Cadik Nusantara, Perahu yang Selamat dari Kebakaran Museum Bahari

Kompas.com - 17/01/2018, 16:24 WIB
Perahu jukung Efendi Soleman saat  memasuki  pelabuhan nelayan Tanjung Batu Pemangkat, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat (6/9/2013) KOMPAS.com/YOHANES KURNIA IRAWANPerahu jukung Efendi Soleman saat memasuki pelabuhan nelayan Tanjung Batu Pemangkat, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat (6/9/2013)
|
EditorI Made Asdhiana

JAKARTA, KOMPAS.com - Kebakaran yang melanda Museum Bahari, Selasa (16/1/2018) melalap banyak koleksi berharga. Untungnya, ruang kapal nusantara yang memamerkan kapal asli maupun miniatur kapal selamat dari kebakaran tersebut.

Salah satu benda yang masih utuh adalah perahu Cadik Nusantara. Perahu legendaris tersebut tampak dalam kondisi baik setelah api di Museum Bahari berhasil dipadamkan.

"Ya, itu (Kapal Cadik Nusantara) selamat juga dari kebakaran, soalnya letaknya bersebelahan dengan cadik papua. Ada di lantai bawah, tetapi yang ruang pamer di atasnya terbakar," kata Pendiri Komunitas Jelajah Budaya, Kartum Setiawan saat dihubungi KompasTravel, Rabu (17/1/2018). Kartum saat pemadaman api Museum Bahari berada di lokasi tersebut.

Perahu Cadik Nusantara, merupakan perahu yang dibawa oleh petualang Effendy Soleman dalam beberapa petualangan mengarungi laut sendirian.

(Baca juga : Berita Foto: Potret Museum Bahari dari Masa ke Masa Sebelum Terbakar)

Tahun 1986 tercatat sebagai petualangan panjang pertama Effendy. Bersama perahu cadik yang terbuat dari batang pohon nangka, ia mengarugi laut dari Jakarta menuju Toboali, Bangka.

Tahun 1988, Effendy kembali mengarugi laut. Kali ini dari Jakarta menuju Bandar Sri Bengawan, Brunei Darussalam.

(Baca juga : Ada Kapal dari Papua, Ini Koleksi Bersejarah di Museum Bahari)

Satu tahun kemudian, tepatnya 1989 bersama tujuh orang perempuan, Effendy kembali berlayar ke Pulau Bangka. Ekspedisi tersebut dinamakan Ekspedisi Wanita Cadik Nusantara. Tahun 1996, Effendy lantas kembali mengarugi laut seorang diri ke Penang, Malaysia.

Saat berlayar, tak jarang Effendy mengalami rintangan. Seperti kondisi cuaca yang buruk, perahu bocor, terkena malaria, sampai dikira mata-mata oleh kepolisian air Malaysia. Namun hati Effendy tampaknya tertambat di laut.

(Baca juga : Sejarah Museum Bahari, dari Gudang Rempah hingga Penyimpanan Senjata)

Sang petualang, kembali berlayar pada 2005. Satu tahun pasca-tsunami Aceh, Effendy melakukan ekspedisi dalam rangka memperingati peristiwa bencana alam besar tersebut.

Effendi Soleman sedang melempar tali tambat kepada seorang anggota TNI AL, sesaat setelah dirinya berlabuh di pelabuhan Tanjung Batu Pemangkat, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat (6/9/2013)KOMPAS.com/YOHANES KURNIA IRAWAN Effendi Soleman sedang melempar tali tambat kepada seorang anggota TNI AL, sesaat setelah dirinya berlabuh di pelabuhan Tanjung Batu Pemangkat, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat (6/9/2013)

Vakum dari dunia pelayaran selama enam tahun, 2011 Effendy memulai kembali petualangannya. Kali ini ia tidak sendiri.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X