Kompas.com - 22/03/2017, 18:27 WIB
Saat tengah paralayang di Kota Pokhara, Nepal. Ini adalah kali pertama Sastri melakukan tandem paralayang, persis di lereng Pegunungan Himalaya pada 2013. Dokumentasi pribadi Sri Anindita NursastriSaat tengah paralayang di Kota Pokhara, Nepal. Ini adalah kali pertama Sastri melakukan tandem paralayang, persis di lereng Pegunungan Himalaya pada 2013.
|
EditorSri Noviyanti

KOMPAS.com - Memilih membuka ketimbang menutup mata saat melayang di atas ketinggian 200 meter di atas Danau Pokhara adalah pilihan sadar Sri Anindiati Nursastri, salah satu travel blogger, saat kali pertama melakukan terbang tandem paralayang.

"Itu kejadian dua tahun lalu," tutur dara yang karib disapa Sastri, beberapa pekan silam.

Paralayang adalah olahraga ekstrem kali pertama yang dilakoni penulis blog perjalanan wisata ini. Menariknya, olahraga itu dilakoninya di negeri orang, Nepal.

"Waduh, gila nih parah banget! Gue bisa juga sampai di sini! Setelah bertahun-tahun pengin lihat (pegunungan) Himalaya, akhirnya...," seru Sastri.

Bagi Sastri, kemudian, adrenaline rush yang dialaminya malahan membuatnya tak takut jika harus jatuh dari ketinggian itu. "(Kalau) gue mau jatuh? Jatuh aja, bodo amat!" katanya lagi.

Sastri mengaku, Nepal adalah destinasi incarannya sejak lama. Boleh dikatakan, negeri yang bertetangga dengan Tibet itu ada di dalam bucket list perjalanan idamannya.

"Ada prayer flags (bendera-bendera doa) di Nepal," katanya yang merasa beruntung lantaran bisa bertandang ke Nepal gara-gara mendapat tiket promo penerbangan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Virus” Tintin

Dari hati kecil Sastri, sasaran perjalanan yang paling menjadi dambaan justru Tibet. Nah, inspirasi ke Tibet yang mengguncang-guncang hasratnya itu berawal saat dirinya membaca buku bergambar bertajuk Tintin in Tibet karya Herge.

Adalah Sang Ayah, Sulistio, yang memperkenalkan Tintin pada Sastri. Waktu itu, perempuan kelahiran 6 Februari 1988, baru berusia empat tahun.

Dokumentasi pribadi Sri Anindita Nursastri. Travel blogger, Sri Anindita Nursastri.

"Bapak baru pulang dinas dari Eropa dan membelikan (buku cerita bergambar) Tintin. Aku suka lihat gambarnya," tutur pemilik akun @sastrii di Instragam ini.

Sastri berujar, Tintin in Tibet baginya adalah buku cerita bergambar pertama dari 20 serial Tintin, yang berlatar belakang bukan Eropa.

Dari buku itu, Sastri, mendapat gambaran bahwa orang Tibet bermata sipit dan berkulit coklat. Di Tibet juga ada salju.

"Tibet sepertinya penuh dengan 'ingar-bingar' dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya yang rapi," ujarnya.

"Dari buku itu aku merasa kayaknya enak deh ke Tibet. Aku melihat panca inderaku jalan waktu baca Tintin in Tibet,"  imbuhnya.

Rasa ingin tahu yang terus-menerus berkecamuk di dalam hati, kata Sastri melanjutkan kisahnya, juga sedikit banyak dipengaruhi oleh sosok Tintin yang berprofesi sebagai wartawan. Sepertinya, ada "virus" Tintin di benak Sastri. Tentu saja, virus dalam arti positif, bukan yang lain.

Profesi wartawan, dalam sudut pandang sementara kalangan, adalah profesi yang menuntut sikap skeptis, selalu mempertanyakan berbagai hal. Selain itu, wartawan harus mempunyai naluri cerdik untuk berpikir berbeda dengan kebanyakan orang demi menemukan kebenaran. Wartawan juga harus mampu mengeksplorasi berbagai tantangan sekaligus tidak mengenal kata berpuas diri.

Rasa itulah, kemudian, yang mendasari keinginannya untuk terus bepergian menikmati tempat-tempat wisata. "Traveling itu sama pentingnya dengan kebutuhan primer. Sastri sampai ketagihan traveling!" tulis laman mozaic.co.id tentang perempuan murah senyum ini pada 4 Desember 2015.

"Sebenarnya keinginan traveling muncul karena penasaran dengan tempat-tempat lain. Sekali saja traveling, kita sudah dilumuri perasaan adiktif. Pengen jalan lagi, lagi, dan lagi…,” kata Sastri, masih di laman tersebut.

Dok pribadi Sri Anindita Nursastri Travel blogger Sri Anindita Nursastri.

Saat melakukan perjalanan wisata, Sastri, pemilik blog https://anindiati.wordpress.com ini mengaku lebih suka menjadi traveler independen. Makanya, dirinya siap menanggung risiko untuk membuat daftar kunjungan sendiri.

Ia juga senang memperpanjang waktu berkunjung. Konsekuensi yang mesti ditanggung Sastri, lulusan Jurusan Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung ini, adalah tambahan biaya penginapan dan makan. Andai perjalanan wisatanya ditanggung pihak lain, Sastri mengupayakan agar tiket perjalanan pulang sudah pasti diperolehnya.

Sastri paham, tetap saja ada risiko baik ringan maupun berat yang mengadang kegiatannya. Maka dari itulah, pribadi seperti Sastri dengan segudang kegiatannya sebagai travel blogger tetap memerlukan perlindungan asuransi untuk menghindari risiko kecelakaan.

Untuk kriteria layanan asuransi, program proteksi dalam jangka pendek bisa menjadi pilihan. Terlebih lagi, biasanya perjalanan hanya dipatok kurang lebih satu minggu.

Layanan dari FWD Life yang menyediakan fasilitas "Asuransi Bebas Aksi Flash", misalnya, bisa jadi pilihan.

Ada tiga perlindungan pada fasilitas tersebut yakni risiko kecelakaan, penggantian pengobatan, sampai dengan perlindungan andai nasabah meninggal dunia. Tak cuma itu, premi fasilitas asuransi ini mulai dari Rp 30.000 berikut masa perlindungan sesuai jangka waktu kegiatan mulai dari hitungan sepekan.

Dengan begitu, tak perlu cemas berhadapan dengan risiko bahaya saat melakukan perjalanan bukan?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

DAMRI Buka Rute Angkutan Kota dari Bandung ke Yogyakarta

DAMRI Buka Rute Angkutan Kota dari Bandung ke Yogyakarta

Travel Update
Jangan Bawa 5 Benda Ini dari Pesawat, Awas Bisa Dipidana

Jangan Bawa 5 Benda Ini dari Pesawat, Awas Bisa Dipidana

Travel Tips
10 Benda di Pesawat yang Boleh Dibawa Pulang, Ada Makanan dan Majalah

10 Benda di Pesawat yang Boleh Dibawa Pulang, Ada Makanan dan Majalah

Travel Tips
Museum Ghibli Jepang Galang Dana akibat Pandemi Covid-19

Museum Ghibli Jepang Galang Dana akibat Pandemi Covid-19

Travel Update
5 Benda Wajib Bawa Saat Perjalanan Selama Masa Pandemi Covid-19

5 Benda Wajib Bawa Saat Perjalanan Selama Masa Pandemi Covid-19

Travel Tips
Simpan Dulu, Ini Ide Wisata Edutainment Ramah Anak untuk Destinasi Liburan

Simpan Dulu, Ini Ide Wisata Edutainment Ramah Anak untuk Destinasi Liburan

Travel Tips
Syarat Naik Pesawat Selama Libur Nataru per 24 Desember 2021, Bisa PCR atau Antigen

Syarat Naik Pesawat Selama Libur Nataru per 24 Desember 2021, Bisa PCR atau Antigen

Travel Update
Lion Air Buka Rute Baru Makassar-Biak PP, Harga Mulai Rp 1 Juta

Lion Air Buka Rute Baru Makassar-Biak PP, Harga Mulai Rp 1 Juta

Travel Promo
Syarat Naik Kereta Api Periode Nataru per 24 Desember 2021, Bawa Kartu Vaksin

Syarat Naik Kereta Api Periode Nataru per 24 Desember 2021, Bawa Kartu Vaksin

Travel Update
Daftar Kereta Api Jarak Jauh Daop 1 Jakarta yang Beroperasi pada Desember 2021

Daftar Kereta Api Jarak Jauh Daop 1 Jakarta yang Beroperasi pada Desember 2021

Travel Update
Okupansi Hotel di Aceh untuk Libur Nataru Baru 40 Persen

Okupansi Hotel di Aceh untuk Libur Nataru Baru 40 Persen

Travel Update
Libur Nataru, Wisata Gunung Pandan di Aceh Tamiang Tutup

Libur Nataru, Wisata Gunung Pandan di Aceh Tamiang Tutup

Travel Update
10 Fakta Menarik Gunung Semeru, Rumah Tertinggi Sepasang Arca Kuno

10 Fakta Menarik Gunung Semeru, Rumah Tertinggi Sepasang Arca Kuno

Jalan Jalan
Erupsi Gunung Semeru Tak Berdampak pada Wisata Bromo

Erupsi Gunung Semeru Tak Berdampak pada Wisata Bromo

Travel Update
Pendakian Gunung Semeru Bukan Tutup karena Erupsi, Tapi karena PPKM

Pendakian Gunung Semeru Bukan Tutup karena Erupsi, Tapi karena PPKM

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.