Kompas.com - 01/02/2018, 10:45 WIB
Pengunjung berswafoto di depan spot foto di Rumah Susuh di Ngukir Wisata Alam (NGA), Kota Batu, Jawa Timur, Kamis (11/1/2018). SURYAMALANG.COM/SANY EKA PUTRIPengunjung berswafoto di depan spot foto di Rumah Susuh di Ngukir Wisata Alam (NGA), Kota Batu, Jawa Timur, Kamis (11/1/2018).
EditorI Made Asdhiana

KOTA BATU, KOMPAS.com - Ada wisata baru di Kota Batu, Jawa Timur yaitu Ngukir Wisata Alam (NWA). Tempat wisata ini berada di Dusun Ngukir, Torongrejo, Junrejo. Tempat wisata ini baru dibuka sekitar dua pekan lalu.

Sejak pintu masuk, pengunjung mendapat suguhan jalan berbatuan. Namun, kondisi jalan ini tidak berbahaya dilalui motor.

Tempat wisata ini memang belum sempurna. Namun, sudah ada beberapa gubuk dan ayunan yang tertata. Nantinya lahan seluas sekitar 2 hektar ini akan dibuat konsep wisata edukasi.

(Baca juga : Menikmati Sensasi Klasik di Pasar Apung Kota Batu)

Pengelola NWA, Erita Dian Safitri mengatakan ada lahan stroberi, durian, sawo hutan, cepeda yang disiapkan untuk pengunjung. "Biasanya kan memetik buah. Tetapi pengunjung di sini bisa menanam. Ada edukasinya," kata Erita kepada SuryaMalang.com, Kamis (11/1/2018).

Lahan ini sudah disiapkan di sisi belakang. Jadi pengunjung bisa memetik dan menanam dengan tenang.

(Baca juga : Warna-warni Kampung Merah Putih di Kota Tual...)

Dulunya lahan ini merupakan bekas lahan pertanian, seperti jeruk, dan cengkeh. Karena selalu gagal, akhirnya ditanam pohon kayu suren agar bisa dimanfaatkan untuk membuat gubuk, rumah susuh, rumah kayu, sampai ayunan.

Di sekitar lokasi wisata ini juga ada aktivitas penambang pasir galian C. Nantinya galian C itu digunakan untuk wahana tubing. "Kalau sudah jadi sempurna, tempat ini bisa dijadikan area bermain anak-anak. Apalagi aliran sungai ini sering dilalui rafting," katanya.

Selain itu ada juga aliran irigasi pertanian. Makanya tempat wisata ini lebih mengarah ke edukasi pertanian.

Masih banyak yang akan ditambahkan sebagai pelengkap wahana di sini, seperti camping ground, spot swafoto, dan sebagainya.

Tiket masuk ke area ini sebesar Rp 10.000. Tentu lokasi ini dibuat untuk memberdayakan masyarakat sekitar. “Konsepnya desa wisata dengan memberdayakan masyarakat sekitar, dan memanfaatkan lahan kosong. Pengelolahannya dibantu BUM-Des,” kata Erita. (Surya Malang)



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X