Apa Bedanya Restoran "Full Service" dan "Self Service"?

Kompas.com - 24/04/2017, 14:35 WIB
Hidangan yang disajikan secara prasmanan di Warung Misbar, Jalan RE Martadinata, Bandung, Jawa Barat, Kamis (17/1/2014). KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHOHidangan yang disajikan secara prasmanan di Warung Misbar, Jalan RE Martadinata, Bandung, Jawa Barat, Kamis (17/1/2014).
|
EditorI Made Asdhiana

JAKARTA, KOMPAS.com - Baru-baru ini, viral di media sosial tentang perilaku turis Indonesia yang tidak membereskan sisa makanan dan peralatan makan yang mereka pakai usai makan di sebuah restoran di Jepang. Hal ini mungkin terkesan biasa saja jika terjadi di Indonesia.

Namun, beberapa tempat makan dengan konsep self service di luar negeri, termasuk Jepang, biasanya mengharuskan pelanggannya untuk melayani diri sendiri, mulai dari pemesanan, mengambil makanan, hingga membereskan sisa makanan dan peralatan makan yang telah dipakai.  

Berbeda dengan di Indonesia, sebagian besar tempat makan, baik restoran kelas atas seperti fine dining sampai warung kaki lima, pelanggan terbiasa dilayani oleh pelayan. Pelayanan pun tak hanya sekadar mengantarkan pesanan, tetapi juga sampai membereskan sisa makanan dan peralatan makan yang sudah dipakai.

(BACA: Viral di Medsos, Kelakuan Buruk Turis Indonesia di Jepang)

Di dunia food and beverage, konsep restoran bisa dibagi antara restoran full service dan self service.

Eduard R. Pangkerego, seorang hotelier yang sudah malang melintang di dunia food and beverage selama 14 tahun, menuturkan bahwa restoran full service menunjukkan bahwa tamu dilayani dengan penuh perhatian.

"Dimulai dari proses reservasi dan penerimaan tamu di depan restoran dilayani oleh staf khusus yang bertugas di sini, khusus untuk menyiapkan dan mengantarkan tamu ke meja yang sudah disiapkan. Lalu di sini proses order-nya adalah tamu melihat dari menu yang sudah disiapkan," kata Eduard.

Thinkstock Pelayan restoran tengah mencatat pesanan tamu.
Ia menuturkan restoran fine dining merupakan restoran full service. Menu pun biasa terbagi dua bagian yaitu table d'hote atau set menu. Set menu adalah menu dari appetizers (hidangan pembuka) sampai dessert (hidangan penutup) sudah disiapkan oleh pihak restoran.

"Atau kedua, ala carte menu, dimana menunya diberikan pilihan untuk tamu memilih dari appetizers sampai ke dessert," jelas Eduard yang kini berprofesi sebagai Corporate General Manager di jaringan hotel Artotel Indonesia.

(BACA: Ketika Turis Indonesia Tinggalkan Sisa Makanan di Jepang)

Selain itu, lanjut Eduard, proses penyajiannya pun dilayani oleh pihak restoran, dalam hal ini pelayan atau waiter. Waiter mengantarkan makanan dan minuman satu persatu ke pihak tamu.

Sementara itu, untuk konsep self service, ungkap Eduard, ada beragam gaya. Eduard menjelaskan jika di Indonesia gayanya pun telah bercampur, salah satunya seperti restoran "all you can eat" dengan sajian prasmanan (buffet style).

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X