Kompas.com - 31/05/2017, 10:46 WIB
Achmadi (kanan), salah satu pelanggan setia spanduk lukis Hartono (kiri) yang kembali datang untuk memesan spanduk Soto Lamongan, Selasa (30/5/2017). Achmadi adalah seorang pengusaha soto yang memiliki enam cabang di Bekasi. Sejak delapan tahun belakangan, Achmadi jatuh cinta pada karya Hartono. KOMPAS.com/MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIAAchmadi (kanan), salah satu pelanggan setia spanduk lukis Hartono (kiri) yang kembali datang untuk memesan spanduk Soto Lamongan, Selasa (30/5/2017). Achmadi adalah seorang pengusaha soto yang memiliki enam cabang di Bekasi. Sejak delapan tahun belakangan, Achmadi jatuh cinta pada karya Hartono.
|
EditorI Made Asdhiana

BEKASI, KOMPAS.com - Di antara deretan tenda street food di malam hari Anda bisa menemukan spanduk Soto Lamongan, Pecel Lele, hingga Seafood yang menggunakan spanduk lukis.

Spanduk itu masih eksis, di tengah himpitan spanduk print atau cetak digital yang lebih mudah ditemukan.

Tidak heran pembuatnya kini pun mulai sedikit, satu persatu menggantungkan kuas lukisnya. Bahkan tak jarang pengusaha kuliner harus memesannya langsung ke Lamongan, itupun masih harus mengantre.

Salah satu pelukis soto lamongan, Hartono menjelaskan pada KompasTravel kenapa kini mulai sulit memperoleh perajin spanduk lukis soto lamongan.

(BACA: Kisah Si Pembuat Spanduk Soto Lamongan...)

Sulitnya mencari pelukis spanduk ini tak hanya di Jabodetabek yang meramaikan soto lamongan, tetapi juga di daerah asalnya, Lamongan, Jawa Timur.

“Satu persatu mulai tumbang, karena tak bisa mengelola konsumen yang terbatas. Usaha ini memang sulit kalau nggak pakai strategi jangka panjang,” ujarnya kepada KompasTravel di rumahnya, di Bekasi, Selasa (30/5/2017).

Menurut Hartono faktor pertama langkanya pelukis spanduk soto lamongan yang ikonik ini ialah konsumennya yang hanya kalangan tertentu. Tidak semua pengusaha kuliner membutuhkannya, mayoritas mereka lebih memilih spanduk cetak digital berbahan plastik.

Konsumen yang sedikit tersebut membuat Hartono harus pintar-pintar mendekati konsumen, agar ketika dua sampai lima tahun kemudian spanduknya rusak akan kembali memesan padanya.

“Kuncinya usaha spanduk itu kualitas bukan kuantitas, karena ini berhubungan dengan konsumen, bagaimana melayani pelanggan. Sekali pelanggan kecewa, nggak akan balik lagi bertahun tahun, karena barang ini awet,” kata Hartono.

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Lomba untuk Desa Wisata, Total Hadiah Rp 150 Juta

Lomba untuk Desa Wisata, Total Hadiah Rp 150 Juta

Travel Update
Pemerintah Spanyol Ubah Aturan Berjemur di Pantai Wajib Bermasker

Pemerintah Spanyol Ubah Aturan Berjemur di Pantai Wajib Bermasker

Travel Update
Festival Songkran di Chiang Mai Thailand Batal

Festival Songkran di Chiang Mai Thailand Batal

Travel Update
 5 Hotel Instagramable di Jakarta, Asyik buat Staycation

5 Hotel Instagramable di Jakarta, Asyik buat Staycation

Jalan Jalan
Kabar Gembira, Disney World Izinkan Turis Lepas Masker Saat Berfoto di Area Tertentu

Kabar Gembira, Disney World Izinkan Turis Lepas Masker Saat Berfoto di Area Tertentu

Jalan Jalan
Fans Marvel! Avengers Campus di Disneyland akan Dibuka 4 Juni 2021

Fans Marvel! Avengers Campus di Disneyland akan Dibuka 4 Juni 2021

Travel Update
Ada Toilet Umum yang Unik di Tokyo, Terlihat Seperti Mengambang

Ada Toilet Umum yang Unik di Tokyo, Terlihat Seperti Mengambang

Jalan Jalan
Tahun 2021 Ini, Turis Bisa Piknik di Taman Istana Buckingham

Tahun 2021 Ini, Turis Bisa Piknik di Taman Istana Buckingham

Jalan Jalan
Pascagempa, Seluruh Wisata Kelolaan Jatim Park Group Tetap Buka

Pascagempa, Seluruh Wisata Kelolaan Jatim Park Group Tetap Buka

Travel Update
Harga Rapid Test Antigen di Stasiun Turun Jadi Rp 85.000

Harga Rapid Test Antigen di Stasiun Turun Jadi Rp 85.000

Travel Update
5 Kafe Rooftop Instagramable di Jakarta, Cocok untuk Santai Sore Hari

5 Kafe Rooftop Instagramable di Jakarta, Cocok untuk Santai Sore Hari

Jalan Jalan
Resmi! Ada Gondola Baru untuk Wisatawan di Dusun Girpasang Klaten

Resmi! Ada Gondola Baru untuk Wisatawan di Dusun Girpasang Klaten

Travel Update
Larangan Mudik, Hotel Diharapkan Beri Paket Staycation Bonus Hampers Isi Produk Lokal

Larangan Mudik, Hotel Diharapkan Beri Paket Staycation Bonus Hampers Isi Produk Lokal

Travel Update
Pertama di Asia: Travel Bubble Taiwan-Palau Dimulai, Ini Aturannya

Pertama di Asia: Travel Bubble Taiwan-Palau Dimulai, Ini Aturannya

Travel Update
Accor Luncurkan Paket Staycation Unik untuk Berwisata Lokal, Tertarik?

Accor Luncurkan Paket Staycation Unik untuk Berwisata Lokal, Tertarik?

Travel Promo
komentar di artikel lainnya
Close Ads X