Kompas.com - 08/04/2017, 19:10 WIB
Kepala Balai Taman Nasional MataLawa Pulau Sumba, Maman Surahman berfoto bersama dengan staf Resor Wanggameti di tengah hutan Wanggameti, Desa Wanggameti, Kecamatan Matawae Lapau, Kabupaten Sumba Timur, NTT, Sabtu (25/3/2017). Kunjungan kerja ini sekaligus memberikan semangat kepada stafnya yang bekerja di kawasan Hutan Wanggameti. KOMPAS.COM/MARKUS MAKURKepala Balai Taman Nasional MataLawa Pulau Sumba, Maman Surahman berfoto bersama dengan staf Resor Wanggameti di tengah hutan Wanggameti, Desa Wanggameti, Kecamatan Matawae Lapau, Kabupaten Sumba Timur, NTT, Sabtu (25/3/2017). Kunjungan kerja ini sekaligus memberikan semangat kepada stafnya yang bekerja di kawasan Hutan Wanggameti.
|
EditorI Made Asdhiana

Bahkan, edelweis seumpama dengan seorang bidadari yang sangat cantik. Seorang lelaki berjuang penuh pengorbanan untuk meraih cintanya.

"Kalau pernyataan cinta kepada seorang gadis ditandai dengan pemberian bunga edelweis yang segera terbayang adalah pengorbanan yang tidak ringan karena mengambilnya dari kawasan pegunungan," kata Surahman.

Edelweis yang biasanya mekar antara Maret, April dan Agustus ternyata sangat disukai berbagai jenis serangga, seperti kupu-kupu, tabuhan dan lebah.

Kepala Resor Wanggameti, Oktovianus Klau dan Fabianus Beremau kepada KompasTravel menjelaskan, ancaman serius terhadap tumbuhan edelweis di kawasan hutan Wanggameti adalah kebakaran padang savana di musim kemarau.

"Kami selalu berpatroli di seluruh kawasan ini agar warga di sekitar kawasan itu tidak bakar padang savana. Bahkan, kami menginformasikan bahwa puncak gunung Wanggameti sebagai tujuan wisatawan asing dan peneliti untuk mendaki gunung," ujarnya.

Oktovianus menjelaskan, pihaknya bekerja sama dan melibatkan warga setempat untuk sama-sama menjaga kelestarian hutan. Bahkan, warga setempat dijadikan pemandu lokal untuk wisatawan yang ingin mendaki puncak tertinggi Wanggameti di Pulau Sumba.

Kepala Bagian Tata Usaha TN MataLawa Pulau Sumba, Tri Wiyato menjelaskan, dirinya pernah memandu wisatawan asing naik ke puncak Wanggameti sekitar beberapa tahun lalu.

"Banyak hal yang dapat dilihat di atas puncak gunung Wanggameti. Menikmati matahari terbit dan terbenam, bahkan bisa memotret burung langka di Pulau Sumba. Pohon-pohon besar seperti di hutan amazon dapat dijumpai di kawasan itu,” katanya.

Umbu Naimana Wanggameti (Raja Wanggameti) kepada KompasTravel mengatakan kawasan hutan Wanggameti merupakan kawasan keramat dari warga Marapu Wanggameti dan sekitarnya.

Kawasan itu dijaga oleh leluhur orang Wanggameti agar tetap lestari. Bahkan, di sekitar kawasan itu dikelilingi kuburan leluhur Wanggameti untuk menjaga hutan.

Umbu Naimanna menjelaskan, ritual Hamayang dari kepercayaan Marapu untuk menjaga kelangsungan hutan serta melarang orang-orang untuk mengambil kayu, rotan dan sejenisnya dari kawasan Wanggameti.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Kuburan leluhur orang Wanggameti di sekitar kawasan Hutan Wanggameti, Desa Wanggameti, Kecamatan Matawae Lapau, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (25/3/2017). Kepercayaan Marapu bahwa kawasan hutan Wanggameti dijaga oleh leluhurnya.
Jika orang Wanggameti melanggar kesepakatan adat dengan leluhur, maka, orang itu akan digigit ular, babi hutan dan disambar petir di tengah hutan sampai di rumahnya.

"Kami memiliki kesepakatan adat dengan leluhur bahwa kawasan hutan Wanggameti adalah kawasan keramat. Hutan itu dijaga leluhur orang Sumba. Bahkan, kawasan itu dikelilingi kuburan leluhur orang Sumba. Jadi wisatawan asing dan Nusantara yang mendaki puncak gunung Wanggameti harus dipandu warga setempat,” kata Umbu Naimanna. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.