Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 17/08/2017, 09:19 WIB
EditorAmir Sodikin

Keduanya saling terhubung oleh tali dan cincin kait. Elbrus benar-benar menguras energi. Kaki terus menapak maju sampai kemudian tak ada lagi dataran yang lebih tinggi. Shola menyusul beberapa langkah di belakang.

Puncak! Tepat pukul 11.50 waktu setempat. Dua mahasiswa pendaki yang sudah tujuh bulan hanyut oleh tempaan latihan berat akhirnya sampai di tanah tertinggi pegunungan Kaukasus itu.

Satu hari menjelang hari paling bersejarah bagi bangsa Indonesia, Sang Saka berkibar di ulang tahun ke-72 Republik Indonesia. Kibaran merah putih diiringi pula dengan gema lagu Indonesia Raya.

Usai melakukan upacara dan doa sejenak, waktu sudah tak cukup lagi untuk berlama-lama di puncak yang pertama kali dijejak pada 1874 itu. Elbrus yang sejak pagi benderang, lamat-lamat mulai ditingkahi angin dan kabut.

Benar kata banyak pendaki sebelumnya, cuaca sering berubah menjadi ganas di pegunungan ini. Gede dan Shola berkemas dan buru-buru turun.

Babak berikutnya ini ternyata bukan persoalan gampang. Gunung salju berbeda dengan gunung tropis seperti yang selama ini mereka daki. Tenaga yang sudah terkuras ketika naik, sekarang musti disisakan untuk lebih waspada menginjak salju juga es yang bisa menggelincirkan.

Setiap tapak mengandung kehati-hatian. Pendakian Elbrus memang penuh dengan program dan jadwal yang padat. Setidaknya memerlukan waktu latihan dan aklimatisasi selama empat hingga lima hari.

Sepintas pendakian gunung salju seperti Elbrus terlihat mudah, lantaran treknya yang sangat terlihat jelas. Namun, justru itulah di sana potensi bahaya mengancam pendaki yang asal dan tidak siap.

Faktor cuaca yang bisa berubah setiap saat itu, membuat banyak pendakian selalu menambah
cadangan waktu. Seperti halnya BRI-Brawijaya Elbrus Expedition kali ini merencanakan hari pendakian ke puncak pada 16 Agustus dan cadangan pada 17 Agustus bila cuaca buruk.

Bagi pendakian lain, tak jarang harus menunggu dua hingga tiga hari sampai memperoleh waktu terbaik. Perjalanan turun dari puncak menuju Barrel Hut atau biasa dikenal dengan Garabashi (3.720 mdpl) diwarnai dengan badai dan kabut.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+