Si Cantik di Ujung Sumsel

Kompas.com - 30/05/2017, 07:21 WIB
Dua wisatawan mengabadikan obyek wisata andalan Lubuk Linggau, air terjun Temam, Rabu (19/4/2017) malam. KOMPAS/RHAMA PURNA JATIDua wisatawan mengabadikan obyek wisata andalan Lubuk Linggau, air terjun Temam, Rabu (19/4/2017) malam.
EditorI Made Asdhiana

KOTA Lubuk Linggau memang tak setenar DKI Jakarta, Bali, ataupun Palembang. Namun, kota yang berada di perbatasan Sumatera Selatan dengan Bengkulu ini rajin berbenah untuk mengembangkan obyek wisatanya.

Pembenahan ini diharapkan dapat menarik perhatian para pelancong yang ingin menikmati suasana liburan yang berbeda.

Kota yang memiliki semboyan ”Sebiduk Semare” ini berjarak sekitar 305 km dari Palembang.

Lubuk Linggau bisa dijangkau dengan kendaraan bermotor dan kereta api dari Palembang. Dari Jakarta, akses lebih mudah karena ada pesawat langsung Jakarta-Lubuk Linggau.

Lokasinya yang berada di perbatasan menjadikan Kota Lubuk Linggau sebagai salah satu kawasan pelintasan bagi warga Sumsel yang ingin pergi ke beberapa kota lain, seperti Bengkulu dan Padang.

(BACA: Cantiknya 4 Kampung Warna-warni di Indonesia)

Kota yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Musi Rawas pada tahun 2001 ini memiliki sejumlah obyek wisata khas, mulai dari wisata religi, wisata alam, hingga obyek wisata buatan yang menarik untuk dikunjungi.

Keindahan itu dibalut dengan sentuhan teknologi di obyek wisata sehingga menjadi nilai tambah tersendiri.

Ada beberapa obyek wisata yang menjadi ikon Lubuk Linggau, seperti air terjun Temam, Masjid Agung As-Salam, Bukit Sulap, dan destinasi wisata terbaru, kampung warna-warni. Semua tempat itu dapat dikunjungi dalam waktu kurang dari 24 jam karena lokasinya berdekatan.

Hiruk pikuk kegiatan perekonomian langsung terasa ketika memasuki gerbang Kota Lubuk Linggau, Jumat (21/4/2017). Kunjungan wisata dapat dimulai dari air terjun Temam.

(BACA: Bertualang ke Air Terjun Tumpak Sewu, Wow Indahnya...)

Obyek wisata yang terletak sekitar 10 km dari pintu masuk Kota Lubuk Linggau ini menawarkan panorama alam yang indah.

Air Sungai Temam mengalir dari ketinggian 12 meter menutupi gugusan batu dengan lebar sekitar 25 meter. Keunikan itu membuat pengunjung memberi julukan air terjun Temam, yakni ”Niagara Mini”.

Sejak tiga tahun lalu, Pemerintah Kota Lubuk Linggau membangun sarana pendukung, seperti turap (dinding penahan tanah) dan tangga sehingga memudahkan wisatawan mencari lokasi yang cocok untuk mengabadikan keindahan alam ini.

Untuk semakin menarik wisatawan, Pemkot memasang sejumlah lampu light-emitting diode (LED) warna-warni yang menyorot langsung ke arah air terjun, mulai petang hingga malam hari. Efek yang ditimbulkan membuat air terjun menjadi incaran wisatawan untuk berfoto.

Bambang (26), penjual kelapa di kawasan wisata itu, berujar, setiap hari ada saja wisatawan yang berkunjung. Setidaknya dalam satu hari ada sekitar 50 orang yang datang. Jumlah ini meningkat terutama pada libur akhir tahun atau hari raya keagamaan.

”Saat itu, jumlah pengunjung bisa mencapai ribuan orang,” ujarnya.

Kampung warna-warni

Suasana ceria juga terpancar di kampung warna-warni yang diresmikan pertengahan April tahun ini.

Ratusan rumah penduduk di Kelurahan Lubuk Linggau Ulu, Kecamatan Lubuk Linggau Barat II, dipermak dengan cat warna-warni dan dihias mural yang kreatif. Tidak hanya rumah, jalan pun dicat beraneka warna.

Ide mengecat itu bermula dari kunjungan Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga Kota Lubuk Linggau Yetti Oktarina Prana ke kampung warna-warni di Jodipan, Malang, Jawa Timur, awal tahun lalu.

KOMPAS/RHAMA PURNA JATI Pemandangan Kota Lubuk Linggau dari puncak Bukit Sulap, Jumat (21/4/2017). Bukit yang berada di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut ini menawarkan panorama menawan.
Terinspirasi dengan kawasan tersebut, ia menggerakkan warga untuk membenahi kampung.

Dengan bantuan pihak swasta dan swadaya warga, Kampung Warna-warni di Lubuk Linggau terealisasi. Bahkan, wilayahnya lebih luas dari kampung warna-warni di Jodipan.

Wali Kota Lubuk Linggau Prana Putra Sohe mengatakan, pembangunan kampung warna-warni ini berawal dari upaya pemerintah untuk menghilangkan kesan kumuh.

Dulu kampung ini dijuluki ”Kampung Texas” Lubuk Linggau karena terkesan kumuh dan sering dijadikan tempat perjudian.

Kini, kampung tersebut disulap menjadi kampung yang indah dan menjadi tempat wisata yang memukau. Banyak wisatawan datang untuk mengabadikan keunikan tempat ini.

”Kampung ini menjadi kampung percontohan di Lubuk Linggau,” ujar Prana.

Bukit Sulap

Keindahan kampung warnawarni dapat dilihat dari puncak Bukit Sulap, destinasi wisata lain yang berjarak 2 kilometer dari kampung warna-warni.

KOMPAS/RHAMA PURNA JATI Cat warna-warni menyulap kampung kumuh di Kota Lubuk Linggau menjadi obyek wisata unik.
Bukit Sulap memiliki ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut. Tidak hanya kampung warna warni, seluruh Kota Lubuk Linggau juga dapat dilihat dari puncak bukit yang memiliki luas sekitar 200 hektar ini.

Dari ketinggian Bukit Sulap, tampak Kota Lubuk Linggau dengan hamparan pepohonan rimbun. Di kota ini luasan kawasan hutan mencapai 6.000 hektar. ”Ini menjadi salah satu keunggulan Kota Lubuk Linggau,” kata Prana.

Prana mengatakan, pembangunan kawasan wisata Bukit Sulap baru mencapai 70 persen. Nantinya akan dibangun kafe di puncak bukit sehingga wisatawan dapat menikmati keindahan kota dari ketinggian.

Selain itu, Bukit Sulap juga akan dilengkapi dengan sistem kelistrikan terintegrasi dan penyempurnaan sistem inclinator, yaitu moda transportasi berupa kereta pada lahan dengan kemiringan ekstrem yang beroperasi sejak dua tahun lalu.

”Kami sedang menunggu izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) karena Bukit Sulap merupakan taman nasional yang diawasi KLHK,” ujarnya.

Prana mengatakan, sejak tiga tahun lalu, Pemkot Lubuk Linggau fokus mengoptimalkan potensi pariwisata di Lubuk Linggau.

”Kami tidak memiliki tambang emas, minyak, dan batubara. Yang ada hanya pariwisata. Ini yang harus dioptimalkan,” katanya.

Pengembangan infrastruktur pariwisata yang sudah digencarkan. Selain itu, dikembangkan juga obyek wisata baru dengan penambahan infrastruktur pendukung.

Lokasi wisata yang akan dibenahi adalah air terjun Takli, Curug Layang, dan Sai Sandu. Sampai saat ini air terjun tersebut belum dikunjungi wisatawan karena aksesnya sulit.

Pemkot Lubuk Linggau juga mengembangkan obyek air terjun Temam dengan membangun eco green park di kawasan itu. Pemerintah telah menyediakan 3,8 hektar lahan untuk pembangunannya.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Lubuk Linggau Luthfi Ishak mengatakan, jumlah wisatawan yang datang ke Lubuk Linggau meningkat dari 15.000 orang di tahun 2015 menjadi 20.000 orang pada 2016. Tahun ini ditargetkan ada kunjungan 25.000 wisatawan.

Peningkatan kunjungan tidak lepas dari penambahan frekuensi penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, ke Bandara Silampari, Lubuk Linggau, dari sekali sehari menjadi dua kali sehari.

Penerbangan perlu waktu 1 jam 10 menit. Jumlah hotel meningkat dari 15 buah menjadi 18 buah, saat ini. ”Akhir tahun ini akan bertambah tiga hotel,” katanya. (Rhama Purna Jati)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 28 Mei 2017, di halaman 9 dengan judul "Si Cantik di Ujung Sumsel".



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X