Mantehage, Destinasi Ekowisata di Dekat Manado

Kompas.com - 26/04/2017, 13:21 WIB
Bakau di depan Dermaga Buhias di Pulau Mantehage, Sulawesi Utara. Kompas.com/Ronny Adolof BuolBakau di depan Dermaga Buhias di Pulau Mantehage, Sulawesi Utara.
|
EditorSri Anindiati Nursastri

MANADO, KOMPAS.com - Tak banyak yang tahu bahwa Pulau Mantehage merupakan salah satu pulau terluar yang di Sulawesi Utara (Sulut). Padahal pulau ini berjarak tak jauh dengan Kota Manado, ibu kota Sulut.

Dari Manado menuju Mantehage hanya butuh perjalanan laut sekitar 1,5 jam melewati Pulau Bunaken dan Manado Tua di sebelah kiri, dan Pulau Siladen di sebelah kanan. Sebelum mencapai pulau Nain, taksi air akan mengambil jalur ke kiri, menuju lokasi Dermaga Buhias, kampung terbesar di Mantehage.

Berbeda dengan pulau-pulau satelit di sekitar Kota Manado, Mantehage berbentuk datar dan landai. Pulau ini dikelelingi hutan bakau yang luasnya menyamai luas daratannya. Dengan luas kawasan bakau yang dimilikinya, Mantehage potensial dikembangkan sebagai destinasi ekowisata.

BACA: Berkunjung ke Bunaken Tak Sulit, Ini Tipsnya...

Tak hanya itu, pulau yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Laut Bunaken ini memiliki keanekaragaman hayati yang akan menarik wisatawan menjelajahi Mantehage. Sebut saja, satwa liar Kus-kus Sulawesi yang populasinya masih mudah dijumpai di pulau yang secara administratif masuk dalam wilayah Kabupaten Minahasa Utara ini.

Di hutan bakaunya, burung Pekaka Bua-bua atau Great-billed Kingfisher dan beberapa jenis burung Raja Udang lainnya mudah terlihat dari arah dermaga. Dengan suaranya yang khas, Pekaka Bua-bua mudah dikenali.

Selain itu, di Mantehage ternyata ada pula satwa unik Tarsius, yang selama ini identik dengan Taman Wisata Alam Tangkoko di Bitung. Satwa berukuran mungil dengan bola mata besar ini bisa dijumpai bahkan di kebun warga. Tunggulah saat menjelang malam, lengkingan suara Tarsius yang saling bersahutan di pohon bambu akan menambah keseruan.

BACA: 10 Kuliner Halal yang Wajib Dicicipi di Manado

Kepakan burung hantu yang ingin berburu Tarsius juga menjadi pemandangan lain. Sementara itu, warga Mantehage sering menjumpai buaya mencari makanan di hutan bakau. Aneka fauna air di bakau menambah daftar keunikan Mantehage.

Di sekitar pulau ini terdapat hamparan terumbu karang. Jenis ikan karang menjadi salah satu tangkapan lazim di Mantehage. Walau tak sebanyak waktu lalu, kelelawar juga masih merupakan satwa liar yang terdapat di Pulau Mantehage yang terbagi dalam empat kampung itu. Selain Buhias, ada kampung Bongo, Tangkasi dan Tinongko.

"Dengan potensi yang dimilikinya, saya rasa Mantehage cocok untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata," ujar pemandu wisata Noldy K saat menemani para peneliti Tarsius melakukan survei di Mantehage akhir pekan lalu.

BACA: Pantai Sampirang, Pasir Putih Eksotis Nan Elok di Minahasa Utara

Sebagian warga Mantehage juga menggantungkan hidup mereka dari hasil bertani dan kebun. Para pembuat minuman khas Minahasa, "cap tikus" juga bisa dijumpai di Mantehage. Menyaksikan mereka mengambil getah dari pohon Seho (aren) lalu menyuling dengan cara memasak selama berjam-jam untuk menghasilkan minuman beralkohol tersebut, adalah pengalamaan unik yang mungkin tak bisa dilewatkan.

Keramahan penduduk Mantehage yang sebagian besar merupakan suku Sangir/Siau ini juga merupakan modal utama dalam mengembangkan ekowisata. Pendatang tak kesulitan untuk mencari penginapan di rumah warga.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sejarah Rempah di Indonesia, Ada Pengaruh dari India, Spanyol, dan Portugis

Sejarah Rempah di Indonesia, Ada Pengaruh dari India, Spanyol, dan Portugis

Makan Makan
Longgarkan Lockdown, Restoran dan Kafe di Selandia Baru Buka Kembali Termasuk McDonald's dan KFC

Longgarkan Lockdown, Restoran dan Kafe di Selandia Baru Buka Kembali Termasuk McDonald's dan KFC

Makan Makan
Apa Bedanya Biji Kopi Robusta dan Arabika? Mulai dari Bentuk, Rasa, sampai Proses Pengolahan

Apa Bedanya Biji Kopi Robusta dan Arabika? Mulai dari Bentuk, Rasa, sampai Proses Pengolahan

Makan Makan
Hari Susu Sedunia 2020, Apa Bedanya Susu UHT dengan Susu Pasteurisasi?

Hari Susu Sedunia 2020, Apa Bedanya Susu UHT dengan Susu Pasteurisasi?

Makan Makan
Gandeng Bali Paragon Resort Hotel, Kemenparekraf Sediakan 346 Kamar untuk Nakes

Gandeng Bali Paragon Resort Hotel, Kemenparekraf Sediakan 346 Kamar untuk Nakes

Whats Hot
Hari Susu Sedunia 2020, Sejak Kapan Manusia Mulai Minum Susu?

Hari Susu Sedunia 2020, Sejak Kapan Manusia Mulai Minum Susu?

Makan Makan
Hari Susu Sedunia 2020, Kenapa Lembang Jadi Daerah Penghasil Susu Pertama di Indonesia?

Hari Susu Sedunia 2020, Kenapa Lembang Jadi Daerah Penghasil Susu Pertama di Indonesia?

Makan Makan
Bali Paragon Resort Hotel Siapkan 297 Kamar untuk Tenaga Medis

Bali Paragon Resort Hotel Siapkan 297 Kamar untuk Tenaga Medis

Whats Hot
Negara-negara di ASEAN Bisa Jadi Contoh Indonesia Sebelum Buka Pariwisata

Negara-negara di ASEAN Bisa Jadi Contoh Indonesia Sebelum Buka Pariwisata

Whats Hot
Virtual Tour Mendaki Gunung Rinjani, Peserta Pakai Jaket Gunung

Virtual Tour Mendaki Gunung Rinjani, Peserta Pakai Jaket Gunung

Jalan Jalan
Liburan ke Jeju, Yuk Nginap di Resor Legend of the Blue Sea

Liburan ke Jeju, Yuk Nginap di Resor Legend of the Blue Sea

Jalan Jalan
Angkasa Pura II Perpanjang Pembatasan Penerbangan hingga 7 Juni

Angkasa Pura II Perpanjang Pembatasan Penerbangan hingga 7 Juni

Whats Hot
Bali Tak Kunjung Buka Pariwisata, Apa Alasannya?

Bali Tak Kunjung Buka Pariwisata, Apa Alasannya?

Whats Hot
Bali Perlu Inovasi Pariwisata untuk Hadapi New Normal

Bali Perlu Inovasi Pariwisata untuk Hadapi New Normal

Whats Hot
Kisah Unik Desa Pancasila di Kaki Gunung Tambora, Seperti Apa?

Kisah Unik Desa Pancasila di Kaki Gunung Tambora, Seperti Apa?

Jalan Jalan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X