Kompas.com - 21/11/2017, 20:05 WIB
ILUSTRASI - Pelancong mencatat perjalanannya di jurnal. ShutterstockILUSTRASI - Pelancong mencatat perjalanannya di jurnal.
|
EditorSri Anindiati Nursastri

JAKARTA, KOMPAS.com - Bepergian ala backpacking sepertinya kian diminati kalangan anak muda Indonesia. Terlebih saat ini banyak transportasi dan akomodasi yang menyuguhkan promo harga, membuat perjalanan semakin murah.

Salah satu backpacker yang percaya akan hal itu adalah Ashari Yudha, yang telah menjalani perjalanan eksplorasi Mahakarya Indonesia. Yudha memprediksi backpacker akan tetap eksis, bahkan semakin diminati di masa mendatang.

"Sekarang industri banyak yang menyambut backpacker, mulai dari penginapan murah, akses penerbangan low cost, hingga komunitasnya makin banyak," ujarnya saat ditemui dalam acara Mahakarya Indonesia, Selasa (21/11/2017).

Baca juga : Mau Solo Backpacking? Persiapkan 5 Hal Ini

Dulu, lanjut Yudha, kita harus sharing akomodasi dengan penduduk lokal untuk menghemat biaya akomodasi. Namun kini sudah banyak penginapan murah untuk backpacker.

Meski begitu, konsep sharing homestay dinilai tetap menjadi opsi terbaik bagi backpacker yang ingin lebih berinteraksi dengan warga sekitar. Sehingga esensi backpacker dinilai tak hanya jalan-jalan dengan biaya rendah, tapi juga menyatu dengan budaya setempat.

Desa Adat Wae Rebo di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Untuk mencapai desa itu tidak mudah, wisatawan harus mendaki sejauh 7 km selama kurang lebih 4 jam.ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA Desa Adat Wae Rebo di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Untuk mencapai desa itu tidak mudah, wisatawan harus mendaki sejauh 7 km selama kurang lebih 4 jam.
Blogger dengan followers Instagram yang mayoritas backpacker tersebut memprediksi ke depannya para backpacker condong menyambangi destinasi-destinasi kultural. Misal, beberapa daerah yang menonjolkan etnis dan kebudayaan Indonesia. 

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Sebagian (orang) yang sudah bosen landscape akan mencari ke arah kultural, yang lebih ada cerita di balik destinasinya. Walaupun yang belum bosan dengan landscape juga masih banyak," tuturnya pada KompasTravel.

Baca juga : Apa Itu Umrah Backpacker?

Destinasi kultural tersebut menurut Yudha tersebar di banyak daerah Indonesia. Ia mencontohkan budaya tato dan gigi runcing di Mentawai.

"Ada banyak budaya unik di sekitaran Danau Toba, lalu Sumba juga kaya akan budaya rumah adatnya. Ada lagi suku-suku di Papua dengan noken, koteka, dan upacara adatnya," jelas dia.

********************

Mau paket wisata gratis ke Thailand bersama 1 (satu) orang teman? Ikuti kuis kerja sama Omega Hotel Management dan Kompas.com dalam CORDELA VACATION pada link INI. Hadiah sudah termasuk tiket pesawat (PP), penginapan, dan paket tur di Bangkok.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Video Pilihan

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.