Saat Pusaka Ki Ageng Pandanaran Dijamas dengan Mata Air Tujuh Penjuru

Kompas.com - 17/03/2017, 09:00 WIB
Sejumlah pusaka peninggalan Bupati Semarang pertama, yakni Sunan Pandanaran II dijamas di pendopo Bupati Semarang, di Ungaran, Selasa (11/10/2016) siang oleh para pamong budaya setempat. KOMPAS.COM/SYAHRUL MUNIRSejumlah pusaka peninggalan Bupati Semarang pertama, yakni Sunan Pandanaran II dijamas di pendopo Bupati Semarang, di Ungaran, Selasa (11/10/2016) siang oleh para pamong budaya setempat.
|
EditorI Made Asdhiana

UNGARAN, KOMPAS.com - Jamasan pusaka merupakan peristiwa budaya yang kerap ditemui dalam seremonial peringatan hari jadi suatu daerah, khususnya yang ada di Pulau Jawa.

Selain sebagai upaya pelestarian budaya, jamasan pusaka juga mengandung filosofi dan kearifan lokal masyarakat.

Pada Hari Ulang Tahun (HUT) ke-496 Kabupaten Semarang, Rabu (15/3/2017), jamasan pusaka peninggalan Bupati Semarang pertama Ki Ageng Pandanaran digelar di Pendopo Rumah Dinas Bupati Semarang, Jalan Ahmad Yani Ungaran dengan melibatkan elemen masyarakat dari Paguyuban Tosan Aji Gedongsongo.

Ada beberapa pusaka peninggalan Ki Ageng Pandanaran yang berhasil diinventarisir dan disimpan dengan baik di rumah dinas Bupati Semarang ini. Di antaranya adalah dua tombak trisula, satu tombak lurus dan sejumlah keris yang konon dibuat pada zaman Majapahit.

(BACA: Kirab Budaya di Semarang Hadirkan Kesenian Tradisional dan Kontemporer)

Keris pun mempunyai nama, ada keris Nogo Pendowo dan keris Korowelang. Selain itu peninggalan Ki Ageng Pandanaran lainnya adalah pelana kuda.

ARSIP HUMAS PEMKAB SEMARANG Bupati H Mundjirin menerima penyerahan kendi berisi air dari tujuh mata air dari Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Semarang (DKKS) Sarwoto Ndower dalam acara wilujengan peringatan HUT ke-496 Kabupaten Semarang di Pendapa Rumah Dinas Bupati Semarang di Ungaran, Selasa (14/3/2017) malam.
Namun karena satu dan lain hal, pelana kuda ini tidak ikut dijamas. "Tapi dalam kirab budaya nanti diperlihatkan," kata juru kunci pusaka Pemkab Semarang, Edi Sukarno.

Sesajian berupa nasi tumpeng, ingkung, kelapa hijau, air kembang setaman, pisang, jadah pasar, kembar mayang dan dua cangkir berisi minuman teh dan kopi adalah bagian tak terpisahkan dari jamasan ini.

Menjamas pusaka secara lahiriah adalah proses merawat dan menjaga pusaka terbebas dari karat hingga terhindar dari kerusakan.

Cara menjamas pusaka ini dimulai dari proses membersihkan karat (mutih), mewarangi, hingga meminyaki dan memberi wewangian pada pusaka.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X