Kompas.com - 26/05/2017, 09:03 WIB
|
EditorI Made Asdhiana

"Pada Mei 1940 Hitler menyerbu Negeri Belanda. Pemerintah kolonial Belanda segera memanggilku ke kantor mereka di Fort Marlborough, sebuah benteng dari batu dan besi berhadapan dengan sebuah tebing yang curam, wajah-wajah mereka kelihatan murung".

Tulisan di diorama berlanjut, "Ir Soekarno... mereka berkata, Kami ingin memperingati peristiwa yang tidak menyenangkan ini. Sebagai satu-satunya seniman Bengkulu, anda ditunjuk untuk membuat sebuah tugu peringatan".

Dalam diorama Bung Karno menjawab, "Maksud anda, setelah menghukumku karena aku menghendaki kemerdekaan untuk rakyatku, tiba-tiba sekarang anda meminta kepadaku, tahanan anda, untuk membuat sebuah tugu karena bangsa lain merebut kemerdekaan negeri anda?"

"Meski aku ingin memuaskan selera seniku, apa yang kulakukan hanyalah menumpukkan tiga buah batu, yang satu di atas yang lain. Dari itulah semua yang kukerjakan. Sebetulnya mereka ketakutan. Tetapi aku justru tidak punya perasaan seperti itu dalam menciptakan sesuatu yang indah bagi mereka," tulisan diorama berakhir hingga kalimat ini.

Beberapa pengunjung Benteng Marlborough mengaku terharu setelah melihat dan membaca diorama tersebut.

Bung Karno merupakan seorang seniman, namun ia tahu seninya hanya untuk pembebasan dan keadilan.

"Saya merasa terharu dan bangga mengetahui kisah tiga buah batu Bung Karno ini. Ia merupakan seniman yang sungguh menjunjung tinggi idealisme, seni bagi dia merupakan pembebasan. Ia menolak permintaan Belanda untuk membuat tugu peringatan, namun ia ganti dengan tiga tumpuk batu. Ini keberanian bagi Bung Karno dan penghinaan untuk Belanda," kata Tara, salah seorang pengunjung.

Tara melanjutkan, tindakan Bung Karno menolak membuat tugu peringatan lalu mengganti dengan menumpuk tiga buah batu adalah bentuk perlawanan khas seniman sekaligus pemimpin pergerakan kemerdekaan. Keberanian tersebut sulit didapat pada manusia Indonesia saat ini.

"Ini bentuk keberanian melawan penindasan, padahal saat itu Bung Karno adalah tahanan Belanda, di bawah tekanan, namun ia tetap melawan dengan gaya khas seniman. Saya bangga, semoga diorama ini membuka idealisme kebangsaan generasi muda," ujar Tara.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.