Mengajak Kaum Muda Menikmati Kereta Api Kuno

Kompas.com - 11/04/2017, 06:37 WIB
Setelah menempuh perjalanan selama 90 menit, penumpang tiba di Stasiun Bedono, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (1/4/2017). Harga sewa kereta api wisata jalur Ambarawa-Bedono Rp 15 juta dengan kapasitas 80 penumpang. Biaya itu ditanggung bersama. Lokomotif memerlukan bahan bakar 3 meter kubik kayu jati untuk jarak tempuh 10 kilometer dengan kecepatan 5-15 km per jam. KOMPAS/KARINA ISNA IRAWANSetelah menempuh perjalanan selama 90 menit, penumpang tiba di Stasiun Bedono, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (1/4/2017). Harga sewa kereta api wisata jalur Ambarawa-Bedono Rp 15 juta dengan kapasitas 80 penumpang. Biaya itu ditanggung bersama. Lokomotif memerlukan bahan bakar 3 meter kubik kayu jati untuk jarak tempuh 10 kilometer dengan kecepatan 5-15 km per jam.
EditorI Made Asdhiana

DARI Stasiun Ambarawa menuju Stasiun Bedono, Jawa Tengah, HM Sudono (63) menceritakan asal usul si Boni, lokomotif uap berusia 115 tahun. Dia berhasil membawa generasi muda menyelami sejarah kereta api uap dalam 100 menit perjalanan.

Sudono adalah tenaga profesional cagar budaya di Stasiun Ambarawa. Dia pernah menjabat kepala Stasiun Ambarawa selama 10 tahun pada 1996-2006.

Pada Sabtu (1/4/2017) pagi, Sudono menemani perjalanan tamu undangan majalah Jateng Travel Guide edisi V yang mayoritas generasi muda.

Pagi itu, rombongan berkumpul di Stasiun Ambarawa yang bernama asal Stasiun Willem I. Stasiun dibangun Nederlandsch Indische Spoorweg Maatscappij seiring invasi militer Belanda ke Pulau Jawa. Saat itu, Belanda membuka jalur Yogyakarta-Magelang kemudian merambah ke Ambarawa dan Semarang.

(BACA: Ingin Naik Kereta di Museum Ambarawa? Begini Caranya)

Bunyi peluit panjang terdengar nyaring. Lokomotif mesin uap yang menarik dua gerbong kayu berwarna hijau memasuki stasiun.

Lokomotif uap buatan tahun 1911 itu berwarna hitam pekat dan mempunyai cerobong asap di bagian depan. Melalui pengeras suara, Sudono mengumumkan kereta berangkat 5 menit lagi.

Aqidah Rahmawati (22) dan Putri Fajar (22), alumni Universitas Negeri Semarang, bergegas memasuki gerbong dan menempati kursi dekat jendela tanpa kaca.

(BACA: Serunya Naik Kereta Tua di Museum Kereta Ambarawa)

Mereka mengarahkan pandangan ke papan kayu bertuliskan informasi pembuatan kereta. Ini adalah pengalaman pertama menumpangi kereta api uap.

”Biasanya cuma lihat di gambar atau film kartun. Senang sekali dapat kesempatan naik kereta uap,” ujar Rahma.

Kereta api uap itu mulai jalan perlahan meninggalkan Stasiun Ambarawa yang terletak di ketinggian 474 meter di atas permukaan laut (mdpl) menuju Stasiun Bedono pada ketinggian 711 mdpl.

Sudono mempersilakan penumpang berdoa memohon kelancaran perjalanan. Dengan kecepatan berkisar 5-10 kilometer per jam, kereta perlahan melewati desa-desa.

Sudono bercerita, si Boni berbeda dengan koleksi lokomotif lain di Museum Ambarawa. Lokomotif mesin uap memiliki roda bergerigi untuk mengait rel bergerigi di jalur setelah Stasiun Jambu, berjarak sekitar 5 kilometer dari Stasiun Ambarawa, menuju Stasiun Bedono.

Roda bergerigi ini terbilang unik karena hanya bisa ditemukan di Indonesia, Swiss, dan India.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X