Kompas.com - 05/10/2017, 19:02 WIB
EditorI Made Asdhiana

AMLAPURA, KOMPAS.com - Menteri Pariwisata Arief Yahya memastikan suasana Pulau Bali betul-betul aman. Dia berkunjung hingga ke Pura Besakih, yang jaraknya hanya 9 km dari pusat erupsi Gunung Agung. Daerah “merah” hingga  radius 12 km yang sudah harus dikosongi.

Dari pura terbesar di Bali yang berketinggian 950 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu tinggal 2.085 meter lagi sampai puncak kaldera gunung, yang persis di belakangnya. “Ikuti saran dan anjuran pemerintah, itu yang terbaik,” kata Arief Yahya dalam siaran pers Kementerian Pariwisata, Kamis (5/10/2017).

(BACA: Menpar Minta Informasi Kondisi Gunung Agung Harus Satu Pintu)

Fenomena alam ini, menurut Menpar, tidak ada yang bisa memprediksi. Juga belum ada teknologi yang bisa menjangkau, untuk memastikan waktu, jam, dan tanggal erupsi. Ditandai dengan tremor, getaran atau gempa kecil yang hitungannya hanya menit dan jam.

"Karena itu, instruksi Pak Gubernur sudah betul, di radius 12 km itu harus dikosongkan," kata Arief Yahya.

(BACA: Bila Gunung Agung Erupsi, Kota Denpasar Jadi Tempat Evakuasi Wisatawan)

Pasca penetapan status Awas di Gunung Agung, Kabupaten Karangasem, Kementerian Pariwisata tak pernah berhenti memantau perkembangan menit per menit. Menpar Arief Yahya bahkan terjun langsung memantaunya sampai ke Pura Besakih.

Menteri Pariwisata Arief Yahya memastikan suasana Pulau Bali betul-betul aman. Dia berkunjung hingga ke Pura Besakih, yang jaraknya hanya 9 km dari pusat erupsi Gunung Agung dan berbincang-bincang dengan wisatawan, Kamis (5/10/2017).ARSIP KEMENTERIAN PARIWISATA Menteri Pariwisata Arief Yahya memastikan suasana Pulau Bali betul-betul aman. Dia berkunjung hingga ke Pura Besakih, yang jaraknya hanya 9 km dari pusat erupsi Gunung Agung dan berbincang-bincang dengan wisatawan, Kamis (5/10/2017).
Dalam kunjungannya, Menpar Arief Yahya didampingi Kepala Dinas Pariwisata Bali A.A Gde Yuniartha Putra, Wakil Bupati Karangasem I Wayan Arta Dipa, dan Ketua STP Bali Dewa GN Byomantara.

Menpar meminta masyarakat agar mengikuti setiap imbauan yang dikeluarkan lembaga pemerintah yang berwenang. Sedangkan untuk wisatawan, Menpar menyampaikan pesan agar tidak khawatir karena pemerintah sudah mempersiapkan rencana penanganan terhadap segala kemungkinan bencana.

"Crisis center-nya sudah dibuat dan diketuai oleh Pak Gubernur Bali. Karena ini di Bali, ikon pariwisata Indonesia, maka istilah Crisis Center itu diganti dengan Bali Tourism Hospitality. Harus satu pintu (informasinya). Beritanya nggak boleh simpang siur," kata Arief Yahya.
 
Selain itu, Menpar juga mengganti istilah "evakuasi" dengan "mengantarkan" untuk memberi aksen pariwisata. “Biar tidak berkesan serem. Kita semua bergerak, dan mempersiapkan segala risiko yang bisa terjadi,” ungkapnya.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.