Transformasi Museum Sumpah Pemuda, dari Rumah Kost sampai Toko Bunga - Kompas.com

Transformasi Museum Sumpah Pemuda, dari Rumah Kost sampai Toko Bunga

Kompas.com - 28/10/2017, 20:06 WIB
Pengunjung melihat Museum Sumpah Pemuda di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (22/10/2015).KOMPAS/PRIYOMBDO Pengunjung melihat Museum Sumpah Pemuda di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (22/10/2015).

JAKARTA, KOMPAS.com - Museum Sumpah Pemuda ternyata mengalami perjalanan panjang, berbagai data merekam jejak transformasi unik bangunan tersebut. Sempat disewakan untuk rumah tinggal pelajar, tempat berkumpul, hingga menjadi toko bunga.

Museum Sumpah Pemuda yang berisikan sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia ini berada di Jalan Kramat Raya No. 106, Jakarta Pusat. Terkenal juga dengan sebutan "Gedung Kramat" sejak zaman dulu.

(Baca juga : Mengenang Kisah Tragis G-30S/PKI di Museum AH Nasution)

Menurut catatan di museum, dahulu bangunan tersebut ditinggali pemiliknya yaitu Sie Kong Tiang, sejak permulaan abad ke-20.

Mulai 1908, Gedung Kramat disewa para pelajar School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (Stovia) dan Rechtsschool (RS) sebagai tempat tinggal dan belajar.

(Baca juga : Fremantle, dari Deretan Kafe Hits sampai Museum Bersejarah)

Diberi nama Commensalen Huis, dan ditinggali oleh banyak mahasiswa Indonesia, antara lain Muhammad Yamin, Amir Sjarifoedin, Soerjadi (Surabaya), Soerjadi (Jakarta), Assaat, Abu Hanifah, dan masih banyak yang lain.

Berjalannya waktu, mulai 1927, gedung ini semakin ramai dengan kegiatan pergerakan yang digunakan oleh berbagai organisasi pemuda. Bung Karno dan tokoh-tokoh Algemeene Studie Club Bandung sering hadir di Gedung Kramat 106 untuk membicarakan format perjuangan dengan para mahasiswa di sana.

Diorama Kongres Pemuda di Museum Sumpah Pemuda, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (22/10/2015).KOMPAS/PRIYOMBODO Diorama Kongres Pemuda di Museum Sumpah Pemuda, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (22/10/2015).
Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI) juga sempat menjadikan gedung ini sebagai sekertariat, sekaligus kantor penerbitan majalah Indonesia Raja yang dikeluarkan PPPI. Karena menjadi "basecamp" berbagai pertemuan organisasi, sejak saat itu diganti nama yang semula bernama Langen Siswo menjadi Indonesische Clubhuis atau Clubgebouw (gedung pertemuan).

(Baca juga : Menelusuri Tempat-tempat Bersejarah Lahirnya Sumpah Pemuda)

Pada 15 Agustus 1928, di gedung ini diputuskan akan diselenggarakan Kongres Pemuda Kedua pada Oktober 1928. Pesertanya berasal dari mahasiswa dan sejumlah organisasi pemuda terkemuka, antara lain "Jong Sumatranen Bond", Pemuda Indonesia, Sekar Rukun, "Jong Islamienten", "Jong Bataks Bond", "Jong Celebes", Pemuda Kaum Betawi dan PPPI.

Di gedung ini mereka menghasilkan keputusan sumpah pemuda, yang kongresnya diketuai Soegondo Djojopuspito, ketua PPPI.

Setelah peristiwa Sumpah Pemuda banyak penghuninya yang meninggalkan gedung Indonesische Clubgebouw karena sudah lulus belajar. Mereka pun tidak meneruskan sewa, dan kemudian diambil alih oleh Pang Tjem Jam selama tahun 1934-1937 untuk rumah tinggal.

Di balik layar proses pemotretan Sumpah Pemuda Kompas di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta Pusat, Selasa (27/10/2015). KOMPAS/PRIYOMBDO Di balik layar proses pemotretan Sumpah Pemuda Kompas di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta Pusat, Selasa (27/10/2015).
Mulai tahun 1937-1951 gedung ini disewa Loh Jing Tjoe yang menggunakannya sebagai toko bunga (1937-1948). Sedangkan tahun 1948-1951 gedung ini tercatat berfungsi menjadi Hotel Hersia.

Pertama kali pasca kemerdekaan akhirnya gedung ini digunakan untuk kepentingan negara, yaitu kantor dan mes Inspektorat Bea dan Cukai. Disewa mulai 1951-1970.

Akhirnya Gedung Kramat 106 ini dipugar Pemda DKI Jakarta, mulai 3 April 1973 hingga 20 Mei 1973. Pemugaran tersebut untuk dijadikan sebagai museum dengan nama Gedung Sumpah Pemuda.


EditorI Made Asdhiana

Close Ads X