Kompas.com - 11/06/2017, 16:05 WIB
Pebalap-pebalap dari tim nasional Indonesia dan Prima Indonesia berlatih mengenal jalur di kawasan Pantai Wai Batalolong, Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Rabu (18/5/2016). Sedikitnya seratus pebalap dari 16 negara yang tergabung dalam 20 tim akan mengikuti lomba balap sepeda Tour de Flores 2016 yang menempuh rute Larantuka (Flores Timur) menuju Labuan Bajo (Manggarai Barat) dengan jarak 661,5 kilometer. KOMPAS/IWAN SETIYAWANPebalap-pebalap dari tim nasional Indonesia dan Prima Indonesia berlatih mengenal jalur di kawasan Pantai Wai Batalolong, Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Rabu (18/5/2016). Sedikitnya seratus pebalap dari 16 negara yang tergabung dalam 20 tim akan mengikuti lomba balap sepeda Tour de Flores 2016 yang menempuh rute Larantuka (Flores Timur) menuju Labuan Bajo (Manggarai Barat) dengan jarak 661,5 kilometer.
|
EditorI Made Asdhiana

KUPANG, KOMPAS.com - Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) Petrus Selestinus mengkritisi perhelatan Tour de Flores (TdF) yang mulai digelar pada akhir Juli 2017.

Menurut Petrus, sukses yang digembar-gemborkan dalam TdF 2016 masih menyisakan polemik soal beban biaya yang harus dipikul oleh pemerintah daerah dan polemik itu muncul kembali dalam penyelenggaraan TdF 2017.

Beban persoalan biaya itu, lanjut Petrus, wajib dikeluarkan pemerintah daerah melalui APBD oleh kabupaten yang menjadi daerah tuan rumah yang menjadi titik start, daerah etape dan daerah final di Labuan Bajo, yang akan diselenggarakan pada tanggal 24-29 Juli 2017.

"Semua pihak mengklaim diri telah berhasil menyiapkan perhelatan TdF 2017, tetapi suara masyarakat sebagai salah satu elemen penting dalam kepariwisataan nyaris tak terdengar," kata Petrus kepada Kompas.com, Minggu (11/6/2017).

(BACA: Tour de Flores 2017 Digelar 24-29 Juli)

Kesiapan pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten, sambung Petrus, patut diberi apresiasi, karena hal ini membuktikan bahwa pemerintah berupaya keras untuk menjadikan TdF 2017 sebagai upaya mempromosikan pariwisata Flores yang diisi dengan kegiatan balap sepeda internasional dengan wisata olahraga lainnya.

"Kalau klaim keberhasilan persiapan TdF 2017 dari sisi pemerintah dan panitia penyelenggara sudah diketahui oleh publik, lalu bagaimana dengan suara masyarakat, sebagai salah satu pihak atau pelaku kegiatan pariwisata khususnya dalam TdF 2017 ini," ujarnya.

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN Pebalap melaju di tanjakan Pantai Paga pada etape kedua Tour de Flores yang menempuh jarak 141,3 km dari Maumere menuju Ende, Nusa Tenggara Timur, Jumat (20/5/2016).
Masyarakat Flores seharusnya menjadi pelaku utama dalam kegiatan TdF 2017 sedangkan pemerintah daerah cukup hanya menjadi fasilitator sekaligus membimbing masyarakat dalam karya kepariwisataan ini.

"Namun yang terjadi justru sebaliknya, karena masyarakat justru menjadi penonton pasif yang tidak tahu dan tidak dapat apa-apa," tegasnya.

(BACA: Jarak Tempuh Tour de Flores Bertambah Menjadi 808 Kilometer)

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Liburan di Ngawi, Wisatawan Bisa Ikut Wisata Jeep Lewat Jalur Ekstrem

Liburan di Ngawi, Wisatawan Bisa Ikut Wisata Jeep Lewat Jalur Ekstrem

Jalan Jalan
Seperti Apa Pesiapan Ngawi Sambut Wisatawan Lokal Saat Libur Lebaran?

Seperti Apa Pesiapan Ngawi Sambut Wisatawan Lokal Saat Libur Lebaran?

Travel Update
Tempat Wisata di Luar Lembaga Konservasi Dilarang Sajikan Atraksi Lumba-lumba

Tempat Wisata di Luar Lembaga Konservasi Dilarang Sajikan Atraksi Lumba-lumba

Travel Update
5 Hotel di Bogor untuk Staycation Bersama Keluarga Saat Mudik Dilarang

5 Hotel di Bogor untuk Staycation Bersama Keluarga Saat Mudik Dilarang

Jalan Jalan
5 Kota Ramah Muslim di Eropa, Pas Dikunjungi Usai Pandemi

5 Kota Ramah Muslim di Eropa, Pas Dikunjungi Usai Pandemi

Jalan Jalan
Pemugaran Benteng Pendem Ngawi Selesai 2023, Ini Rencana ke Depannya

Pemugaran Benteng Pendem Ngawi Selesai 2023, Ini Rencana ke Depannya

Travel Update
Larangan Mudik Dikhawatirkan Sebabkan Pariwisata Anjlok Lagi

Larangan Mudik Dikhawatirkan Sebabkan Pariwisata Anjlok Lagi

Travel Update
Kebun Raya Indrokilo Berlakukan Aturan Reservasi Tiket Lewat Aplikasi

Kebun Raya Indrokilo Berlakukan Aturan Reservasi Tiket Lewat Aplikasi

Travel Update
Kebun Raya Indrokilo Boyolali Buka Lagi, tetapi Tutup Saat Akhir Pekan

Kebun Raya Indrokilo Boyolali Buka Lagi, tetapi Tutup Saat Akhir Pekan

Travel Update
Biasa Dibanderol Rp 9 Juta, Harga Paket Wisata Turki Kini Mulai Rp 5 Juta

Biasa Dibanderol Rp 9 Juta, Harga Paket Wisata Turki Kini Mulai Rp 5 Juta

Travel Promo
Istana Raja Thailand Ditutup Sementara Akibat Kasus Covid-19

Istana Raja Thailand Ditutup Sementara Akibat Kasus Covid-19

Travel Update
Tahiti Hingga Moorea di Polinesia Perancis Buka Lagi 1 Mei 2021

Tahiti Hingga Moorea di Polinesia Perancis Buka Lagi 1 Mei 2021

Travel Update
6 Wisata di Bogor Tengah, Pas Dikunjungi Saat Libur Lebaran

6 Wisata di Bogor Tengah, Pas Dikunjungi Saat Libur Lebaran

Itinerary
Catat, Ide Staycation di Kota Bandung Saat Libur Lebaran 2021

Catat, Ide Staycation di Kota Bandung Saat Libur Lebaran 2021

Itinerary
Uni Emirat Arab Catat Okupansi Hotel Tertinggi Kedua di Dunia 2020

Uni Emirat Arab Catat Okupansi Hotel Tertinggi Kedua di Dunia 2020

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads X