Kompas.com - 04/10/2017, 08:14 WIB
Pekerja memperlihatkan kain songket di Gerai Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekrasda) Aceh Utara, di Lhokseumawe, Selasa (3/10/2017). KOMPAS.com/MASRIADIPekerja memperlihatkan kain songket di Gerai Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekrasda) Aceh Utara, di Lhokseumawe, Selasa (3/10/2017).
|
EditorI Made Asdhiana

LHOKSEUMAWE, KOMPAS.com – Gerai itu berada di Jalan Tengku Chik Ditiro, Kota Lhokseumawe. Sedikit menyempil di samping kiri gedung Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Aceh Utara, Aceh.

Di ruangan itu, terdapat dua pekerja. Salah satunya Dewi. Satu unit komputer terpajang. Selebihnya deretan rak kaca yang berisi kain dan tas khas Aceh.

Di situlah, produk kerajinan daerah yang dijuluki bumoe pase itu dipajang. “Ini barangnya agak sepi. Karena baru pulang pameran di Bandung, Jawa Barat,” kata Dewi, Selasa (3/0/2017).

(BACA: Menjaga Songket Aceh Tak Mati di Kampung Sendiri)

Terlihat berbagai ukuran tas motif Aceh diatur di sana. Sebagian model tas tangan, sebagian lagi tas jinjing, ada juga tas ukuran besar. Khusus kain, songket tersedia di sini.

Ukurannya dua meter, plus selendang yang biasa digunakan menyilang di tangan atau bahu kaum ibu. Kain ini beragam motif. Didominasi warna hitam. Sedangkan bagian bawah dipasang motif pinto Aceh atau motif rencong. Di sinilah kekhasan itu yang disebut songket Aceh.

“Ini dibeli dari perajin. Tas juga begitu. Semua dari perajin yang menjadi mitra Dekranas,” kata Dewi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Gerai itu juga melayani penjualan. Jika ada yang berkunjung dan membeli harganya dipatok Rp 300.000-Rp 400.000 per satu lembar kain songket lengkap dengan selendangnya.

Saat itu hanya tersisa dua warna, yaitu kuning keemasan dan warna perak. Persediaan lainnya telah habis terjual saat mengikuti sejumlah pameran di tanah air.

Pekerja memperlihatkan kain songket di Gerai Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekrasda) Aceh Utara, di Lhokseumawe, Selasa (3/10/2017). KOMPAS.com/MASRIADI Pekerja memperlihatkan kain songket di Gerai Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekrasda) Aceh Utara, di Lhokseumawe, Selasa (3/10/2017).
“Pameran buat promosi, agar masyarakat bisa kenal soal kerajinan asal Aceh Utara ini,” tambah Nur Leli, penjaga gerai itu.

Namun, gerai itu bukan dikhususkan untuk penjualan kerajinan. Namun dikhususkan buat promosi kerajinan. Sehingga ada berbagai model tas dan songket yang dipajang di sana. “Jika mau beli dalam jumlah besar, bisa dikoneksikan ke perajinnya,” kata Dewi.

Nah, kini, songket Aceh perlahan namun pasti terus merambah nusantara. Dari pameran ke pameran diharapkan songket itu terus membumi. Sepopuler batik, begitu pula harapan mereka, agar songket juga populer di tanah air.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.