Kompas.com - 07/06/2017, 17:26 WIB
Ramainya Soto Lamongan Goyang Lidah malam hari di Ruko Bogor Permai, Jalan Jendral Sudirman, Bogor, Kamis (1/6/2017). Soto Goyang Lidah ialah Soto Lamongan yang berjualan di Bogor sejak tahun 1999. KOMPAS.com/Muhammad Irzal AdiakurniaRamainya Soto Lamongan Goyang Lidah malam hari di Ruko Bogor Permai, Jalan Jendral Sudirman, Bogor, Kamis (1/6/2017). Soto Goyang Lidah ialah Soto Lamongan yang berjualan di Bogor sejak tahun 1999.
|
EditorI Made Asdhiana

JAKARTA, KOMPAS.com - Jika Anda melihat tenda-tenda makanan street food bertuliskan Lamongan, lazimnya berjualan soto lamongan bersama pecel lele atau pecel ayam. Ternyata hal tersebut bukan tanpa alasan dan memiliki cerita di dalamnya.

Kedatangan soto lamongan ke Ibu Kota pada tahun 1950-1960 ternyata tidak dibarengi dengan kedatangan menu pecel lele yang hingga kini setia mendampingi soto tersebut di setiap kedainya.

Pecel lele itu tersebar mulai akhir tahun 1970-an, orang-orang mulai adopsi pecel lele untuk dijual sama soto lamongan di Jakarta, dan akhirnya tersebar,” ujar Jali Suprapto (74), pada KompasTravel, saat dikunjungi di warung makan Lamongan miliknya, Senin (5/6/2017).

Jali Suprapto ialah salah satu yang membawa soto lamongan bersama temannya ke Jakarta pada awal tahun 1960.

Ia mengatakan awal mula pecel lele tersebut dijual di daerah Jawa Timur, termasuk di Lamongan. Di sana para penjual soto lamongan, mulai mencoba berjualan lele pada tahun 1970.

(BACA: Mencicipi Mangut Lele Yu Mur, Warisan Tiga Generasi)

Di tempat yang berbeda, Soen’an Hadi Poernomo, Ketua Putra Asli Lamongan (Pualam) menjelaskan pada KompasTravel saat ditemui di Lenteng Agung, Selasa (6/6/2017).

Menurutnya masyarakat Lamongan memilih lele karena memiliki ketahanan hidup yang kuat, sehingga bisa segar selalu sebelum dimasak.

“Lele itu punya labirin di dalam tubuhnya, jadi tanpa air atau di tempat berlumpur yang ekstrem pun bisa bertahan hidup, akhirnya digoreng pas masih segar,” ujar Soen'an yang juga dosen Sekolah Tinggi Ilmu Perikanan Jakarta.

(BACA: Lele Goreng Sudah Biasa, Istana Lele Sajikan Lele Bakar Organik)

Dibanding ikan lain, lele memang lebih bernilai ekonomi tinggi di Lamongan. Pada akhirnya selain berjualan soto dan pecel lele, warga Lamongan yang merantau keluar pun berternak lele.

Menurutnya tak jarang dari para pembudi daya lele yang berasal dari Lamongan mengikuti program-program pembibitan yang diadakan Pualam. Karena selain berjualan soto, ternak lele juga merupakan profesi yang banyak digeluti warga Lamongan yang merantau ke kota-kota lain di Indonesia.

KOMPAS.com/Muhammad Irzal Adiakurnia Hartono mengerjakan spanduk lukis Soto Lamongan dan Pecel Lele dari hulu ke hilir bersama isterinya Sri Ningsih, Rabu (1/6/2017)
Meski lele sudah bisa dijual sekitar tahun 1970-an akhir di Jakarta, upaya penjualannya tidaklah mulus. Hartono, salah satu warga Lamongan yang sempat berjualan lele di awal kedatangannya tahun 1980, mengatakan tidak langsung menawarkan lele pada pelanggan.

“Jual lele itu ada prosesnya, memang di Lamongan sudah dijual, tapi dikenalkan ke Jakarta itu gak langsung lele, dicoba ikan-ikan lain dulu, kayak ikan gabus, bawal dan yang lainnya baru lele,” ujar Hartono pada KompasTravel yang saat ini memilih menggeluti usaha spanduk lukis Soto Lamongan di Bekasi, Kamis (1/6/2017).

Ia mengatakan, saat langsung menawarkan lele tanpa pilihan lain pelanggannya belum mengenal dan justru merasa jijik. Karena ikan lele pada saat itu belum lazim untuk dikonsumsi.

Alhasil ia mencoba memperkenalkannya dengan beragam pilihan ikan lain, sambil memperkenalkan kelezatan lele. Seiring waktu berjalan, banyak faktor yang akhirnya menjadikan lele sebagai hidangan ikan utama.

“Seperti lele itu lebih tahan lama, lebih segar, setelah dimasak juga akhirnya menyadari dagingnya enak,” ujar Hartono.

************************

Ingin mencoba wisata cruise gratis Singapura - Malaka - Singapura? Caranya gampang, ikuti kuis dari Omega Hotel Management di sini. Selamat mencoba!

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X