Kompas.com - 01/02/2018, 19:20 WIB
Permainan tradisional Egrang Bambu dan Egrang Bathok ditampilkan anak-anak dari Kecamatan Giri dalam Festival Memengan Tradsional 2017. Lebih dari 5000 anak terlibat dalam festival permainan tradisional Banyuwangi yang digelar Sabtu (22/7/2017). FIRMAN ARIF/KOMPAS.comPermainan tradisional Egrang Bambu dan Egrang Bathok ditampilkan anak-anak dari Kecamatan Giri dalam Festival Memengan Tradsional 2017. Lebih dari 5000 anak terlibat dalam festival permainan tradisional Banyuwangi yang digelar Sabtu (22/7/2017).
|
EditorWahyu Adityo Prodjo


JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya, menetapkan branding Banyuwangi sebagai “The City of Carnival and Festival”, saat peluncuran Top 77 Calender of Event Banyuangi Festival.

Menpar menjelaskan, dengan branding itu Banyuwangi telah ditetapkan sebagai satu di antara 10 destinasi yang di-branding atau co-branding Wonderful Indonesia.

Penobatan sebagai kota karnaval dan festival tersebut bukan tanpa alasan. Pertama ia mengatakan pertama, karena kesiapan unsur atraksi, amenitas, dan aksibilitas terutama konektivitas udara yang sangat siap.

Hal itu menurutnya, terlihat adanya maskapai dari Jakarta, Surabaya, dan Bali yang terbang ke Bandara Blimbingsari Banyuwangi.

“Untuk atraksi, Banyuwangi tercatat paling cepat berkembang karena melibatkan seluruh potensi masyarakat. Bila tahun 2012 baru ada 12 event, tahun 2017 meningkat menjadi 72 event, dan tahun ini menjadi 77 event dengan sejumlah event unggulan yang masuk dalam CoE WI 2018,” ujar Arief.

Wisatawan asing yang ikut berparade menggunakan koatum daerah di BEC 2017KOMPAS.COM/Ira Rachmawati Wisatawan asing yang ikut berparade menggunakan koatum daerah di BEC 2017

Ia mengatakan Banyuwangi jadi kota kecil yang paling banyak diambil acaranya menjadi 100 acara terbaik pariwisata Indonesia. Dari 77 festivalnya di 2018, ada tiga acara menjadi bagian dari program 100 Calender of Event Wonderful Indonesia (CoE WI) 2018.

Ketiganya ialah Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) masuk dalam TOP 10 Nasional Events (EoE WI), sedangkan International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI ) dan Gandrung Sewu masuk TOP 100 Nasional Events (CoE WI) 2018.

"Selain itu, kita juga sudah punya kriteria-kriterianya masing-masing. Berbagai event-nya (Banyuwangi) sudah konsisten, dikemas bagus sekali, dan terpenting bisa menghasilkan, terbukti dengan peningkatan income per kapita," terangnya.

Kuliner khas suku Osing, Pecel Pithik, dihidangkan dalam selametan masyarakat Desa Kemiren, Banyuwangi usai menggelar upacara adat Barong Ider Bumi untuk mengusir bencana dari bumi blambangan, pada hari kedua Lebaran 2017FIRMAN ARIF/KOMPAS.com Kuliner khas suku Osing, Pecel Pithik, dihidangkan dalam selametan masyarakat Desa Kemiren, Banyuwangi usai menggelar upacara adat Barong Ider Bumi untuk mengusir bencana dari bumi blambangan, pada hari kedua Lebaran 2017

Kunci keberhasilan

Dalam kesempatan yang sama Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengatakan, kekuatan pariwisata Banyuwangi adalah pada partisipasi seluruh lapisan masyarakat sehingga tercipta TOP 77 calender of event, dan diangkat menjadi "The City of Carnival and Festival".

"Partisipasi rakyat lah yang menjadikan sukses acara-acara itu. Selain itu juga kerjasama antar SKPD (Satuan Kerja Pemerintah Daerah) di Banyuwangi itu bagus. Semua event itu bukan hanya Dinas Pariwisata saja yang buat, tapi gabungan dinas lain," papar Azwar Anas.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata MY Bramuda menambahkan, puluhan bahkan ratusan festival terlaksana di Banyuwangi itu karna ada yang memulai dan telah merasakan manfaatnya. Bramuda menyebut masyakarta sadar dan mulai mengemasnya secara baik, kreativitas suatu daerah pun terus berkembang.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menggelar Festival Hadrah 2017 pada 10-11 Juni 2017. Lomba musik religi itu diikuti 152 kelompok musik dari 25 daerah. FIRMAN ARIF/KOMPAS.com Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menggelar Festival Hadrah 2017 pada 10-11 Juni 2017. Lomba musik religi itu diikuti 152 kelompok musik dari 25 daerah.

"60 persen dari acara di calender event Banyuwangi itu swadaya masyarakat. Hanya 40 persennya yang dari dinas dan menggunakan APBD," terang Bramuda pada KompasTravel.

Meski demikian, menurut Bramuda, pemerintah tidak lepas tangan terhadap ke 60 persen acara masyarakat. Justru pengakuan dari dinas pariwisata hadir, dan mendukung dengan berbagai promosi, sehingga bisa dikenal dan rakyat yang mengembangkannya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X