"Berkah" Tukang Masak dari Sapi-sapi Australia...

Kompas.com - 02/06/2017, 03:28 WIB
Kerja keras peternak menjaga alam peternakannya menghasilkan daging berkualitas, sementara hasil racikan si tukang masak makin mantap di lidah penikmat daging. M LATIEF/KOMPAS.comKerja keras peternak menjaga alam peternakannya menghasilkan daging berkualitas, sementara hasil racikan si tukang masak makin mantap di lidah penikmat daging.
Penulis Latief
|
EditorLatief

VICTORIA, KOMPAS.com - Bicara urusan perut, kelebihan dari kualitas pakan sapi sangat mempengaruhi kenikmatan sajian kuliner daging. Pilihan daging sebagai sajian di meja makan mewah pun tak serta-merta ada begitu saja.

Hal itulah yang pertama dikatakan oleh Tim Hollands, chef ternama Australia, saat unjuk kebolehan mengolah aneka menu daging segar di South Melbourne Market, Rabu (31/5/2017).

"Cara memotong dan menyajikan sudah pasti tiap chef punya perbedaan tersendiri, tetapi khusus untuk pilihan daging terbaik sudah barang tentu datang dari wilayah di tenggara Australia (Victoria) ini. Daging sapi yang memakan pakan rumput-rumputan ini menghasilkan daging sapi yang rendah lemak," ujar Tim.

Daging sapi yang hanya diberi pakan rumput atau dikenal dengan istilah grass-fed beef memang paling terkenal dari Australia, terutama dari Negara Bagian Victoria. Sebanyak 2/3 dari total produksi daging sapi dan domba dari negara ini diberi pakan rumput-rumputan.

Tak heran, bukan hanya Tim yang mengatakan itu. Alejandro, chef di Pastuso, salah satu restoran terkenal di Melbourne, mengakui bahwa passion seorang tukang masak bukan cuma jago di dapur, tapi juga benar-benar ahli memilih daging berkualitas.

Pada pertemuan pertama dengan Kompas.com di restorannya, Rabu (31/5/2017) malam, Alejandro sudah menuturkan bahwa pilihan daging sapi segar untuk dia hidangkan di meja makan adalah grass-feed beef dari desa-desa peternakan Gippsland yang terkenal di Victoria.

Baca: Mencicipi Daging-daging Sapi Australia yang "Endes" Rasanya

Hari ini, Kamis (1/6/2017), Alejandro kembali menegaskan itu. Pertemuan kedua kali ini bukan di restoran, tapi langsung di Gippsland Natural, peternakan milik Paul Crock di kawasan Gippsland. Dia kembali memasak aneka daging sapi segar, dan menghidangkannya di meja panjang di halaman milik Paul.  

"Hubungan antara petani dan chef itu sangat erat dalam rantai kuliner daging sapi yang Anda makan. Peternakan, peternak, daging sapi, chef, dan Anda yang duduk di meja makan melahapnya. Dan, peternak dan tukang masak punya hubungan tersendiri dalam lingkaran itu," kata Alejandro.

M LATIEF/KOMPAS.com Paul Crock, Direktur Gippsland Natural, tergopoh-gopoh mendorong gulungan rumput kering yang sudah dikumpulkannya sejak musim semi lalu.
Baginya, memiliki hubungan dekat dengan petani adalah "wajib". Dia tak sekadar tukang masak yang terima beres mendapatkan daging untuk diolahnya dan dihidangkan. Alejandro bahkan tak mau ke pasar atau supermarket.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

30 Hotel di Medan Bersiap Buka Kembali Juni 2020

30 Hotel di Medan Bersiap Buka Kembali Juni 2020

Whats Hot
Pelaku Wisata Gunungkidul Bersiap Hadapi New Normal

Pelaku Wisata Gunungkidul Bersiap Hadapi New Normal

Whats Hot
Persiapkan 'New Normal', Kemenparekraf Susun Program CHS dengan Libatkan Pelaku Parekraf

Persiapkan "New Normal", Kemenparekraf Susun Program CHS dengan Libatkan Pelaku Parekraf

Whats Hot
Hotel-hotel di NTT Didorong Mulai Buka pada 15 Juni

Hotel-hotel di NTT Didorong Mulai Buka pada 15 Juni

Whats Hot
#BeliKreatifLokal, Kampanye Kemenparekraf untuk Selamatkan Pelaku Ekonomi Kreatif

#BeliKreatifLokal, Kampanye Kemenparekraf untuk Selamatkan Pelaku Ekonomi Kreatif

Whats Hot
Mau Wisata ke Labuan Bajo? Bakal Ada Registrasi Online untuk Turis

Mau Wisata ke Labuan Bajo? Bakal Ada Registrasi Online untuk Turis

Jalan Jalan
Tebar Semangat di Tengah Pandemi, Kemenparekraf Gelar Kopdar Virtual Komunitas

Tebar Semangat di Tengah Pandemi, Kemenparekraf Gelar Kopdar Virtual Komunitas

Whats Hot
Bisnis Kuliner Indonesia di Inggris Makin Marak di Tengah Corona

Bisnis Kuliner Indonesia di Inggris Makin Marak di Tengah Corona

Makan Makan
AirAsia Indonesia Kembali Layani Penerbangan Domestik dan Internasional pada 8 Juni 2020

AirAsia Indonesia Kembali Layani Penerbangan Domestik dan Internasional pada 8 Juni 2020

Whats Hot
Harga Melon Premium Jepang Terjun Bebas, dari Rp 684 Juta Menjadi Rp 16 Juta

Harga Melon Premium Jepang Terjun Bebas, dari Rp 684 Juta Menjadi Rp 16 Juta

Makan Makan
Resep dan Cara Membuat Siomay Ayam Udang, Bisa Jualan Online

Resep dan Cara Membuat Siomay Ayam Udang, Bisa Jualan Online

Makan Makan
Curahan Hati Mereka yang Rindu Libur Lebaran dan Kampung Halaman

Curahan Hati Mereka yang Rindu Libur Lebaran dan Kampung Halaman

Jalan Jalan
Pariwisata Buka Saat New Normal, Ini Hal-hal yang Harus Diketahui

Pariwisata Buka Saat New Normal, Ini Hal-hal yang Harus Diketahui

Whats Hot
Kabar Ongkos Wisata Turis Asing Dibiayai Pemerintah Jepang, Dibantah Japan Tourism Agency

Kabar Ongkos Wisata Turis Asing Dibiayai Pemerintah Jepang, Dibantah Japan Tourism Agency

Jalan Jalan
TravelCast, Podcast Baru dari Kompas Travel Membahas Wisata Belanja di Korea Selatan

TravelCast, Podcast Baru dari Kompas Travel Membahas Wisata Belanja di Korea Selatan

Travel Tips
komentar di artikel lainnya
Close Ads X