Kompas.com - 03/12/2017, 19:08 WIB
Warga Banyuwangi mengikuti selamatan di Festival Endog-endogan Banyuwangi KOMPAS.COM/Ira RachmawatiWarga Banyuwangi mengikuti selamatan di Festival Endog-endogan Banyuwangi
|
EditorSri Anindiati Nursastri


BANYUWANGI, KOMPAS.com - Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menggelar Festival Endog-endogan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di jalan depan kantor Pemkab Banyuwangi, Sabtu (2/12/2017).

Acara yang masuk dalam agenda Festival Banyuwangi 2017 tersebut diikuti oleh ribuan masyarakat Banyuwangi. Mereka mengarak bunga telur yaitu telur itik rebus yang dihias dengan bunga kertas dan ornamen menarik lainnya, lalu ditancapkan dibatang pisang yang disebut jodang.

Selain itu mereka juga membawa ancak atau tempat makan yang terbuat dari pelepah daun pisang yang diisi dengan lauk pauk, yang nantinya akan dimakan bersama-sama. Tradisi tersebut dikenal oleh masyarakat Banyuwangi dengan tradisi Endog-endogan.

"Arak-arakan datang bersamaan dari lima penjuru yang menjadi simbol rukun Islam. Selain itu kita juga ingin melestarikan tradisi Endog-endogan. Bayangkan di Banyuwangi ini, Maulid Nabi Muhammad dirayakan sangat meriah hampir sebulan penuh mulai dari gang-gang dan mushola kecil. Semua merayakan dengan gembira. Pembacaan sholawat dimana-mana," jelas Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas kepada Kompas.com Sabtu (2/12/2017).

Masyarakat Banyuwangi makan ancak di sepanjang jalan di depan Kantor Bupati Banyuwangi Sabtu (2/12/2017)KOMPAS.COM/Ira Rachmawati Masyarakat Banyuwangi makan ancak di sepanjang jalan di depan Kantor Bupati Banyuwangi Sabtu (2/12/2017)

Anas menjelaskan ada makna filosofi yang tinggi dari tradisi endog-endogan ini. Endog atau telur memiliki tiga lapisan. Kulit telur, putih telur dan kuning telur. Kulit telur diibaratkan sebagai lambang keislaman sebagai identitas seorang muslim. Putih telur, melambangkan keimanan, yang berarti seorang yang beragama Islam harus memiliki keimanan yakni mempercayai dan melaksanakan perintah Allah SWT. Lalu kuning telur melambangkan keihsanan, dimana seorang Islam yang beriman akan memasrahkan diri dan ikhlas dengan semua ketentuan Allah SWT.

“Islam, Iman dan Ihsan adalah harmonisasi risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW yang jika ditancapkan pada diri manusia akan menghasilkan manusia yang mencerminkan akhlak Rasulullah. Inilah makna Festival endog-endogan agar kita selalu ingat dan menjalankan tuntunan nabi,” jelas Anas.

Setelah semua rombongan dari lima penjuru datang, masyarakat Banyuwangi duduk bersama dan membaca shalawat bersama-sama dan mendengarkan ceramah pengajian. Acara festival tersebut diakhiri dengan menikmati ancak yang diletakkan di sepanjang jalan bersama-sama dan pembagian bunga telur kepada masyarakat yang hadir.

"Ini juga bentuk kebersamaan. Semuanya sama duduk dibawah menikmati ancak bersama-sama. Ayo sini makan bersama-sama," kata Anas kepada beberapa santri yang hadir di acara tersebut.

Tradisi sejak tahun 1926

Abdullah Fauzi, budayawan Banyuwangi kepada Kompas.com bercerita jika tradisi Endog-Endogam muncul sejak tahun 1926. Saat itu, KH Abdullah Faqih yang mendirikan salah satu pondok pesantren di Cemoro, Songgon Banyuwangi yang memulai tradisi tersebut.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X