Pencarian Si Merah yang Hilang

Kompas.com - 22/06/2017, 19:52 WIB
Menjelang Idul Fitri, sejumlah perajin memproduksi batik untuk pakaian gamis. Hal itu untuk menyiasati pemasaran agar tetap stabil di masa Lebaran. Siti Hajir, perajin di sentra batik kawasan Seberang, Kota Jambi, menjemur hasil pewarnaan batik, Jumat (16/6/2017). KOMPAS/IRMA TAMBUNANMenjelang Idul Fitri, sejumlah perajin memproduksi batik untuk pakaian gamis. Hal itu untuk menyiasati pemasaran agar tetap stabil di masa Lebaran. Siti Hajir, perajin di sentra batik kawasan Seberang, Kota Jambi, menjemur hasil pewarnaan batik, Jumat (16/6/2017).
EditorI Made Asdhiana

BUTUH perjuangan untuk mengumpulkan semua kekayaan warna alam batik Jambi. Hampir satu abad tradisi kerajinan tangan itu tenggelam bersama kekalahan Sultan Jambi dari Kolonial.

Setelah kini batik kembali populer di Jambi, tradisi itu tak lagi sama. Pewarnaan batik yang bertumpu pada ragam tanaman lokal kini nyaris punah.

Bahkan, usaha Azmiah (51), perajin batik Jambi, mendapatkan tanaman penghasil warna merah belum menghasilkan. Merah identitas warna batik asal Jambi. Hampir setiap produksi batik Jambi memerlukan paduan warna merah, baik merah kelam maupun terang.

”Inilah yang jadi kendala. Kami belum bisa mendapatkan lagi bahan pewarna alam,” ujar Azmiah, Senin (19/6/2017). Ia masih memanfaatkan pewarna kimia.

(BACA: Batik Gonggong, Ciri Khas Tanjungpinang dengan Sentuhan Pekalongan)

Azmiah masih ingat semasa kecil kerap diajak ibunya, almarhum Asmah, keluar masuk hutan. Pada waktu itu, sekitar rumah tinggalnya di kawasan Seberang, Kota Jambi, masih dikelilingi hutan rakyat.

Sangat mudah mendapatkan tanaman yang dibutuhkan untuk sumber pewarnaan. Sebut saja kayu bulian, kulit lempato, kulit kayu marelang, getah kayu tunjung, atau kayu jelawe.

Untuk warna merah, mereka bisa menggunakan jernang. Ada pula yang menggunakan kayu secang. Namun, kata Edi Sunarto, suaminya, dua jenis tanaman itu langka. ”Untuk mendapatkan sulit sekali, harus ke hutan yang jauh di pedalaman,” ujarnya.

Pemilik usaha Rumah Batik Azmiah itu kini lebih banyak memanfaatkan indigo sebagai bahan pewarna alam. Untuk merah, ia terpaksa menggunakan pewarna kimia.

(BACA: Melihat Lebih Dekat Batik Khas Raja Ampat)

Siti Hajir (44), pemilik usaha Rumah Batik Siti Hajir, mencoba bertahan memanfaatkan bahan alam yang ada di sekitar rumahnya. Sebut saja buah jengkol dan serbuk kayu bulian dimanfaatkan untuk memberi warna coklat pada kain batiknya.

Untuk warna krem, ia gunakan rebusan daun jambu dan warna kuning dari rebusan nangka. Namun, Siti juga terkendala mendapatkan bahan alam pewarnaan merah.

Menurut Siti Hajir, meskipun membutuhkan proses lebih panjang, harga kain batik dengan pewarna alam jauh lebih tinggi.

”Selisihnya bisa mencapai Rp 100.000 hingga Rp 200.000 per meter dibandingkan dengan batik dengan pewarnaan kimia,” kata Siti. Ia merupakan generasi ketiga dari usaha batik keluarganya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X