Menelusuri Jejak Sejarah Kota Tua

Kompas.com - 24/05/2017, 10:12 WIB
Menara Kudus di kota Kudus, Jawa Tengah, Minggu (7/5/2017), yang terus mendapat kunjungan peziarah dari luar kota. KOMPAS/SOELASTRI SOEKIRNOMenara Kudus di kota Kudus, Jawa Tengah, Minggu (7/5/2017), yang terus mendapat kunjungan peziarah dari luar kota.
EditorI Made Asdhiana

Ketika orang mulai banyak berkunjung ke Kota Tua, Kartum dan kawan- kawan beralih berkunjung ke peninggalan sejarah lain, misalnya kawasan pecinan di Jakarta Barat, Pasar Mester Jatinegara, beberapa museum di Jakarta, dan masjid tua.

Supaya peserta komunitas bisa melihat dengan cermat setiap obyek, Kartum sering mengajak anggota komunitas berjalan kaki menyusuri obyek-obyek tersebut.

Manfaat ganda

Sering kali peserta diajak berjalan kaki sampai lebih dari 5 kilometer menyusuri jejak-jejak sejarah yang tersisa.

Alih-alih kapok, mereka justru senang. Anggota pun mulai memberi masukan tentang obyek-obyek yang perlu dikunjungi, baik di daerah Jabodetabek maupun di daerah lain. Kartum kemudian merancang jalan-jalan ke sejumlah tempat.

”Pada perayaan Imlek, biasanya kami diajak ke klenteng-klenteng, lalu waktu puasa kami berkunjung ke masjid-masjid tua di Jakarta,” kata Ida Farida, karyawan swasta di Jakarta yang sekitar lima tahun bergabung di KJB.

Ida yang sehari-hari bekerja sebagai akuntan juga rajin ikut perjalanan ke luar kota, seperti Cilacap, Malang, Cirebon, dan Lasem. Sejak 2010, KJB meluaskan kunjungan ke bangunan- bangunan tua dan benteng-benteng di sejumlah kota di Pulau Jawa.

Belakangan, Kartum juga mengadakan jamuan makan malam di museum. Acara bernama rijsttafel itu menyuguhkan makanan tempo dulu. Dengan membayar Rp 100.000, peserta bisa bersantap sambil menikmati film sejarah dan hiburan musik tempo dulu.

Selain itu, ada kunjungan ke tempat penggalian situs Trowulan (Jatim), Karawang (Jabar), dan Pasar Ikan (Jakarta). Kartum ingin anggota KJB merasakan susahnya menggali benda bersejarah.

”Dengan melihat dan merasakan sendiri proses ekskavasi, saya berharap mereka lebih menghargai temuan benda bersejarah,” kata pemilik gelar master bidang museum ini.

Sekalipun judulnya jalan-jalan, banyak peserta mendapat manfaat ganda dari KJB. ”Kayak belajar sejarah. Di tiap obyek bersejarah, kami mendapat penjelasan rinci dari pemandu yang paham dengan tempat itu,” ujar Ida.

Ia berpendapat, cara yang dilakukan KJB itu cocok untuk belajar sejarah. ”Ini menyenangkan dan mudah dimengerti daripada hanya belajar di kelas,” kata Ida.

Galuh, anggota staf sebuah kantor perwakilan negara asing di Jakarta, juga mendapat banyak manfaat. ”Aku jadi lebih kenal dengan sejarah Indonesia,” kata Galuh. (Soelastri Soekirno)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 23 Mei 2017, di halaman 29 dengan judul "Menelusuri Jejak Sejarah Kota Tua".

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

7 Resor di Pulau Terpencil Indonesia, Pas untuk Mencari Kedamaian

7 Resor di Pulau Terpencil Indonesia, Pas untuk Mencari Kedamaian

Jalan Jalan
7 Danau Terindah di Indonesia yang Wajib Dikunjungi

7 Danau Terindah di Indonesia yang Wajib Dikunjungi

Jalan Jalan
5 Vila Terapung di Indonesia, Serasa di Maladewa

5 Vila Terapung di Indonesia, Serasa di Maladewa

Travel Tips
Dekat Danau Toba, Bandara Silangit Tingkatkan Kapasitas Penumpang Jadi 700.000 Per Tahun

Dekat Danau Toba, Bandara Silangit Tingkatkan Kapasitas Penumpang Jadi 700.000 Per Tahun

Travel Update
Seychelles Jajaki Kerja Sama Bidang Pariwisata dengan Bangka Belitung

Seychelles Jajaki Kerja Sama Bidang Pariwisata dengan Bangka Belitung

Travel Update
PHRI Jabar Soal Cuti Bersama 2021 Dipotong: Rugi dan Hanya Bisa Pasrah

PHRI Jabar Soal Cuti Bersama 2021 Dipotong: Rugi dan Hanya Bisa Pasrah

Travel Update
Cuti Bersama Dipangkas, Disparbud Kabupaten Bandung Imbau Berwisata di Tempat yang Dekat

Cuti Bersama Dipangkas, Disparbud Kabupaten Bandung Imbau Berwisata di Tempat yang Dekat

Travel Update
Cuti Bersama Dipotong, Kabupaten Bandung Targetkan Wisatawan Lokal

Cuti Bersama Dipotong, Kabupaten Bandung Targetkan Wisatawan Lokal

Travel Update
Kadispar Bali Dukung Cuti Bersama 2021 Dipotong, Ini Alasannya

Kadispar Bali Dukung Cuti Bersama 2021 Dipotong, Ini Alasannya

Travel Update
Jadwal KA dari Daop 1 Jakarta yang Sudah Bisa Berangkat

Jadwal KA dari Daop 1 Jakarta yang Sudah Bisa Berangkat

Travel Update
Sempat Kebanjiran, Perjalanan KA dari Daop 1 Jakarta Normal Kembali

Sempat Kebanjiran, Perjalanan KA dari Daop 1 Jakarta Normal Kembali

Travel Update
Perjalanan Internasional ke Inggris Dilarang Hingga 17 Mei 2021

Perjalanan Internasional ke Inggris Dilarang Hingga 17 Mei 2021

Travel Update
Ada Replika Howl's Moving Castle di Studio Ghibli Theme Park, Seperti Apa?

Ada Replika Howl's Moving Castle di Studio Ghibli Theme Park, Seperti Apa?

Travel Update
Danau Shuji Muara Enim, Wisata di Bekas Dapur Umum Pasukan Jepang

Danau Shuji Muara Enim, Wisata di Bekas Dapur Umum Pasukan Jepang

Jalan Jalan
Pengembangan Labuan Bajo Ngebut, Persiapan SDM Penting Dilakukan

Pengembangan Labuan Bajo Ngebut, Persiapan SDM Penting Dilakukan

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads X