Tiga Buah Batu, Seni Perlawanan Bung Karno di Benteng Marlborough

Kompas.com - 26/05/2017, 09:03 WIB
Seorang pengunjung sedang menyaksikan diorama patung Bung Karno dan Residen Bengkulu dari pemerintah kolonial Hindia Belanda, Cornelis Eduard Maier, di Benteng Marlborough, Kota Bengkulu. KOMPAS.COM/FIRMANSYAHSeorang pengunjung sedang menyaksikan diorama patung Bung Karno dan Residen Bengkulu dari pemerintah kolonial Hindia Belanda, Cornelis Eduard Maier, di Benteng Marlborough, Kota Bengkulu.
|
EditorI Made Asdhiana

BENGKULU, KOMPAS.com - Benteng Marlborough di Kota Bengkulu berusia lebih dari tiga abad. Ini merupakan benteng terbesar di Asia Tenggara dibangun pada 1714 hingga 1741 oleh Inggris.

Dibangun untuk menguasai perdagangan pala, lada, kopi di bawah perusahaan dagang Inggris, East Indian Company (EIC), dan pusat pengawasan jalur pelayaran dagang yang melewati Selat Sunda.

Benteng yang jika dilihat dari udara ini berbentuk kura-kura dalam beberapa bulan terakhir mengalami pengayaan kisah sejarah. Terdapat beberapa diorama, patung, dan catatan ilmu pengetahuan ditambahkan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi.

Salah satu diorama yang cukup memukau ribuan pengunjung yakni patung Bung Karno dan Residen Bengkulu dari pemerintah Hindia Belanda, Cornelis Eduard Maier. Keduanya dipisahkan oleh satu meja terdapat dua buah kursi. Kursi tersebut tidak digunakan duduk oleh kedua tokoh itu.

(BACA: Mengunjungi Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende)

Di atas meja terdapat tiga buah batu yang disusun oleh Bung Karno. Diorama menggambarkan Bung Karno menunjuk batu yang disusun bertumpuk, sementara Maier tampak melipat kedua tangan di depan dada.

Diorama tersebut cukup memukau. Diorama semakin memiliki aura karena dilatari beberapa keterangan di antaranya dikutip dari buku karya Cindy Adams berjudul "Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia".

Dalam buku karangan Cindy Adams disebutkan kisah tersebut terjadi saat Bung Karno diinterogasi oleh pemerintah Hindia Belanda untuk membuat sebuah tugu peringatan akibat serangan Jerman ke Belanda pada Mei 1940.

(BACA: Menginap di Rumah Peninggalan Belanda Sejak 1910 di Lumajang, Mau?)

Namun dari beberapa literatur lain Bung Karno membantah jika ia diinterogasi dalam perkara itu. Saat itu Bung Karno berada dalam pengasingan di Bengkulu. Terdapat pula keterangan Bung Karno ditulis dalam diorama itu.

"Pada Mei 1940 Hitler menyerbu Negeri Belanda. Pemerintah kolonial Belanda segera memanggilku ke kantor mereka di Fort Marlborough, sebuah benteng dari batu dan besi berhadapan dengan sebuah tebing yang curam, wajah-wajah mereka kelihatan murung".

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X