Kompas.com - 22/06/2017, 15:08 WIB
Umat Islam di Kampung Gelgel, Kabupaten Klungkung, Bali, menggelar tradisi ngaminang di halaman Masjid Nurul Huda, Kamis (15/6/2017) malam. Tradisi ngaminang ini merupakan tradisi makan bersama yang disajikan dalam suatu perjamuan dari makanan satu sagi (nampan) untuk empat orang. KOMPAS/AYU SULISTYOWATIUmat Islam di Kampung Gelgel, Kabupaten Klungkung, Bali, menggelar tradisi ngaminang di halaman Masjid Nurul Huda, Kamis (15/6/2017) malam. Tradisi ngaminang ini merupakan tradisi makan bersama yang disajikan dalam suatu perjamuan dari makanan satu sagi (nampan) untuk empat orang.
EditorI Made Asdhiana

DI Gelgel, berdiam hati-hati yang damai. Di kampung Muslim tertua yang berada di Pulau Dewata ini, umat Islam dan umat Hindu duduk bersama. Bulan Ramadhan menjadi saksi kebersamaan mereka melalui tradisi ngaminang, makan bersama saat berbuka puasa.

Matahari semakin lengser ke barat ketika ibu-ibu bergantian datang ke Masjid Nurul Huda di kampung Muslim Gelgel, Kabupaten Klungkung, Bali, pekan lalu.

Mereka membawa sagi atau nampan berbentuk lingkaran besar. Isinya lengkap, mulai dari nasi, lauk pauk, kerupuk, hingga buah dan minuman kemasan. Sagi ini ditutup dengan saap atau semacam tudung saji khas Bali.

Hari itu memang istimewa. Bertepatan dengan dimulainya 10 hari kedua bulan Ramadhan digelarlah ngaminang, buka puasa bersama yang diikuti semua lapisan masyarakat, termasuk tokoh lintas agama, mulai dari bupati, keluarga Puri atau Kerajaan Klungkung, hingga para kepala desa sekitar.

(BACA: Serunya Berburu Takjil Berbuka Puasa di Halal Street Chiang Mai)

Ngaminang adalah budaya makan bersama dengan sagi sebagai alat sajinya. Orang Bali biasa menyebutnya tradisi magibung dengan empat orang duduk bersila melingkari satu sagi.

Di depan sagi itulah kebersamaan terasa. Tak hanya berbagi nasi lauk-pauk, tetapi juga cerita dan kegembiraan.

Sajian yang dihidangkan bukan berasal dari dapur umum para ibu, melainkan dari keluarga-keluarga yang mengantarkan sagi berisi nasi beserta lauk lengkapnya, sesuai kemampuan masing-masing.

Dengan begitu, satu sagi dengan sagi lainnya berbeda-beda isinya. Namun, itu tidak menjadi masalah karena intinya adalah berbagi keikhlasan menyediakan menu berbuka puasa. Sore itu, tersaji 91 sagi yang kemudian disusun berderet rapi di teras masjid.

(BACA: Tak Susah Jalani Ibadah Ramadhan di Korea Selatan...)

Salah satu warga, Buraidah (70), merasa beruntung karena mengalami tradisi turun-temurun ini sejak kecil.

Hari itu ia menyediakan menu nasi, ayam bumbu pedas, sate lilit, tempe, kuah nangka, kerupuk, dan buah pisang. Begitu pula dengan warga lainnya, Ayu Agustin (28) dan Rahma (33), yang membawa sagi dengan isi berbeda.

"Bapak perbekel atau kepala desa berpesan untuk tidak memasak lauk dengan bahan dari daging sapi karena ada tetangga dari umat Hindu yang ikut berbuka bersama di masjid. Kami harus menghargai itu karena sebagian besar umat Hindu tidak makan daging sapi. Sama halnya ketika umat Hindu menghargai umat Islam saat mengundang hajatan. Mereka juga tidak menyajikan masakan dari daging babi. Itu bukan masalah besar bagi ibu-ibu di sini,” kata Rahma dengan ramah.

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Taif, Kota Mawar di Arab Saudi yang Mekar Saat Ramadhan Tahun Ini

Taif, Kota Mawar di Arab Saudi yang Mekar Saat Ramadhan Tahun Ini

Travel Update
Liburan di Ngawi, Wisatawan Bisa Ikut Wisata Jeep Lewat Jalur Ekstrem

Liburan di Ngawi, Wisatawan Bisa Ikut Wisata Jeep Lewat Jalur Ekstrem

Jalan Jalan
Seperti Apa Pesiapan Ngawi Sambut Wisatawan Lokal Saat Libur Lebaran?

Seperti Apa Pesiapan Ngawi Sambut Wisatawan Lokal Saat Libur Lebaran?

Travel Update
Tempat Wisata di Luar Lembaga Konservasi Dilarang Sajikan Atraksi Lumba-lumba

Tempat Wisata di Luar Lembaga Konservasi Dilarang Sajikan Atraksi Lumba-lumba

Travel Update
5 Hotel di Bogor untuk Staycation Bersama Keluarga Saat Mudik Dilarang

5 Hotel di Bogor untuk Staycation Bersama Keluarga Saat Mudik Dilarang

Jalan Jalan
5 Kota Ramah Muslim di Eropa, Pas Dikunjungi Usai Pandemi

5 Kota Ramah Muslim di Eropa, Pas Dikunjungi Usai Pandemi

Jalan Jalan
Pemugaran Benteng Pendem Ngawi Selesai 2023, Ini Rencana ke Depannya

Pemugaran Benteng Pendem Ngawi Selesai 2023, Ini Rencana ke Depannya

Travel Update
Larangan Mudik Dikhawatirkan Sebabkan Pariwisata Anjlok Lagi

Larangan Mudik Dikhawatirkan Sebabkan Pariwisata Anjlok Lagi

Travel Update
Kebun Raya Indrokilo Berlakukan Aturan Reservasi Tiket Lewat Aplikasi

Kebun Raya Indrokilo Berlakukan Aturan Reservasi Tiket Lewat Aplikasi

Travel Update
Kebun Raya Indrokilo Boyolali Buka Lagi, tetapi Tutup Saat Akhir Pekan

Kebun Raya Indrokilo Boyolali Buka Lagi, tetapi Tutup Saat Akhir Pekan

Travel Update
Biasa Dibanderol Rp 9 Juta, Harga Paket Wisata Turki Kini Mulai Rp 5 Juta

Biasa Dibanderol Rp 9 Juta, Harga Paket Wisata Turki Kini Mulai Rp 5 Juta

Travel Promo
Istana Raja Thailand Ditutup Sementara Akibat Kasus Covid-19

Istana Raja Thailand Ditutup Sementara Akibat Kasus Covid-19

Travel Update
Tahiti Hingga Moorea di Polinesia Perancis Buka Lagi 1 Mei 2021

Tahiti Hingga Moorea di Polinesia Perancis Buka Lagi 1 Mei 2021

Travel Update
6 Wisata di Bogor Tengah, Pas Dikunjungi Saat Libur Lebaran

6 Wisata di Bogor Tengah, Pas Dikunjungi Saat Libur Lebaran

Itinerary
Catat, Ide Staycation di Kota Bandung Saat Libur Lebaran 2021

Catat, Ide Staycation di Kota Bandung Saat Libur Lebaran 2021

Itinerary
komentar di artikel lainnya
Close Ads X