Kompas.com - 03/08/2017, 19:10 WIB
Prosesi pemotongan rambut pada rangkaian Dieng Culture Festival (DCF) tahun 2016 di Komplek Candi Arjuna, Dieng Kulon, Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah. ARSIP KELOMPOK SADAR WISATA DIENGProsesi pemotongan rambut pada rangkaian Dieng Culture Festival (DCF) tahun 2016 di Komplek Candi Arjuna, Dieng Kulon, Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah.
|
EditorI Made Asdhiana

DIENG, KOMPAS.com - Lebih dari 3.000 wisatawan diprediksi akan memadati kompleks Dieng Plateau, Jawa Tengah untuk menyaksikan perhelatan Dieng Culture Festival (DCF) 2017 akhir pekan ini (4-6 Agustus 2017).

Bahkan, tiket yang dibanderol dengan harga Rp 300.000 tersebut ludes sejak jauh-jauh hari.

Salah satu pengunjung Dieng asal Yogyakarta, Romi (27) mengungkapkan, hal tersulit saat momen akbar tahunan ini adalah mencari homestay atau rumah singgah. Sebab, rata-rata kamar penginapan di kawasan Dieng sudah dipesan sejak H-30.

“Kalau saya sudah ada kamar, tapi teman saya yang baru nyusul hari Sabtu belum nemu kamar. Ini sedang saya carikan,” katanya ketika ditemui di komplek terminal Dieng, Kamis (3/8/2017).

Bagi Romi, mustahil jika memaksa bermalam di camp area pada musim pancaroba seperti ini. Sebab, dari referensi yang dicarinya di jejaring sosial, suhu Dieng pada malam berada di kisaran 7-10 derajat Celcius. Bahkan dapat turun drastis hingga minus 5 derajat di pagi hari.

“Kalau pagi bisa keluar embun upas-nya (embun yang membeku menjadi butiran es),” ujarnya.

Kepala Desa Dieng Kulon, Slamet Budiono menuturkan, di desanya ada sekitar 45 homestay resmi yang juga sudah ludes sejak H-30.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Meski demikian, dia mengimbau kepada masyarakat untuk dapat membuka jasa homestay ‘dadakan’ jika memungkinkan untuk menampung para tamu.

Meski demikian, homestay ‘dadakan’ ini tentu tidak dapat dicari melalui situs resmi www.dienghomestay.com, sehingga perlu meminta petunjuk kepada masyarakat lokal yang ditemui di sekitaran Dieng.

“Tapi tidak perlu takut, masyarakat Dieng terkenal ramah dan siap membantu para wisatawan. Saya juga sudah mengimbau kepada masyarakat dilarang meminta ongkos kepada wisatawan yang diantar ke homestay. Ongkos ini nanti sudah diatur antara calo dan pemilik homestay,” katanya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X