnubrata

Jika terkait tren mutakhir kedai kopi lokal, kita tentu tak ingin deja vu seperti Kafe Tenda Semanggi tahun 1998 yang kala itu cepat naik pamor dan jadi pilihan publik namun seketika pula memudar tak jelas rimbanya. 

Di banyak kota besar di Indonesia kekinian, terutama menggunakan pendekatan tempat nongkrong yang cozy (baik dengan sentuhan interior modern, vintage, alami, hingga industrial), kedai kopi lokal mulai menemukan marwahnya.

Tanpa membonceng identitas kedai kopi global, kedai kopi tersebut menawarkan identitas sendiri yang khas, yang menariknya selain satu sama lain tak serupa, juga menyajikan kepercayaan diri yang tinggi.

Ambil contoh di Kota Bandung. Ketika cuatan kedai kopi lokal alami banyak dimunculkan Kopi Armor di kawasan Taman Hutan Raya Juanda (kini sudah ditutup dan pindah di lokasi tak jauh beda), maka yang lain pantang mencontek.

Energi kreativitas barudak Bandung membuat bentuk rupa kedai kopi penerusnya bermacam ragam dan menarik.

Semisal Mimiti/Missbee dengan konsep coffee garden, Stream Coffee/Common Ground/Boyle's (modern minimalis) hingga Kozi Lab (industrial, bahkan gunakan sebuah bekas gudang di kawasan Gudang Utara, Kosambi).       

Di lain pihak, apa biji kopi yang ditawarkan, juga beragam. Ada yang setia dengan kopi Jawa Baratnya seperti Morning Glory dan Yellow Truck, kopi Sumatera (Old Ben Coffee), kopi gayo (upnormal), hingga kopi Indonesia Timur yakni Sulawesi dan Flores (Cultivar).  

Dan, seluruhnya itu hidup. Tempat kopi, sekaligus hang out, ini punya massa yang loyal dan segmensial. Tidak saling memakan, karena sajian lokasi dan tentu kopinya masing-masing memiliki citra unik dan nyata terlepas dari tren kedai kopi global.

Dalam derap kemajuan semacam ini, sebagai penikmat kopi lokal sekaligus akademisi ilmu komunikasi, izinkan penulis menceritakan apa yang belum banyak dipraktekkan kedai kopi lokal sehingga keberlangsungan mereka terjaga ke depannya.

Ini agar jangan jadi sekedar tren kuliner urban yang tak sustain dan berefek luas, kedai kopi lokal semestinya kian hari kian mengkilap dan jadi pilihan prioritas; Tak kalah keren mereka yang datang ke tempat ini dibandingkan ke Starbuck, misalnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.