Kompas.com - 11/01/2018, 18:23 WIB
Wisatawan mancanegara memadati Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, pada saat musim libur, Juli 2017. KOMPAS.COM/BUDI BASKOROWisatawan mancanegara memadati Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, pada saat musim libur, Juli 2017.
|
EditorI Made Asdhiana

PANGKALAN BUN, KOMPAS.com - Kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) di Kalimantan Tengah sepanjang 2017 memecahkan rekor. Ini juga berdampak pada peningkatan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang meningkat pesat.

Berdasarkan data yang disampaikan Kepala Balai TNTP, Helmi, Rabu (10/1/2018) petang, kunjungan ke TNTP sepanjang 2017 tercatat sebanyak 24.693 wisatawan. Itu terdiri 14.933 wisatawan mancanegara (wisman), dan 9.760 wisatawan nusantara (wisnus).

Baca juga : Ketika Orangutan Bersekolah...

Jumlah kunjungan tertinggi sebelumnya terjadi pada 2014, dengan 16.689 wisatawan. Saat itu, sebanyak 10.986 wisman dan 5.703 wisnus menyambangi habitat asli orangutan terbesar di dunia itu.

Akibat peningkatan kunjungan itu, PNBP dari destinasi wisata yang pernah dikunjungi tokoh semacam Bill Clinton dan Julia Robert, ini pun mencapai angka Rp 6.040.157.500 sepanjang 2017. Angka ini memecahkan rekor tertinggi sebelumnya, yaitu Rp 4.670.125.461 pada 2016.

Orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah.BARRY KUSUMA Orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah.
PNBP dari Tanjung Puting masuk sepuluh besar tertinggi di antara satuan kerja (balai taman nasional dan balai konservasi sumber daya alam) di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. "Tepatnya di peringkat delapan," kata Helmi.

Baca juga : Seperti Ini Bentuk Kasih Sayang yang Tepat untuk Orangutan

Sebagai tempat wisata yang menjual keaslian alam dan satwa penghuninya, angka kunjungan ke Tanjung Puting sudah terhitung padat. Helmi, mengatakan kini pihaknya berusaha mendistribusikan pengunjung ke spot-spot lain di kawasan seluas 415.000 hektare itu.

"Di samping orangutan, juga ada bekantan, ada penyu, melalui hutan-hutan rimba dan liar, sungai-sungai hitam. Itu yang sebetulnya menjadi pemikat. Selama ini konsentrasi di Camp Leakey saja. Kita akan distribusikan," ujar Helmi.

Pria yang pernah bertugas di Taman Nasional Komodo ini pun mengingatkan bahwa Tanjung Puting juga beroperasi sebagai ramsar site (situs lahan basah). "Ini status yang melekat untuk perlindungan gambut, juga sebagai status cagar biosfer dunia. Jadi dua status dunia. Kalau orang membaca Tanjung Puting, dia akan melihat dua hal itu," ungkapnya.

Memasuki Camp Leakey di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalteng, Selasa (26/11/2013).KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Memasuki Camp Leakey di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalteng, Selasa (26/11/2013).
Yomie Kamale, Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), Kalimantan Tengah mendukung Balai TNTP untuk mengatur lebih baik pengelolaan Tanjung Puting yang semakin ramai dikunjungi ini.

"Dengan banyak orang di satu tempat yang sama akan memberikan dampak yang tidak nyaman bagi pengunjung. Juga ditakutkan akan ada perubahan perilaku satwa," ujarnya pada Kompas.com.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

10 Museum Paling Angker di Dunia, Ada Koleksi Mumi

10 Museum Paling Angker di Dunia, Ada Koleksi Mumi

Jalan Jalan
Rute Menuju Plunyon Kalikuning, Jadi Lokasi Syuting KKN di Desa Penari

Rute Menuju Plunyon Kalikuning, Jadi Lokasi Syuting KKN di Desa Penari

Jalan Jalan
Jajan di Toko Serba Ada Ini Harus Memanjat 120 Meter, Mau Coba?

Jajan di Toko Serba Ada Ini Harus Memanjat 120 Meter, Mau Coba?

Jalan Jalan
Aturan Perjalanan Diperlonggar, Ini PR Pemerintah untuk Pariwisata

Aturan Perjalanan Diperlonggar, Ini PR Pemerintah untuk Pariwisata

Travel Update
Sandiaga Sebut Pariwisata Berkelanjutan Akan Jadi Tren pada Era Endemi

Sandiaga Sebut Pariwisata Berkelanjutan Akan Jadi Tren pada Era Endemi

Jalan Jalan
Pelaku Perjalanan Luar Negeri Sudah Tak Perlu Tes, Ini Syaratnya

Pelaku Perjalanan Luar Negeri Sudah Tak Perlu Tes, Ini Syaratnya

Travel Update
Mampir ke Jembatan Plunyon, Lokasi Syuting KKN di Desa Penari

Mampir ke Jembatan Plunyon, Lokasi Syuting KKN di Desa Penari

Jalan Jalan
Festival Olahraga Berskala Internasional Bakal Digelar di Sejumlah Destinasi

Festival Olahraga Berskala Internasional Bakal Digelar di Sejumlah Destinasi

Travel Update
Libur Panjang Waisak 2022, Angkasa Pura I Layani 651.000 Penumpang

Libur Panjang Waisak 2022, Angkasa Pura I Layani 651.000 Penumpang

Travel Update
Jepang Akan Terima Turis Asing dari 4 Negara dalam Grup Wisata

Jepang Akan Terima Turis Asing dari 4 Negara dalam Grup Wisata

Travel Update
Syarat Naik Pesawat per 18 Mei, Tak Wajib Antigen jika Vaksin 2 Kali

Syarat Naik Pesawat per 18 Mei, Tak Wajib Antigen jika Vaksin 2 Kali

Travel Update
Menparekraf: Waisak Tingkatkan Kunjungan Wisatawan ke Borobudur

Menparekraf: Waisak Tingkatkan Kunjungan Wisatawan ke Borobudur

Travel Update
Syarat Naik Kereta Api per 18 Mei, Vaksin 2 Kali Tak Perlu Tes PCR

Syarat Naik Kereta Api per 18 Mei, Vaksin 2 Kali Tak Perlu Tes PCR

Travel Update
Markedila Cafe, Tempat Nongkrong dengan Panorama Lembah di NTT

Markedila Cafe, Tempat Nongkrong dengan Panorama Lembah di NTT

Jalan Jalan
Rute dan Tips Wisata ke Danau Ronggojalu Probolinggo

Rute dan Tips Wisata ke Danau Ronggojalu Probolinggo

Travel Tips
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.