Kompas.com - 02/02/2018, 06:18 WIB
Penari Seblang menggendong boneka dan menari dalam keadaan kesurupan KOMPAS.COM/Ira RachmawatiPenari Seblang menggendong boneka dan menari dalam keadaan kesurupan
|
EditorI Made Asdhiana

JAKARTA, KOMPAS.com - Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan dari total 77 acara di Banyuwangi, Jawa Timur, beberapa festival banyak diminati turis asing atau wisatawan mancanegara (wisman).

"Tahun 2016 kunjungan wisatawan ke Banyuwangi sebanyak 77 ribu wisman dan 4 juta wisatawan nusantara (wisnus), tahun 2017 kunjungan wisman meningkat menjadi 91 ribu wisman dengan pendapatan devisa mencapai Rp 546 miliar," ujarnya setelah meluncurkan "Top 77 Calendar of Event Banyuwangi Festival", di Kementerian Pariwisata, Kamis (1/2/2018).

(Baca juga : Tahun 2018, Ada 77 Festival Wisata di Banyuwangi)

Kenaikan kunjungan wisman tersebut menurutnya karena beberapa faktor, termasuk berbagai atraksi wisata yang cocok dengan selera wisman, mulai terkenal.

Dari agenda unggulan Banyuwangi, Anas mengatakan ada banyak yang kian berpotensi mendatangkan wisman.

Penari Seblang membawa keris sebagai bentuk perlawanan. Seblang Bakungan digelar pada Minggu (10/9/2017)KOMPAS.COM/Ira Rachmawati Penari Seblang membawa keris sebagai bentuk perlawanan. Seblang Bakungan digelar pada Minggu (10/9/2017)
Hasil pengamatan pihaknya menyatakan wisman yang ke Banyuwangi lebih menyukai acara yang berbasis lokal adat.

"Wisman justru suka kegiatan yang kecil-kecil, lokal basisnya. Jadi wisman itu punya seleranya sendiri, tidak seperti yang kita bayangkan," ungkapnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

(Baca juga : Nostalgia di Pasar Jajanan Tradisional Banyuwangi)

Azwar mencontohkan seperti acara Seblang Olehsari, yang merupakan tarian adat. Seblang Olehsari dilakukan oleh orang desa yang tidak sadarkan diri selama beberapa hari. Tradisi ini pun sudah turun temurun ratusan tahun, hanya baru diketahui wisman sekarang.

Acara adat semacam itu menurutnya tidak bisa digelar di tengah kota, atau tempat ramai seperti acara-acara besar Banyuwangi. Namun, harus digelar di desa adat asalnya, bernama Desa Olehsari.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengikuti upacara Barong Ider Bumi yang digelar masyarakat Desa Kemiren Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (26/6/2017). Upacara adat Suku Osing itu dipercaya mampu menolak segala bentuk bencana.KOMPAS.COM/FIRMAN ARI Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengikuti upacara Barong Ider Bumi yang digelar masyarakat Desa Kemiren Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (26/6/2017). Upacara adat Suku Osing itu dipercaya mampu menolak segala bentuk bencana.
Selain bersifat lokal, menurutnya juga yang bersifat partisipatif, atau berbaur dengan warga dalam pelaksanaan acaranya. Seperti mencoba menari atau hanya sekadar interaksi di dalam acaranya.

"Acara semacam itu, kalau disediakan untuk orang Jakarta, nggak akan suka mereka. Sukanya yang fesyen-fesyen," terangnya.

Wisman yang datang ke Banyuwangi, dari data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi mayoritas berasal dari Eropa, Australia untuk destinasi pantai, dan Jepang.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.