Kemenpar Siapkan Rp 100 Miliar untuk Pulihkan Pariwisata Bali

Kompas.com - 22/12/2017, 09:05 WIB
Sejumlah calon penumpang menunggu jadwal penerbangan di terminal keberangkatan internasional Bandara Ngurah Rai, Tuban, Bali, Minggu (26/11/2017). Sebanyak 28 jadwal penerbangan internasional dari dan menuju Bali dibatalkan karena dampak letusan Gunung Agung yang terjadi sejak Sabtu, 25 November 2017ANTARA FOTO / WIRA SURYANTALA Sejumlah calon penumpang menunggu jadwal penerbangan di terminal keberangkatan internasional Bandara Ngurah Rai, Tuban, Bali, Minggu (26/11/2017). Sebanyak 28 jadwal penerbangan internasional dari dan menuju Bali dibatalkan karena dampak letusan Gunung Agung yang terjadi sejak Sabtu, 25 November 2017

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pariwisata menyiapkan anggaran sebesar Rp 100 miliar untuk pemulihan pariwisata Bali yang terdampak erupsi Gunung Agung. Hal itu disampaikan oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya saat Jumpa Pers Akhir Tahun 2017 di Kementerian Pariwisata, Jakarta, Kamis (21/12/2017).

"Untuk tiga bulan pertama sudah saya putuskan (anggarannya) Rp 100 miliar," kata Arief.

Menurutnya, anggaran tersebut akan langsung digunakan untuk mempersiapkan liburan akhir tahun. Ia mengatakan pengelolaan anggaran tersebut nantinya berada di bawah Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kemenpar, I Gde Pitana.

(Baca juga : Erupsi Gunung Agung, Okupansi Hotel Sentuh Angka 15 Persen)

"Rp 100 miliar itu sudah ada anggarannya di Pak Pitana. Sudah enak, sudah (bisa) jalan. Itu (untuk) tiga bulan. Semoga Bali sudah bisa recovery. Pak Pitana sudah saya kasih amanat untuk keluarkan uang," ujar Arief.

Di kesempatan terpisah, ia mengatakan anggaran Rp 100 miliar tersebut nantinya digunakan untuk biaya promosi Bali ke seluruh dunia. Arief mengatakan program yang menggunakan anggaran tersebut adalah hot deals.

"Hot deals itu kalau datang ke Bali diskon 50 persen," katanya.

Pariwisata Bali merasa terpukul akibat erupsi Gunung Agung. Rentetan pembatalan penerbangan ke Bali sempat terjadi sehingga turut mengakibatkan menurunnya tingkat okupansi hotel.

Sejumlah wisatawan menyaksikan letusan Gunung Agung dari Pantai Jemeluk, Karangasem, Bali, Minggu (26/11/2017). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menyatakan telah terjadi letusan freatik kedua pada pukul 17.20 Wita yang disusul dengan semburan asap dan abu vulkanis hingga ketinggian 3.000 meter. ANTARA FOTO / NYOMAN BUDHIANA Sejumlah wisatawan menyaksikan letusan Gunung Agung dari Pantai Jemeluk, Karangasem, Bali, Minggu (26/11/2017). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menyatakan telah terjadi letusan freatik kedua pada pukul 17.20 Wita yang disusul dengan semburan asap dan abu vulkanis hingga ketinggian 3.000 meter.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Haryadi Sukamdani sempat menyebut peristiwa erupsi Gunung Agung berdampak lebih besar dibandingkan peristiwa bom bali.

“Cukup memprihatinkan di Bali sampai saat ini (okupansi hotelnya), begitu bandara ditutup dampaknya lebih berat dibandingkan dengan bom bali,” katanya setelah meluncukan portal reservasi online bookingina.com, di Jakarta, Senin (11/12/2017).

Arief sempat mengalkulasikan kerugian yang dialami oleh Bali. Ia menyebut sektor pariwisata Bali kehilangan devisa mencapai Rp 250 miliar per hari akibat penutupan Bandara Ngurah Rai.

(Baca juga : Pelaku Pariwisata Sebut Dampak Erupsi Gunung Agung Melebihi Bom Bali)

Arief mengatakan jumlah tersebut berdasarkan perhitungan wisatawan mancanegara yang masuk per hari melalui Bandara I Gusti Ngurah Rai dikalikan jumlah rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara dan kurs nilai tukar dollar AS ke rupiah.

"Assesment kerugian? Per hari saja ya. Itu paling gampang per hari (hitungnya). Nanti tinggal (kali berapa hari). Per hari itu Bali wismannya (yang masuk) 15.000 orang. Kalau kita konversi ke devisa itu 250 miliar. Itu yang hilang (devisa) untuk Bali," kata Arief saat ditemui di sela-sela kunjungan kerja di Pelabuhan Balohan, Kota Sabang, Aceh, Kamis (30/11/2017).



EditorI Made Asdhiana

Close Ads X