Kompas.com - 18/05/2017, 21:06 WIB
Wisatawan melihat Blue Fire atau api biru di dasar Kawah Gunung Ijen di Kabupaten Banyuwangi, Selasa (9/8/2016) pagi hari. Kabupaten Banyuwangi yang mempunyai julukan sebagai Sunrise of Java tersebut mempunyai sejumlah tempat wisata andalan pantai maupun pegunungan dan dikenal hingga mancanegara. KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTAWisatawan melihat Blue Fire atau api biru di dasar Kawah Gunung Ijen di Kabupaten Banyuwangi, Selasa (9/8/2016) pagi hari. Kabupaten Banyuwangi yang mempunyai julukan sebagai Sunrise of Java tersebut mempunyai sejumlah tempat wisata andalan pantai maupun pegunungan dan dikenal hingga mancanegara.
|
EditorSri Anindiati Nursastri

Ia mengatakan, satu kilogram belerang untuk trip pertama dihargai Rp. 925. Sedangkan trip kedua dihargai Rp 1.025 per kilogram. Sekali angkut, terkadang, dia mendapatkan uang bayaran maksimal 150 ribu.

"Tapi kerjanya berat. Kami terkadang harus memanggul satu kwintal belerang naik turun gunung. Harga trip satu sama trip dua memang beda untuk semangat aja biar bisa bawa belerang lebih banyak," katanya.

Model rumah panggung menurut Ali adalah ide dari ayahnya yang pernah bekerja sebagai buruh bangunan di Kalimantan. Selain itu, di bagian bawah juga masih bisa dimanfaatkan untuk bercocok tanam.

"Akhirnya 10 kamar jadi dan kami bersyukur sekali. Tapi saat dibuka pertama kali baru tiga kamar yang dibuka karena untuk kamar lain belum ada kasurnya," kenang Ali sambil tertawa.

Ia kemudian harus kembali menambang belerang untuk bisa membeli perabotan dalam untuk homestay-nya. Kenekatan Ali membangun homestay sempat mendapatkan cibiran dan tetangga sekitar. Mereka mempertanyakan, jika bangun homestay, siapa yang akan mau menginap karena rumah mereka berada di tengah kebun dengan akses jalan yang rusak.

Ali kemudian dibantu oleh rekan travelnya untuk memasarkan homestay-nya dari mulut ke mulut. Dia kemudian dibantu juga untuk memasarkan secara online di media sosial. Ali mematok harga Rp 165.000 per malam dan tamu mendapatkan sarapan.

Pelan tapi pasti, homestay keluarga penambang semakin dikenal oleh banyak orang. Apalagi lokasinya berada di pinggir hutan dan banyak disukai oleh wisatawan asing.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Alhamdulilah sekarang sudah terlihat hasilnya. Bahkan saya pernah terima tamu sampai 44 orang. Jadi bukan hanya di homestay ini tapi juga di kamar di rumah saya dan adik-adik. Kita ngungsi di rumah bapak," kata lelaki yang fasih berbahasa Iggris ini sambil tertawa.

Dia mengatakan hampir 75 persen tamu yang menginap di rumahnya adalah wisatawan asing. Biasanya jumlah kunjungan tamu mulai meningkat pada bulan April hingga akhir tahun.

Sekarang, Ali dan ayahnya masih menambang belerang tapi sudah tidak sesering saat belum memiliki homestay. Dalam satu minggu maksimal tiga kali mereka menambang belerang ke Gunung Ijen.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Video Pilihan

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.