Kompas.com - 25/06/2017, 13:09 WIB
Ilustrasi. THINKSTOCKIlustrasi.
|
EditorI Made Asdhiana

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketupat menjadi hidangan wajib ada bagi masyarakat Muslim Indonesia setiap Hari Raya Idul Fitri. Padahal, jika diamati hidangan ketupat sebenarnya tak ada di negara-negara Timur Tengah. Dari mana sebenarnya tradisi makan ketupat ini berasal?

"Menurut cerita rakyat, ketupat itu berasal dari masa hidup Sunan Kalijaga, tepatnya di masa syiar Islamnya pada abad ke-15 hingga 16. Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai budaya sekaligus filosofi Jawa yang berbaur dengan nilai ke-Islaman," kata sejarawan kuliner sekaligus penulis buku "Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia", Fadly Rahman, saat dihubungi KompasTravel, Sabtu (24/6/2017).

Masyarakat Jawa dan Sunda menyebut ketupat sebagai kupat yang berarti ngaku lepat atau mengakui kesalahan. Simbolisasi lain dari ketupat, menurut Fadly, laku papat (empat laku) yang juga melambangkan empat sisi dari ketupat.

(BACA: Ketupat Berbungkus Janur dan Plastik, Apa Bedanya?)

Namun begitu, Fadly tak memungkiri jika ketupat bisa jadi berasal dari zaman yang lebih lama, yakni zaman Hindu-Buddha di Nusantara.

Merujuk pada zaman pra Islam, nyiur dan beras sebagai sumber daya alam sudah dimanfaatkan untuk makanan oleh masyarakat di zaman tersebut. Juga di Bali hingga saat ini menggunakan ketupat (orang Bali menyebutnya tipat) dalam ritual ibadah.

"Secara tertulis dalam prasasti yang diteliti oleh para ahli, tak disebut secara spesifikasi merujuk ke ketupat, tetapi indikasi makanan beras yang dibungkus nyiur sudah dilakukan sebelum masa pra Islam," kata Fadly.

Ketupat ahirnya tak hanya menjadi identitas di Indonesia melainkan juga di Asia Tenggara khususnya negara Melayu, identik dengan Hari Raya Idul Fitri.

"Di Islam, ketupat dicocokkan lagi dengan nilai-nilai ke-Islaman oleh Sunan Kalijaga, membaurkan pengaruh Hindu pada nilai nilai ke-Islaman, menjadi akulturasi yang padu antara keduanya," tambah Fadly.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.