Jelajah Yunnan (1): Menemukan “Indonesia” di Kunming Halaman 4 - Kompas.com

Jelajah Yunnan (1): Menemukan “Indonesia” di Kunming

Kompas.com - 09/01/2018, 09:58 WIB
Burung-burung camar beterbangan di atas Danau Dianchi di Kunming, Yunnan, China. THINKSTOCK Burung-burung camar beterbangan di atas Danau Dianchi di Kunming, Yunnan, China.

 

Danau Dianchi adalah danau air tawar terbesar di Provinsi Yunnan dan terbesar keenam di seluruh Tiongkok. Luasnya 298 kilometer persegi dengan panjang 39 kilometer dari utara ke selatan dan lebar 13 kilometer di titik terlebarnya. Kedalaman danau ini 4,4 meter.

Tepian danau terbentuk dari kaki pegunungan di keempat sisinya. Panjang garis pantainya 163,2 kilometer. Lebih dari duapuluh sungai bermuara di danau ini.

Salah satu atraksi menarik di tempat ini adalah pemandangan ribuan atau mungkin jutaan burun camar di salah satu sisi danau. Burung-burung camar ini konon hanya ada di waktu musim dingin. Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

Atraksi yang ditawarkan di tempat ini adalah foto bersama burung camar. Ratusan fotografer lokal nampak menenteng kamera DSLR dan contoh foto jepretannya menawari para pengunjung untuk foto bersama burung camar. Harganya RMB 25 (sekitar Rp. 50.000) untuk satu foto.

Si fotografer akan memberikan beberapa umpan berupa roti untuk diacungkan ke atas, sementara si fotografer siap menjepret adegan burung camar menyambar atau mematuk roti dari tangan para turis.

Suara burung camar sungguh riuh di angkasa sore hari itu. Yang perlu diperhatikan adalah kejatuhan kotoran burung di kepala, di jaket dan bisa di mana saja. Tisu basah perlu disiapkan untuk situasi seperti ini.

Lepas dari keindahan danau dan atraksi alami burung camar ini, sungguh sayang bahwa Danau Dianchi tercemar berat. Sebelum tahun 1990 air buangan limbah (industri dan rumah tangga) mencapai 90 persen digelontor langsung ke dalam danau. Baru tahun 1990 pengolahan limbah pertama kali dibangun.

Di tahun 1958-1962 pemerintah Mao Zedong dengan visi Great Leap Forward (Lompatan Jauh Ke Depan)-nya menghancurkan rawa-rawa di sekitar danau yang notabene adalah filter alami. Great Leap Forward mengubah keseluruhan rawa-rawa menjadi area persawahan.

Limbah pertanian juga menjadi kontributor signifikan pencemaran. Air danau ini sama sekali tidak layak minum dan tidak layak diproses untuk jadi air minum.

Jin Ma Bi Ji Square

Jin Ma Bi Ji, bacanya: "cin ma bi ji". Artinya Golden Horse and Jade Rooster. Apa maksud dua gerbang ini didirikan di situ, tak seorang pun tahu. Banyak legenda dan cerita tentang asal usul dan makna dua gerbang itu.

Gerbang Golden Horse ada di timur sementara Gerbang Jade Rooster ada di sebelah barat. Dari sekian banyak legenda dan cerita, sepertinya yang paling masuk akal adalah nama Jin Ma dan Bi Ji adalah nama gunung di dekat Kunming.

Namun ada kepercayaan lain yang menyebut bahwa menurut legenda setempat Golden Horse dan Jade Rooster adalah Dewa Matahari dan Dewi Bulan. Kenapa demikian?

Gerbang Jin Ma Bi Ji.AJI CHEN Gerbang Jin Ma Bi Ji.

Konon dahulu kala ketika gerbang itu masih asli, di satu hari pernah terjadi bayangan dua gerbang itu menyatu di saat Festival Pertengahan Musim Gugur yang jatuh di tanggal 15 bulan 8 penanggalan Imlek dan waktu Autumn Equinox di tanggal-tanggal 22, 23 atau 24 September. Fenomena ini terjadi 60 tahun sekali. Bersatunya bayangan dua gerbang ini terjadi sekitar pukul 17.00 atau 18.00.   

Konon pernah terjadi bayangan dua gerbang itu nyaris bersatu di masa Kaisar Daoguang (1821-1851) dan Kaisar Guangxu (1875-1909). Kaisar Daoguang lah yang membangun gerbang itu kembali setelah hancur di masa peperangan, namun ukuran kedua gerbang tidak sama persis presisi.

Pada tahun 1998 dua gerbang ini direstorasi dan dibangun presisi. Bersatunya dua bayangan gerbang diperkirakan akan terjadi kembali pada 22 September 2029.

Golden Horse dan Jade Rooster ini adalah simbol kota Kunming sejak dulu kala. Orang-orang mengatakan Kunming adalah homeland dari Golden Horse dan Jade Rooster.

Setelah puas foto-foto kami menyusuri jalanan yang memang dikhususkan untuk pejalan kaki. Toko-toko suvenir, obat, herbal, giok, makanan bertebaran di sekitar situ.

Kami memilih satu, memesan beberapa makanan, menikmati makan malam pertama di Yunnan dan segera kami kembali ke hotel untuk beristirahat…

Bersambung…


Page:
EditorHeru Margianto
Komentar

Close Ads X