Perhatikan 5 Hal Ini Saat Berwisata ke Mbaru Embo Suku Nanga di Flores

Kompas.com - 24/11/2017, 09:16 WIB
Dua tetua suku Nanga, Gaspar Djawa (kiri) dan Frans Selamat, di depan rumah adat mereka, di Mok, Manggarai Timur, Kamis (31/7/2014). Rumah tua tidak berpenghuni itu disebut Mbaru Embo. KOMPAS/FRANS SARONGDua tetua suku Nanga, Gaspar Djawa (kiri) dan Frans Selamat, di depan rumah adat mereka, di Mok, Manggarai Timur, Kamis (31/7/2014). Rumah tua tidak berpenghuni itu disebut Mbaru Embo.
|
EditorI Made Asdhiana

BORONG, KOMPAS.com - Leluhur Suku Nanga, di kampung Mok, Desa Mbengan, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT mewarisi sebuah rumah adat yang disebut ‘ Mbaru Embo’ yang berusia ratusan tahun.

Dialek Kolor atau Mbaen di kawasan Selatan dari Kabupaten Manggarai Timur bahwa Mbaru berarti rumah dan Embo berarti nenek moyang atau leluhur juga dalam dialek Suku Nanga bahwa Mbaru Embo berarti rumah adat yang didiami oleh leluhur yang sudah meninggal dunia.

Hingga sampai saat ini ‘Mbaru Embo’ tetap dijaga oleh nenek moyang Suku Nanga. Unik sekali Mbaru Embo. Bahkan, letak rumah adat itu sangat jauh dari perkampungan Mok. Situasi rumah adat itu sangat sepi, jauh dari keramaian warga Kampung Mok.

(Baca juga : Mbaru Gendang Ruteng Puu, Kampung Adat Tertua di Flores Barat)

Bahkan, warga Kampung Mok jarang untuk melihat rumah adat itu. Juga jarang orang lewat di kampung itu karena warga Suku Nanga sudah menginformasi tentang keberadaan dari rumah itu.

Jika ada tamu yang berkunjung ke rumah adat itu harus meminta ijin tua-tua adat Suku Nanga yang khusus menjaga rumah adat itu yang tinggal di Kampung Mok.

Jadi Mbaru Embo berarti rumah adat yang dihuni dan dijaga oleh leluhur Suku Nanga. Rumah adat itu tidak dihuni oleh keturunan dari suku Nanga yang berada di Kampung Mok.

(Baca juga : Jangan Mengaku Pernah ke Flores sebelum Mengunjungi Wae Rebo)

Mbaru Embo bisa dipakai saat ritual-ritual adat saja oleh keturunan  Suku Nanga di kampung tersebut. Juga tak semua keturunan dari Suku Nanga yang bisa masuk dalam rumah adat tersebut.

Ritual-ritual yang sering dilaksanakan di rumah adat itu seperti ritual memulai masa tanam padi, jagung dan berbagai jenis tanaman lainnya.

Sekali setahun rumah adat itu melaksanakan ritual-ritual adat sesuai dengan kebiasaan yang diwariskan leluhur Suku Nanga.

Juga kadang-kadang melaksanakan ritual adat sekali dalam lima tahun tergantung tanda-tanda yang diberikan leluhur Suku Nanga melalui mimpi atau tanda-tanda dalam berbagai jenis tanaman yang ditanam di Ladang.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X