Kompas.com - 31/03/2017, 11:36 WIB
|
EditorI Made Asdhiana

Ditambah lagi perkampungan-perkampungan tradisional yang langka dengan manusia Sumba yang menganut agama asli yang hidup di pegunungan dan lembah yang disebut kepercayaan Marapu.

Demikian disampaikan Kepala Balai Taman Nasional Menupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (MataLawa), Maman Surahman kepada KompasTravel di Waingapu, Sabtu (25/3/2017).

Surahman menjelaskan, TN Menupeu Tanah Daru dan Taman Nasional Laiwangi Wanggameti di Pulau Sumba masuk tiga kabupaten yakni Sumba Barat, Sumba Tengah, dan Sumba Timur.

(BACA: Keunikan Tradisi Menangkap “Nyale” dan Pasola di Sumba Barat)

Kedua TN ini digabung menjadi satu yaitu TN Menupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (MataLawa) sesuai Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup RI Nomor P.7/Menlhk/Setjen/OTL.0/2016, dengan luas 90.142 hektare.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Wisatawan di Kampung Adat Prai Ijing, Desa Tebar, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur menjadi kampung yang selalu dikunjungi wisatawan asing dan Nusantara, Jumat (24/3/2017).
Menurut Surahman, penggabungan dua TN ini memberikan peluang kepada pihaknya untuk mengembangkan pariwisata berbasis ekologi dan budaya sehingga keajaiban-keajaiban budaya, alam dan manusianya memperoleh dampak bagi peningkatan ekonomi masyarakat.

Dua TN ini menjadi tempat yang selalu dikunjungi wisatawan untuk melihat keunikan-keunikan delapan burung endemik Pulau Sumba, air terjun, keunikan-keunikan goa, puncak gunung Wanggameti yang tertinggi di Pulau Sumba, juga padang savana.

“Saya diberikan kepercayaan menjadi Kepala Taman Nasional di Pulau Sumba untuk mengembangkan keunikan-keunikan alam dan budaya yang unik serta mempromosikan secara luas agar wisatawan asing dan Nusantara mengunjungi pulau ini. Pulau ini masih tersembunyi di bumi Nusa Tenggara Timur karena kurang promosi,” katanya.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Seorang perempuan Sumba Barat di Kampung Prai Ijing, Desa Tebar, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur sedang menenun kain sumba untuk kebutuhan keluarganya. Kain sumba ini dijual kepada wisatawan maupun warga setempat. Harga kain sumba berkisar dari Rp 300.000 sampai Rp 2.500.000 sesuai dengan motifnya. Hasil jual kain sumba untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dari warga Sumba.
Surahman memaparkan, TN MataLawa menjadi penopang kehidupan warga masyarakat di Pulau Sumba, seperti pembangkit Daerah Air Minum alam (PDAM alam), sumber air minum untuk warga di Pulau Sumba, sumber air untuk lahan pertanian dan persawahan di Pulau Sumba bahkan sebagai sumber energi Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) yang sudah berfungsi di beberapa aliran sungai besar.

“Taman Nasional MataLawa memiliki sekitar 20 sungai besar yang berhulu di dalam kawasan taman nasional tersebut.  Terdapat 84 jenis burung, 10 jenis mamalia, 49 jenis kupu-kupu, 29 jenis reptil dan amfibi, 10 jenis mamalia, 173 jenis pohon, herbal dan tumbuhan bawah, serta 49 paku-pakuan,” jelasnya.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.