Kompas.com - 28/08/2017, 17:03 WIB
Biji dan bunga pala dijemur warga Desa Gamtala, Kecamatan Jailolo, Maluku Utara, Sabtu (18/5/2013). Rempah-rempah seperti pala dan cengkeh merupakan produk utama yang dihasilkan di daerah tersebut.
KOMPAS/AMANDA PUTRIBiji dan bunga pala dijemur warga Desa Gamtala, Kecamatan Jailolo, Maluku Utara, Sabtu (18/5/2013). Rempah-rempah seperti pala dan cengkeh merupakan produk utama yang dihasilkan di daerah tersebut.
|
EditorSri Anindiati Nursastri

 

JAKARTA, KOMPAS.com - Setelah Kolombus pulang dari penjelajahannya tahun 1493, Kerajaan Spanyol bergerak cepat. Sesuai standar diplomatik abad ke-15 untuk mengklarifikasi cakupan berlayar di masa mendatang.

Vatikan yang waktu itu menjadi institusi kehakiman baik duniawi maupun akhirat akhirnya memberi kedaulatan kepada Spanyol atas tanah yang dikunjungi Kolombus.

Namun Portugis tak terima, dan meduga keputusan Paus berdarah Spanyol saat itu berat sebelah. Lewat negosiasi panjang di Kota Tordesillas, Spanyol, akhirnya keluar Perjanjian Tordesillas. Perjanjian ini mengatur wilayah kedaulatan masing-masing negara.

BACA: Mengapa Rempah-rempah Begitu Diburu pada Zaman Dahulu?

Masing-masing diberikan wilayah garis bujur sekitar 1.185 mil dari kepulauan tanjung Verde. Spanyol dapat bagian barat, Portugis dapat bagian timur. Perjanjian tersebut layaknya membagi dunia menjadi dua wilayah.

Pada akhirnya Perjanjian Tordesillas memberi keuntungan untuk Portugis. Lagipula perjanjian tersebut dianggap tak efektif, karena tak ada cara akurat mengukur batas wilayah pada zaman tersebut.

Tahun 1497, penjelajah asal Portugis Vasco da Gama memulai penjelajahan dunia sampai di India. Dari sana penjelajahan bangsa Portugis terus berlanjut ke jantung Asia. Tahun 1511, perjalanan berlanjut ke Teluk Benggala, kemudian ke Pelabuhan Malaka. 

BACA: Sama-sama Kaya Rempah, Apa Beda Masakan India dan Indonesia?

Digambarkan Portugis, Malaka adalah pelabuhan laut terkaya di dunia saat itu. Menjadi tempat transit dari jenis rempah paling mahal seperti cengkeh, pala, dan bunga pala dari kepualuan yang masih misterius.

Antonio de Abreu pada saat jatuhnya Malaka, Desember 1511, memimpin penjelajahan menemukan Maluku. Dengan tiga kapal kecil dan pemandu lokal, akhirnya de Abreu sampai di Kepulauan Banda dan kembali dengan muatan buah dan bunga pala.

Rekan de Abreu, Francisco Serrao tahun 1512 akhirnya sampai di Ternate dan mendapat kepercayaan untuk membantu Ternate yang berkonflik dengan Tidore.

Inilah awal mula dari kolonialisme di Tanah Air. Semua dimulai dari Pulau Rempah dan ambisi para penjelajah dunia menemukan yang berakhir menguasai Pulau Rempah.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.