Dony Oskaria
Komisaris Garuda Indonesia

Komisaris Garuda Indonesia, Ketua Pokja Pariwisata Nasional Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Republik Indonesia

Mewujudkan Sepuluh Bali Baru

Kompas.com - 04/01/2018, 11:16 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorAmir Sodikin

DALAM kancah pariwisata internasional, Bali memang terbilang sebagai destinasi nasional yang paling tenar dibanding destinasi-destinasi lainnya.

Bahkan tak jarang, nama Bali lebih mentereng ketimbang negara Indonesia di mata para pelancong global. Sehingga Pulau Dewata menjadi traffic puller yang sangat dominan dalam sektor pariwisata nasional.

Pulau Bali seolah telah ditakdirkan untuk jadi suatu destinasi yang lengkap, yang seiring berjalannya waktu, masyarakatnya pun terarahkan menjadi masyarakat pariwisata yang sangat supportif bagi bertumbuhkembangnya sektor pariwisata.

Tentu bisa dibayangkan, bagaimana kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB nasional jika Indonesia memiliki beberapa daerah seperti Bali, semisal lima atau sepuluh atau bahkan lebih.

Secara nasional, sektor pariwisata sudah membuktikan diri mampu menjadi penopang tangguh PDB Nasional. Tahun lalu saja, pada 2016, devisa pariwisata sudah mencapai 13,5 juta dolar AS per tahun. Hanya kalah dari minyak sawit mentah (CPO) yang sebesar 15,9 juta dollar AS per tahun.

Baca juga : Jokowi Perintahkan Sejumlah Menteri Bantu Pariwisata Bali

Padahal pada 2015, pariwisata masih ada di peringkat keempat sebagai sektor penyumbang devisa terbesar. Saat itu pariwisata ada di bawah sektor migas sebesar 18,5 juta dollar AS, CPO 16,4 juta dollar AS, dan batubara 14,7 juta dollar AS.

Namun akibat jatuhnya harga migas dan batubara, konstelasi sektor penyumbang devisa berubah. CPO menjadi raja, dan pariwisata menyodok ke atas sektor migas dan batubara.

Walhasil, tahun ini sektor pariwisata menjadi salah satu andalan pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla untuk meraup devisa.

Meskipun target menjadi sektor penyumbang devisa terbesar sempat dipatok pada 2019, namun tanda-tanda itu sudah mulai terlihat pada tahun ini. Bahkan, diperkirakan devisa pariwisata akan melonjak 25 persen pada 2017, sejalan dengan peningkatan jumlah wisatawan asing yang datang ke Indonesia.

Sekalipun demikian, devisa dari sektor pariwisata Indonesia masih kalah jauh dibandingkan devisa pariwisata Thailand. Saat Indonesia meraup devisa dari sektor pariwisata pada 2016 sebesar 11,3 miliar dollar AS dengan tingkat kunjungan wisman sekira 12 jutaan, Thailand membukukan jumlah turis 3 kali lipat, yakni sekira 27-30 juta wisman.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.