Pemandu Gunung di Indonesia Menuju Standar Internasional

Kompas.com - 30/11/2017, 20:05 WIB
Pendaki berjalan menuju area pasar bubrah di bawah puncak Taman Nasional Gunung Merapi, Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (21/9). Libur tahun baru Islam satu Muharram dimanfaatkan sejumlah wisatawan untuk mendaki menikmati panorama alam dari ketinggian 2.968 meter di atas permukaan air laut (mdpl). ANTARA FOTO/Hendra NurdiyansyahPendaki berjalan menuju area pasar bubrah di bawah puncak Taman Nasional Gunung Merapi, Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (21/9). Libur tahun baru Islam satu Muharram dimanfaatkan sejumlah wisatawan untuk mendaki menikmati panorama alam dari ketinggian 2.968 meter di atas permukaan air laut (mdpl).
|
EditorSri Anindiati Nursastri

JAKARTA, KOMPAS.com – Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) hadir dalam acara pertemuan para asosiasi atau federasi pemandu gunung dari negara-negara di dunia. Acara tersebut yakni International Federation Mountain Guides Of Association (IFMGA) dan digelar pada pada 28 - 30 November 2017 di Kathmandu, Nepal.

“Tujuan organisasi APGI yaitu untuk mewujudukan profesionalitas pemandu gunung Indonesia yang memiliki standar nasional dan internasional. Salah satu langkahnya adalah berupaya bergabung dalam federasi pemandu gunung internasional (IFMGA). Karena itu APGI hadir dalam pertemuan di Nepal ini sebagai langkah awal untuk mengenalkan APGI ke seluruh dunia,” kata Ketua Umum APGI, Ronie Ibrahim dalam siaran pers yang diterima KompasTravel, Rabu (29/11/2017).

Ronie menjelaskan, untuk bisa menjadi anggota dan terafiliasi di IFMGA, APGI pun membutuhkan waktu dan proses yang panjang sekitar lima hingga 10 tahun. Meski melewati proses panjang, yang terpenting adalah para pemandu di Indonesia memiliki kompetensi dan kualitas yang setara dengan para pemandu internasional.

Baca juga : Gunung Agung di Mata Pendaki Indonesia

Dalam acara tersebut, APGI mempresentasikan profil organisasi, perkembangan kepemanduan gunung di Indonesia dan potensi gunung-gunung Indonesia.

Di negara lain, kata dia, para pemandu gunung harus memperjuangkan keberadaannya. Sedangkan di Indonesia para pemandu gunung telah mendapatkan dukungan dari pemerintah. Hingga saat ini APGI telah memiliki 465 anggota yang telah tersertifikasi sesuai standar Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

“Namun begitu, dalam dialog pertemuan internasional ini, terungkap pelatihan pemandu gunung Indonesia masih dibawah standar Nepal dan negara lainnya yang menjadi anggota IFMGA,” kata Ronie.

Dengan demikian, untuk meningkatkan kompetensi pemandu gunung Indonesia, APGI akan bekerjasama dengan negara-negara yang sudah lebih maju terkait pemandu gunung.

Turut hadir dari APGI dalam pertemuan tersebut antara lain Ronie Ibrahim (ketua umum), Vita Cecilia (Bendahara Umum), dan Adiseno (Dewan Penasehat). Kehadiran APGI ini atas undangan dari tuan rumah yaitu Nepal National Mountain Guide Association (NMGA).

********************

Mau paket wisata gratis ke Thailand bersama 1 (satu) orang teman? Ikuti kuis kerja sama Omega Hotel Management dan Kompas.com dalam CORDELA VACATION pada link INI. Hadiah sudah termasuk tiket pesawat (PP), penginapan, dan paket tur di Bangkok.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X